China Insider – The Epoch Times

Pertemuan selama dua hari di Anchorage, Alaska tersebut merupakan pembicaraan tingkat-tinggi secara langsung antara Beijing dengan Washington sejak Presiden Amerika Serikat Joe Biden menjabat sejak  Januari 2021 lalu. 

Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Anthony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan, sementara pihak Tiongkok diwakili oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi dan diplomat senior kebijakan luar negeri Yang Jiechi. 

Delegasi Amerika Serikat menyatakan, “Kami juga akan membahas keprihatinan kami yang mendalam karena tindakan-tindakan yang dilakukan Tiongkok, yang mencakup di Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, serangan dunia maya di Amerika Serikat, paksaan ekonomi terhadap para sekutu kami. Setiap tindakan-tindakan ini mengancam tatanan berdasarkan aturan-aturan yang memelihara stabilitas global. Itulah alasannya mengapa tindakan-tindakan tersebut tidak hanya merupakan masalah-masalah di dalam negeri saja dan itulah alasannya mengapa kami merasa suatu kewajiban untuk mengangkat masalah-masalah ini di sini pada hari ini.”

Jake Sullivan mengatakan,”Sebuah negara yang percaya diri adalah mampu melihat kelemahan-kelemahannya sendiri dan tetap berupaya memperbaiki.”

Dengan segera, Yang Jiechi melalui seorang penerjemah mengatakan,”Saya mengakui kesalahan saya. Saat saya memasuki ruangan ini, seharusnya saya mengingatkan pihak Amerika Serikat untuk memusatkan perhatian pada nada kita masing-masing dalam kata-kata pembukaan, tetapi saya tidak melakukannya.”

Yang Jiechi menuduh gaya bicara pihak Amerika Serikat yang merendahkan. Yang Jiechi kemudian mencaci demokrasi Amerika Serikat yang dirujuknya sebagai sebuah demokrasi yang bentrok. Ia juga mengkritik perlakuan buruk terhadap kaum minoritas di Amerika Serikat serta kebijakan luar negeri dan perdagangan Amerika Serikat.

“Kami yakin bahwa adalah penting bagi Amerika Serikat untuk mengubah citranya dan untuk berhenti memajukan demokrasi Amerika Serikat di seluruh dunia. Banyak orang di Amerika Serikat sebenarnya hanya sedikit  merasa yakin dengan demokrasi Amerika Serikat,” kata Yang Jiechi.

“Tiongkok tidak akan menerima tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan yang dilontarkan pihak Amerika Serikat,” tambahnya. 

Wang Yi juga menghembuskan sanksi-sanksi yang diberikan Amerika Serikat terhadap para pejabat Tiongkok yang mendorong balik demokrasi di Hong Kong oleh Beijing sehari sebelum pembicaraan tersebut, dengan mengatakan,” Saya tidak berpikir ini adalah cara biasanya anda memperlakukan seorang tamu.”

Anthony Blinken tampak terganggu dengan periode waktu dan panjangnya komentar yang lebih dari 15 menit. Ia mengatakan kesan yang didapatnya dari berbicara dengan para pemimpin dunia dan ia baru saja mengakhiri perjalanan ke Jepang dan Korea Selatan adalah sungguh berbeda dari posisi Tiongkok.

“Saya mendengarkan kepuasan yang mendalam bahwa Amerika Serikat kembali dan kami kembali ikut serta. Saya juga mendengar keprihatinan yang mendalam mengenai beberapa tindakan yang dilakukan oleh pemerintahan anda.”

Menyertai pertukaran yang memanas, seorang pejabat senior pemerintahan mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengkritik pihak Tiongkok karena melanggar protokol pertemuan di mana setiap diplomat harus membatasi pernyataan pembukaan sekitar dua menit. Yang Jiechi mengakhiri pembicaraan lebih dari 15 menit. 

“Delegasi Tiongkok…tampaknya sombong, yang fokus pada hal-hal umum yang dibuat-buat dan dramatis. Presentasi diplomatik yang melebih-lebihkan sering ditujukan pada sebuah hadirin domestik.”

Gordon Chang, penulis “Coming Collapse of China” menyatakan pandangannya di Twitter mengenai drama yang terjadi di pertemuan tingkat-tinggi itu. 

Di masa lalu, para diplomat Tiongkok adalah licik, berpura-pura bersahabat dan bertanggung jawab. Namun, kini, para diplomat Tiongkok sudah keterlaluan. Yang Jiechi di Alaska menjatuhkan masker untuk menunjukkan wajah jahat Beijing yang sebenarnya.

Dalam sebuah pertukaran mail dengan grup media The Epoch Times, Gordon Chang menulis, “Rezim Tiongkok adalah sangat arogan pada saat itu. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping mendorong narasi propaganda bahwa ‘Timur sedang bersinar, dan Barat sedang mundur’.”

James Jay Carafano, Wakil Presiden untuk Studi-Studi Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan di Yayasan Heritage yang berada di Washington memberitahu grup media The Epoch Times bahwa pertunjukan Partai Komunis Tiongkok yang agresif adalah diplomasi prajurit serigala Beijing yang khas, yang kekuatannya meningkat beberapa tahun lalu. 

James Jay Carafano menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok baru-baru ini menggambarkan banyak pukulan balik global terhadap berbagai tindakan yang mencakup kerahasiaan Partai Komunis Tiongkok terhadap pandemi, tindakan keras di Hong Kong serta ancaman-ancaman oleh teknologi-teknologi Tiongkok seperti Huawei.

“Tanggapan Partai Komunis Tiongkok terhadap pukulan balik itu adalah untuk berupaya menggertak caranya melalui pukulan balik tersebut.”

“Bila pemerintahan Amerika Serikat mengharap Partai Komunis Tiongkok bersikap baik, saya pikir hal itu adalah cukup naif.”

 James Jay Carafano mengatakan,”Kata-kata para diplomat Tiongkok akan membantu pemerintahan Joe Biden mengenali bahwa tidak ada ruang kerjasama dengan Partai Komunis Tiongkok.”

“Kenyataan itu adalah terletak pada semua masalah-masalah penting, Tiongkok dan Amerika Serikat berada pada tempat yang sangat berbeda, dan hal yang paling sehat dan paling membangun adalah mengenali hal tersebut,” kata James Jay Carafano.

Serupa, Gordon Chang juga mengkritik minat-minat yang dinyatakan oleh pemerintahan Joe Biden yaitu bekerja sama dengan Tiongkok bila memungkinkan, seperti perubahan iklim dan non-proliferasi nuklir.

“Sayangnya, Joe Biden harus menyadari Komunis Tiongkok dan Amerika Serikat yang demokrasi tidak dapat berdampingan untuk jangka panjang.”

Senator Partai Republik, Rick Scott, dari Florida memberitahu grup media The Epoch Times bahwa ia tidak kaget bahwa pertemuan tersebut tidak berjalan dengan baik. 

“Komunis Tiongkok adalah musuh Amerika Serikat, dan tidak dapat dipercaya. Pemerintahan Joe Biden tidak dapat memenuhi tuntutan Sekretaris Jenderal Xi Jinping. Pemerintahan Joe Biden harus kuat dan jelas bahwa Amerika Serikat tidak akan bimbang dalam komitmennya mengenai hak-hak asasi manusia dan perlindungan terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.” (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular