Erabaru.net. Danau Nyos pernah merenggut lebih dari 1.700 nyawa dalam satu malam. Lebih dari 3 dekade kemudian, insiden tersebut masih digambarkan sebagai salah satu bencana alam paling aneh dalam sejarah.

Pada bulan Agustus 1986, dalam satu malam, 1.746 orang yang tinggal di dekat danau besar kehilangan nyawa bersama ribuan ternak.

(Foto: wikipedia.org)

Danau Nyos, di Kamerun, adalah danau kawah dan terletak di atas gunung berapi yang tidak aktif di dataran vulkanik Oku.

Awalnya, tidak jelas penyebab kematian itu, menggiring orang untuk membuat teori sendiri mulai dari roh hingga serangan kimia yang dilakukan oleh pemerintah.

Namun, seorang ahli vulkanologi dikirim untuk menyelidiki masalah tersebut dan berhasil mengumpulkan teka-teki tragis itu.

(Foto: wikipedia.org)

Ahli vulkanologi mengambil sampel air dari danau menggunakan botol, tetapi air menyebabkan tutupnya lepas. Ini menunjukkan bahwa air danau dipenuhi dengan karbondioksida terlarut.

Setahun kemudian, tinjauan komprehensif tentang tragedi itu diterbitkan yang menyalahkan bencana itu pada letusan limnic, yang menyebabkan pelepasan karbon dioksida secara tiba-tiba.

Sekitar 100.000–300.000 ton gas kemudian tumpah di bibir utara danau ke lembah tempat tinggal ribuan korban dan hewan. Desa yang terkena dampak terparah adalah Cha, Nyos, dan Subum.

Tapi darimana gas itu berasal? Menurut IFL Science, sistem vulkanik aktif yang diduduki Danau Nyos memiliki reservoir magmatik yang mengandung karbondioksida. Ini adalah fitur umum dari reservoir magmatik.

(Foto: wikipedia.org)

Saat magma mengalami tekanan yang lebih sedikit di dekat permukaan, ini biasanya memungkinkan karbondioksida keluar dari sebagian massa cair dan masuk ke permukaan. Jika ada danau di sana, gas akan meresap ke dalamnya dan akan keluar dari air seiring waktu tanpa masalah.

Namun, tidak demikian halnya dengan bencana tahun 1986, dan bukannya dilepaskan dengan kecepatan aman dan lambat, gas tersebut dilepaskan secara massal, yang menggusur udara di sekitarnya. Hal ini akhirnya menyebabkan 1.746 orang mati lemas, beberapa di antaranya dilaporkan masih tertidur hingga saat ini.

Hingga hari ini, masih diperdebatkan apa yang menyebabkan pelepasan karbondioksida dalam jumlah besar dengan begitu cepat.

Sementara kesimpulan masih belum bisa ditarik hampir tiga dekade kemudian, perubahan telah dilakukan pada danau untuk mencegah bencana serupa terjadi lagi. Otoritas Kamerun memasang sistem degassing di danau, serta sistem peringatan bertenaga surya, lapor IFL Science. (yn)

Sumber: Unilad

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular