oleh Wang Xiang

Media Amerika Serikat ‘Wall Street Journal’ menerbitkan editorial pada Minggu 21 Maret yang menyatakan bahwa pertemuan para diplomat tinggi komunis Tiongkok dan Amerika Serikat di Anchorage, Alaska menunjukkan bahwa komunis Tiongkok telah mencium kelemahan Amerika Serikat, dan pembicaraan tersebut merupakan peringatan dari Beijing kepada Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Artikel  ‘Wall Street Journal’  tersebut menyebutkan bahwa pidato yang dibuat oleh pejabat tinggi komunis Tiongkok di Alaska menunjukkan bahwa hubungan Amerika Serikat  dengan  komunis Tiongkok telah memasuki kenyataan tidak harmonis. Komunis Tiongkok sedang mencoba untuk melihat apakah dapat berinteraksi dengan Presiden Amerika Serikat  Joe  Biden seperti yang pernah terjadi terhadap mantan Presiden Barack Obama.

Pada saat yang sama, artikel tersebut menyerukan kepada pemerintahan Biden untuk menghadapi pelajaran dari pertemuan di Alaska, karena baik komunis Tiongkok, Rusia, Iran dan negara-negara musuh lainnya tampaknya telah mencium adanya kelemahan Amerika Serikat dan mencoba untuk menguji apakah mereka dapat memanipulasi otoritas Amerika Serikat, dan komunis Tiongkok itu adalah lawan yang paling mengancam.

Artikel tersebut mengulas percakapan utama antara kedua petinggi yang bertemu di Anchorage, Alaska pekan lalu. 

Pada konferensi pers sebelum berlangsungnya konsultasi formal, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengikuti prosedur untuk menyampaikan pidato selama 2 menit, sementara Yang Jiechi, direktur Komite Urusan Luar Negeri dari Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok menghabiskan hampir 20 menit – termasuk waktu penerjemahan, untuk mengkritik Amerika Serikat.

Meskipun serangan melalui ucapan Yang Jiechi ke Amerika Serikat sebenarnya adalah salinan dari kritik media Amerika terhadap pemerintah Amerika Serikat, Namun, tanggapan Blinken tampaknya tidak berguna setelah orang asing secara terbuka menyerang kepentingan dan nilai-nilai Amerika Serikat.

“Ini hanya sebuah pertemuan, tapi pertemuan ini telah menentukan nada untuk hubungan bilateral terpenting di dunia”. 

Dilaporkan bahwa pembicaraan pribadi dari delegasi Tiongkok juga sama kerasnya dengan pembicaraan publik. Pihak komunis Tiongkok secara jelas menyatakan bahwa setelah lengsernya Trump, Beijing berharap pemerintahan Biden dapat mentolerir kebijakan global Tiongkok sebagaimana yang dilakukan selama pemerintahan Obama.

Wall Street Journal memberitakan bahwa ini berarti bahwa Beijing menghendaki Amerika Serikat melemah, lemah dalam menanggapi serangan peretasan komunis Tiongkok dan pencurian hak kekayaan intelektual. 

Itu juga berarti bahwa Amerika Serikat perlu menangguhkan tujuan membentuk aliansi demokrasi di Asia untuk melawan komunis Tiongkok. Itu berarti bahwa Amerika Serikat harus menghentikan kritikan atau sanksi terhadap komunis Tiongkok melanggar komitmennya atas Deklarasi Bersama Tiongkok – Britania, ancaman untuk menyerang Taiwan, memenjarakan warga etnis Uighur di Xinjiang dan lainnya.

Meskipun dalam 2 bulan pertama menjabat, Biden sangat keras dalam ucapan menghadapi semua masalah di atas, Blinken dan Sullivan berhasil mengkonsolidasikan sekutu mereka di kawasan Indo-Pasifik sebelum pertemuan di Alaska, tantangan sebenarnya bagi Amerika Serikat adalah bagaimana menanggapi dengan baik upaya provokatif dari Beijing, Moskow, dan Teheran.

Komunis Tiongkok, Rusia dan Irak Semuanya Sedang Menguji Apakah Biden adalah Obama 2.0

Artikel tersebut menyebutkan bahwa masih jelas dalam ingatan para pemimpin komunis Tiongkok, Rusia, dan Iran mengenai bagaimana mereka mencapai tujuan mereka, seperti invasi Rusia dan pendudukan Krimea, memasuki wilayah Suriah ketika para internasionalis liberal yang sekarang berada di bawah Biden berkuasa selama periode Obama. 

Komunis Tiongkok mempromosikan militerisasi pulau dan terumbu karang buatan manusia di Laut Tiongkok Selatan dan mencuri rahasia Amerika. Iran meluncurkan kegiatan teroris di Timur Tengah melalui organisasi agen, juga memeras mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat  John Kerry di Perjanjian Nuklir Iran.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa ketiga wilayah ini sekarang sedang mengincar dan bersiap untuk menguji apakah pemerintahan Biden akan menjadi Obama 2.0. Pemerintahan Biden meminta Teheran untuk kembali ke negosiasi “Perjanjian Nuklir Iran” dipandang sebagai sikap lemah. Setelah Biden mengatakan Presiden Rusia Putin adalah “pembunuh”, Rusia pasti akan mengambil tindakan yang merugikan kepentingan Amerika Serikat.

Dari ketiga wilayah ini, komunis Tiongkok merupakan ujian terbesar bagi Amerika Serikat. Sekarang komunis Tiongkok menjadi semakin percaya diri, percaya bahwa Amerika Serikat sedang menurun dan Tiongkok sedang memiliki keuntungan strategis. 

“Pemikiran orang kuat di Beijing hari ini seperti di Uni Soviet tahun 1970-an. Mereka sangat yakin bahwa Amerika Serikat sedang melemah dan sudah saatnya Partai Komunis mendominasi dunia. Perbedaannya hanyalah pada kekuatan ekonomi komunis Tiongkok yang jauh lebih kuat daripada Uni Soviet saat itu”. Demikian tulis artikel itu.

Menghadapi Intimidasi dan Pelecehan Komunis Tiongkok, Taiwan Menjadi Tantangan Tersulit bagi Amerika Serikat di Masa Depan

Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa masa depan Taiwan akan menjadi tantangan terberat bagi Amerika Serikat. Taiwan, sebagai pusat produksi semikonduktor global, sangat penting bagi ekonomi Amerika Serikat dan ia juga merupakan mitra demokrasi utama bagi Amerika Serikat. Pemimpin komunis Tiongkok Xi Jinping menjelaskan bahwa merebut Taiwan adalah tugas utama, dan militer komunis Tiongkok juga sedang membangun sebuah kekuatan yang mampu menyerang dan menduduki Taiwan dengan cepat. 

Xi Jinping akan dengan senang hati untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat melalui penyelesaian masalah iklim, sebagai imbalan atas penanganan masalah Taiwan oleh Amerika Serikat.

“Ini adalah saat yang berbahaya karena kekuatan jahat besar di dunia semua ingin menguji tekad pemerintahan Biden. Sehingga Pertemuan Alaska adalah peringatan yang patut diperhatikan,” demikian tulis dalam artikel itu.

Pejabat Senior dari Komunis Tiongkok dan Amerika Serikat Menghadiri Konferensi Perubahan Iklim

John Kerry yang saat ini menjabat sebagai utusan khusus perubahan iklim pada 23 Maret  berpartisipasi dalam konferensi iklim online dengan utusan khusus komunis Tiongkok untuk perubahan iklim, Xie Zhenhua. Konferensi ‘Ministerial on Climate Action’ kali ini diselenggarakan oleh pihak komunis Tiongkok dan dihadiri oleh pejabat senior dari lusinan negara Eropa, Uni Eropa dan Kanada.

Ini adalah pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh komunis Tiongkok, Eropa, dan Kanada setelah pemerintahan Trump mengumumkan penarikan diri dari Perjanjian Paris pada tahun 2017. 

‘Wall Street Journal’ mengutip ucapan dari sumber yang mengetahui masalah tersebut memberitakan, bahwa partisipasi John Kerry dalam acara ini adalah untuk mengirimkan sinyal bahwa Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan urusan perubahan iklim.

Menurut sumber, ini adalah kontak resmi pertama antara John Kerry dan Xie Zhenhua selama 2 bulan ia menduduki jabatan dalam pemerintahan Biden. Kedua pejabat tersebut sebelumnya telah melakukan dialog informal tentang kemungkinan pembentukan mekanisme kontak yang lebih formal untuk menyelesaikan masalah iklim.

Mengingat dialog Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok pekan lalu yang cenderung seperti bertengkar, interaksi Kerry dengan Xie Zhenhua beberapa hari lalu, mungkin menjadi ujian lain dari strategi pemerintahan Biden terhadap komunis Tiongkok. Bagaimana merebut pengaruh global dan mengontrol teknologi utama sambil tetap mencapai kerja sama dalam berbagai masalah seperti perubahan iklim dan pandemi COVID-19.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat  dan badan perlindungan lingkungan komunis Tiongkok telah  memberi konfirmasi bahwa Kerry dan Zhenhua akan menghadiri konferensi iklim online pada Selasa. 

Pihak komunis Tiongkok menyatakan bahwa kedua pejabat tersebut tidak akan membuat kontak terpisah selama konferensi online. Dan, pihak Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat  tidak berkomentar terhadap apakah Kerry akan berinteraksi langsung dengan Xie Zhenhua. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular