Zheng Gusheng

Media lokal Myanmar, pada Selasa (23/3/2021) melaporkan bahwa pasukan Myanmar melepaskan tembakan saat penggerebekan di Mandalay. Seorang gadis berusia 7 tahun, ditembak di rumahnya dan meninggal dunia di rumah sakit.

Menurut laporan itu, tentara menyerbu masuk ke rumahnya dan bertanya apakah ada orang lain di rumah. Ayah gadis itu menjawab bahwa seluruh keluarga ada di sana, tentara itu berkata bahwa dia berbohong dan menembaknya. Tembakan itu mengenai gadis cilik yang dekat dengan ayahnya. Selain itu, dua orang lainnya tewas di wilayah yang sama.

Kelompok Myanmar “Aid for Political Prisoners” (AAPP) menyatakan bahwa, sejauh ini sedikitnya 275 pengunjuk rasa telah tewas dalam penindasan bersenjata tersebut. Gadis berusia 7 tahun itu adalah korban termuda sejak kudeta 1 Februari 2021.

Pembunuhan gadis kecil yang tidak bersalah menyebabkan kemarahan rakyat Myanmar. Malam itu, pengunjuk rasa mengadakan nyala lilin di Yangon dan kota-kota lain.

Selain itu, untuk menghindari lebih banyak korban, pengunjuk rasa sipil mengubah strategi mereka dan mengadakan pemogokan secara “diam-diam” sehari pada hari Rabu 24 Maret. Mereka mendesak dunia usaha untuk menutup pintu mereka. Warga diserukan tinggal di rumah daripada menghabiskan waktu di jalanan .

VOA News mengutip para saksi yang melaporkan terjadinya pemogokan secara “diam-diam” berdampak besar di Yangon dan kota-kota lain. Jalanan hampir kosong kecuali sesekali orang lewat dengan mobil atau sepeda.

Lebih dari 2.000 pengunjuk rasa telah ditangkap dan ditahan di Myanmar. Pada Rabu (24/3), militer membebaskan beberapa pengunjuk rasa dengan isyarat “itikad baik.” Menurut perkiraan Associated Press dan Agence France-Presse, lebih dari 600 orang telah dibebaskan. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Uni Eropa baru saja mengumumkan sanksi baru terhadap pejabat militer Myanmar.

Pada 1 Februari, militer Myanmar menuding terjadinya kecurangan dalam pemilu pada 8 November tahun lalu. Militer kemudian mengirim pasukan untuk menahan pejabat pemerintah sipil dan mengambil alih kekuasaan. Selanjutnya, protes anti-kudeta yang terus menerus meletus di seluruh negeri. Militer meluncurkan tindakan penindasan brutal.

Setelah kudeta Myanmar, pemerintah Komunis Tiongkok secara konsisten menolak mengutuk militer Myanmar. Rakyat Myanmar curiga bahwa Komunis Tiongkok mendukung kudeta dan memberikan dukungan teknis dan material kepada tentara Myanmar. (hui)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular