oleh Bowen Xiao

Berita utama yang mengerikan baru-baru ini berkembang di media sosial dan industri berita yang menggambarkan orang-orang Amerika keturunan Asia, sebagai korban dari serentetan serangan yang meningkat, baik serangan verbal maupun serangan fisik. Meneliti apa yang ada di balik tren tersebut membutuhkan sebuah pandangan yang lebih mendalam mengenai sebuah masalah yang kompleks dan beragam. 

The Epoch Times berbicara dengan hampir puluhan orang dari berbagai  latar belakang, keahlian, dan pengalaman pribadi. Orang-orang ini mencakup orang-orang Amerika keturunan Asia yang pernah mengalami rasisme secara langsung, pengacara dengan keahlian mengenai kejahatan rasial, mantan petugas penegak hukum, ahli keamanan masyarakat, cendekiawan, aktivis, dan lainnya.

Rasisme selalu ada, dan dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang Asia semakin menjadi mangsa kejahatan-kejahatan bermotif rasial, meskipun luasnya masalah tersebut bervariasi tergantung pada sumbernya. Kejahatan-kejahatan kebencian secara historis kurang dilaporkan, dan sebagian besar korban, terutama para imigran, ragu-ragu melaporkan apapun kepada pihak berwenang. Data nasional yang dapat diandalkan mengenai kejahatan-kejahatan kebencian anti-Asia, dan sejarah di baliknya, adalah juga langka.

Menurut data dari organisasi nirlaba Stop AAPI Hate, ada 3.795 insiden yang dilaporkan dari  9 Maret 2020 hingga 28 Februari 2021. Pelecehan verbal menyumbang 68 persen dari semua laporan itu, sementara serangan fisik menyumbang lebih dari 11 persen. Laporan tersebut, berisi pengkuan korban-korban yang mengalami langsung yang merincikan penggunaan penghinaan rasial dan kejadian-kejadian pengucilan.

Orang-orang menghadiri acara untuk para korban kejahatan kebencian anti-Asia di Union Square di New York pada 19 Maret 2021. (Chung I Ho / The Epoch Times)

Data federal menunjukkan bahwa ada 158 kasus kejahatan-kejahatan kebencian anti-Asia yang dilaporkan pada tahun  2019 oleh lembaga-lembaga kepolisian kepada FBI, naik dari 148 kasus tahun sebelumnya; data yang lebih baru belum dirilis. 

Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme di California State University mengatakan bahwa, kejahatan-kejahatan kebencian anti-Asia melonjak di 16  kota-kota terbesar di Amerika sebesar 149 persen pada tahun 2020, menurut sebuah analisis data resmi pendahuluan kepolisian. Lonjakan pertama terjadi pada bulan Maret dan April ketika Amerika Serikat mulai menerapkan karantina terhadap pandemi virus Partai Komunis Tiongkok.

Seorang sarjana yang bersaksi di depan Komite Kehakiman DPR pada 18 Maret, pada sidang bertajuk “Diskriminasi dan Kekerasan Terhadap Orang-Orang Amerika Keturunan Asia,” mengatakan bahwa sementara beberapa pelanggaran adalah tidak diragukan lagi dimotivasi oleh bias, yang terbaik adalah “berhati-hatilah saat menafsirkan tren yang lebih luas hanya sebagai lonjakan dalam kejahatan-kejahatan kebencian,” karena kejahatan-kejahatan kebencian ini “harus dipahami sebagai bagian sebuah lonjakan kekerasan yang lebih besar.”

Charles Fain Lehman, seorang rekanan di Institut Manhattan yang bekerja terutama pada Policing and Public Safety Initiative dari institut tersebut, bersaksi bahwa sementara beberapa serangan baru-baru ini jelas-jelas disebabkan oleh bias rasial, alasan di balik serangan-serangan lainnya adalah tidak begitu jelas. Ia membesarkan Yahya Muslim, seorang tunawisma yang ditangkap, karena mendorong tiga orang dewasa Asia di Pecinan di Oakland. 

Seorang pengacara pembela Muslim menyalahkan serangan-serangan tersebut pada riwayat penyakit mental yang dideritanya dan mengklaim bahwa narasi lain adalah “salah, menyesatkan, dan memecah belah.” Charles Fain Lehman mencatat sejumlah kasus serupa.

“Saya cukup yakin bahwa peningkatan kriminalitas secara umum adalah bagian faktor pendorong peningkatan yang lebih khusus ini, meskipun mungkin tidak sepenuhnya apa yang memicu hal tersebut,” kata Charles Fain Lehman kepada The Epoch Times.

Kriminolog Jeff Asher memperkirakan bahwa tahun 2020, memperlihatkan  tercatat lonjakan pembunuhan satu-tahun terbesar, karena pembunuhan meningkat lebih dari 30 persen di hampir 40 kota besar. Tren ini tampaknya terus berlanjut hingga tahun ini, menurut data baru.

“Pola itu muncul di kota-kota tempat penduduk Asia diserang,” Charles Fain Lehman mengatakan dalam kesaksiannya, di mana ia juga menyebut serangan-serangan kekerasan itu sebagai “sebuah  produk kriminal yang berkeliaran bebas.”

Orang-orang menghadiri acara untuk para korban kejahatan kebencian anti-Asia di Union Square di New York pada 19 Maret 2021. (Chung I Ho / The Epoch Times)

Charles menambahkan,”Jika ada yang harus disalahkan atas teror yang kini melanda orang-orang Amerika keturunan Asia, itu adalah kelalaian para pejabat publik dalam mengemban  tugasnya untuk menjaga keamanan masyarakat.”

Selalu ada bahaya jika salah mengidentifikasi kejahatan-kejahatan kebencian, kata Charles Fain Lehman, yang mencatat bahwa biaya-biaya terkait dapat membawa penalti tambahan yang substansial dalam hal tahun dilayani.

“Menurut saya, orang-orang yang membuat argumen ini seringkali adalah orang-orang yang berpikiran sama bahwa sistem peradilan kita terlalu menghukum,” kata Charles Fain Lehman kepada The Epoch Times. “Jika seorang pria tunawisma yang sakit jiwa menuntut tiga orang dewasa Asia dan menjegal mereka, Charles menilai bagaimana kita menghadapi pria tunawisma tersebut tanpa harus memberinya 10 tahun atas berbagai kejahatan-kejahatan kebencian.

“Adalah penting untuk melawan kefanatikan dan rasisme. Tetapi tanggapan terbaiknya adalah, untuk menjaga keamanan orang-orang, dan alat terbaik untuk menjaga keamanan orang-orang adalah  sistem keadilan kriminal.

“Sangat sulit untuk mengubah pikiran orang-orang yang fanatik dan rasis; adalah jauh lebih mudah untuk menjaga jalan-jalan tetap aman. Itu berarti sepenuhnya mendanai departemen-departemen kepolisian. Itu  berarti menempatkan lebih banyak polisi untuk bertugas, terutama di  lingkungan orang-orang Amerika keturunan Asia.”

Namun, beberapa aktivis dan kelompok berpendapat bahwa, solusi yang awet untuk  masalah tersebut akan lebih kompleks dari sekedar mengirim lebih banyak petugas polisi ke komunitas orang-orang Asia.

Setidaknya dalam beberapa keadaan, “pandemi global telah memicu kejahatan-kejahatan kebencian yang spesifik terhadap orang-orang Asia,” menurut Brian Higgins, seorang pensiunan kepala Polisi Kabupaten Bergen di New Jersey, di mana ia bertugas selama 27 tahun.

Brian Higgins, dosen tambahan di John Jay College of Criminal Justice, mengatakan setiap kali ada sebuah populasi besar dari generasi pertama orang Amerika atau imigran, seperti di New Jersey dan New York City di mana ada arus  masuk orang Tiongkok, Jepang, dan Korea, banyak orang yang enggan melapor kejahatan kepada polisi.

“Karena anda berada di negara lain, kebudayaannya adalah tidak mempercayai polisi, Mereka menyimpannya dalam komunitas mereka sendiri,” kata Brian Higgins memberitahu The Epoch Times.

Kabupaten Bergen, tempat Brian Higgins menghabiskan sebagian besar karier penegakan hukumnya, memiliki  populasi orang-orang Korea-Amerika yang signifikan. Brian Higgins mengatakan itu populasi imigran ini tumbuh, “anda akan memiliki, seperti yang anda bayangkan, lebih banyak kejahatan — entah itu secara khusus kejahatan-kejahatan kebencian atau tidak — yang melibatkan orang-orang Asia.”

Tetapi Brian Higgins juga memperingatkan mengenai upaya menggali motivasi-motivasi yang mendasarinya dalam kasus-kasus tertentu.

“Saya pikir yang kadang terjadi adalah kita adalah terlalu teknis, Saya pikir seseorang dapat mengenali sebuah subjek yang tidak diketahui dengan cara mengamati kebiasaan subjek tersebut yang khas,” kata Brian Higgins. 

Cerita-Cerita Pribadi

Ketika gelombang insiden-insiden baru-baru ini mendapat perhatian, orang-orang Amerika keturunan Asia mulai menceritakan kisah-kisahnya mengalami rasisme saat tumbuh dewasa. 

Banyak  para imigran orang Asia pindah ke Amerika Serikat dengan harapan masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Carolyn Kamii

Keluarga Carolyn Kamii pertama kali berimigrasi dari Jepang ke California lebih dari seabad yang lalu. Mereka tiba di Los Angeles selama tahun 1890-an dan membeli tanah pertanian, yang mereka garap sampai mereka dipaksa menyerahkan tanah pertanian tersebut selama penahanan orang Amerika keturunan Jepang selama Perang Dunia II.

“Rasisme terhadap orang Asia bukanlah hal baru bagi saya, tumbuh dewasa di Los Angeles,” kata Kamii kepada The Epoch Times. 

“Keluarga saya mengalami banyak hal sejak mereka tiba pada abad ke-19 . … Los Angeles di awal abad ke-20 sangat membenci imigran, terutama orang Asia.”

Paman buyut Carolyn Kamii adalah Hakim John Aiso — orang Asia pertama yang ditunjuk di  Pengadilan Tinggi Los Angeles. Sebagai seorang anak, John Aiso dipilih sebagai ketua kelas SMP oleh  teman-teman sebayanya, tetapi para orang tua kulit putih memprotes tindakan tersebut, dengan mengatakan seorang Jepang seharusnya tidak menjadi ketua kelas. 

John Aiso juga memenangkan sebuah posisi oratoris nasional saat masih seorang  murid SMA Hollywood, tetapi terpaksa mundur dan menjadi pemenang kedua. Ia kemudian menuntut ilmu di Fakultas Hukum Harvard.

Carolyn Kamii yakin insiden-insiden baru-baru ini “melampaui virus tersebut”, dalam hal apa yang memicu  insiden-insiden itu. Carolyn Kamii menyebutkan sebuah cerita Los Angeles Times mengenai sebuah keluarga Tionghoa yang pindah ke Ladera Heights, sebuah lingkungan kulit putih kelas-menengah tahun lalu dari Covina, sebuah daerah yang kurang makmur, dan diganggu selama berbulan-bulan sepanjang malam. 

Hal tersebut menjadi sebuah masalah sehingga tetangga-tetangga keluarga Tionghoa tersebut turun tangan untuk membantu berjaga-jaga melawan para peleceh mereka di malam hari.

Seorang wanita memegang tanda karton bertuliskan nama-nama korban penembakan di Atlanta, pada acara peringatan untuk korban kebencian Asia, di New York pada 19 Maret 2021. (Chung I Ho / The Epoch Times)

“Saya pikir hal ini berkaitan dengan bagaimana kebudayaan yang membuat terobosan ke komunitas kulit putih kelas-menengah dianggap oleh kelas yang ada,” kata Carolyn Kamii. 

“Saya pikir episode-episode terbaru ini adalah sebuah kelanjutan dari bagaimana budaya kulit putih merasa minoritas-minoritas mulai mengambil posisi-posisi otoritas masyarakat, menempati tempat-tempat di kelas menengah, ‘maju’, dan lain-lain — sebagian merasa takut, sebagian merasa iri.”

Christopher Rim, seorang Amerika keturunan Asia yang adalah pendiri dan CEO Command Education, sebuah konsultasi pendidikan dan penerimaan yang berkantor pusat di New York City, mengatakan bahwa kejahatan-kejahatan kebencian dan sentimen-sentimen anti-Asia “selalu ada di negara ini.”

“Kami telah melihatnya sepanjang sejarah negara ini, tetapi di masa lalu, kejahatan-kejahatan kebencian anti-Asia telah melonjak mengikuti kata-kata dan tindakan-tindakan Presiden Donald Trump di tengah pandemi Coronavirus,” kata Christopher Rim kepada The Epoch Times. 

“Kita harus meninjau kembali undang-undang kejahatan-kejahatan kebencian untuk melindungi orang-orang kulit berwarna dengan lebih baik dan komunitas kita.”

Donald Trump membantah bahwa menggunakan istilah “virus Tiongkok” ada hubungannya dengan ras. “Virus Tiongkok sama sekali tidak rasis, Virus Tiongkok berasal dari Tiongkok. Itu alasannya.” Kata Donald Trump pada bulan Maret 2020. 

Virus-virus seringkali dinamai menurut tempat asalnya, seperti biasanya dalam penamaan Penyakit-penyakit.   The Epoch Times, karena keprihatinannya, membuat keputusan pada Maret 2020 untuk menyebut virus tersebut sebagai “virus  Komunis Tiongkok,” untuk mencerminkan peran Partai Komunis Tiongkok yang gagal mengendalikan penyebaran virus tersebut ke seluruh dunia.

Pejabat Partai Komunis Tiongkok tahu bahwa virus tersebut telah muncul di Wuhan pada awal bulan Desember 2019, tetapi menunggu informasi selama enam minggu di mana para penduduk setempat dan pengunjung tetap datang dan pergi, sehingga menyebarkan virus tersebut ke seluruh dunia tanpa hambatan. 

Para pejabat Partai Komunis Tiongkok, menangkap orang-orang yang berupaya memperingatkan bahaya tersebut, menuduh orang-orang itu menyebarkan “desas-desus.” Sementara itu, juga mempekerjakan sensor ketat rezim komunis Tiongkok  untuk mencegah liputan media dan menghapus semua yang menyebutkan bahaya tersebut dari media sosial.

Jason Miller, juru bicara dan penasihat mantan presiden, tidak  menanggapi saat konferensi pers atas permintaan dari The Epoch Times untuk komentar mengenai  penggunaan istilah “virus Tiongkok” oleh Donald Trump.

Art Chang, seorang Amerika keturunan Asia yang mencalonkan diri sebagai Walikota New York City, mengatakan salah satu alasan ia pindah ke New York City pada tahun 1985 “adalah untuk menghindari rasisme di Ohio, tempat saya dibesarkan, dan New Haven, Connecticut, tempat saya mengenyam pendidikan di  perguruan tinggi.”

“Saya kadang dipanggil ‘gook’ (orang Korea), ‘chink’ (orang Tiongkok) dan ‘charlie’ (orang bedoh) selama bertahun-tahun, tetapi jauh berbeda dari apa yang saya alami sebelumnya,” kata Art Chang kepada The Epoch Times.

Art Chang mengatakan ia belum pernah melihat tingkat dukungan komunitas dan energi saat ini mengarah ke organisasi-organisasi orang Amerika keturunan Asia.

Beberapa orang, seperti Sheena Yap Chan, seorang pembicara utama, podcaster, dan penulis orang Amerika keturunan Asia, menyalahkan masalah tersebut pada “model mitos minoritas,” sebuah istilah biasa yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kelompok minoritas yang “dianggap sebagai kelompok minoritas karena terutama berhasil, terutama dengan sebuah cara yang kontras dengan kelompok-kelompok minoritas lainnya,” menurut sebuah laporan dari Fakultas Hukum Harvard.

“Namun, mungkin aspek yang paling bermasalah dari argumen minoritas model adalah kelemahan metodologis yang mendasari — sebuah ketidakmampuan untuk menjelaskan komposisi bernuansa komunitas orang-orang Amerika keturunan Asia itu sendiri,” catatan laporan itu. Art Chang mengatakan kepada The Epoch Times, bahwa  mitos minoritas model “telah merendahkan martabat  wanita Asia dalam masyarakat saat ini.”

“Wanita-wanita cenderung kurang melaporkan sebuah kejahatan karena terkait bagaimana kita dibesarkan,” kata Art Chang. 

“Ketika sesuatu yang traumatis terjadi, kami biasanya menyimpannya untuk diri kita sendiri atau mengabaikan bahwa hal tersebut telah terjadi. Juga, tumbuh dalam kebudayaan Asia, kami ingin menyelamatkan muka dan tidak pernah mencoreng nama keluarga bahkan jika pengalaman traumatis itu bukanlah  kesalahan kami. … Kami akhirnya menjadi sasaran empuk.”

Orang-orang Amerika keturunan Asia dalam beberapa tahun terakhir, juga menuduh perguruan tinggi Ivy League  sebagaimana Harvard mendiskriminasi perguruan tinggi Ivy League,  sebagai upaya lembaga untuk memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok ras yang kurang terwakili di sekolah mereka.

Penulis dan jurnalis Kenny Xu, yang menulis buku “An Inconvenient Minoritas,” memberitahu The Epoch Times, baru-baru ini bahwa orang-orang Amerika keturunan Asia telah merepotkan narasi kaum kiri mengenai kaum kulit putih yang memiliki hak istimewa dan orang-orang kulit berwarna yang tertindas.

“Hal tersebut menimbulkan ketegangan mendasar ini, saya pikir, dalam masyarakat kita, terutama kebudayaan ‘tersadar’ di masyarakat kita, yang terjadi ketika anda mengistimewakan narasi  minoritas-minoritas tertentu di atas minoritas-minoritas yang lain, karena orang-orang Amerika keturunan Asia seringkali berada di urutan kelas kedua dalam narasi rasial kaum kiri saat ini,” kata Kenny Xu.

Sementara itu, beberapa sastrawan dan cendekiawan orang Amerika keturunan Asia seperti Wenyuan Wu, direktur eksekutif di Californians for Equal Rights, dan Melissa Chen, Editor New York di The Spectator, telah memperingatkan agar tidak berupaya menyelesaikan  masalah-masalah dengan menggunakan politik ras dan politik identitas, yang memperingatkan bahwa hal tersebut memiliki akibat-akibat yang berbahaya.

Hukum-Hukum Kejahatan Kebencian dan Reformasi Jaminan

Hukum-hukum kejahatan kebencian, telah menjadi subyek banyak perdebatan dalam beberapa tahun terakhir. FBI telah mendefinisikan sebuah kejahatan kebencian sebagai sebuah “tindak pidana terhadap seseorang, atau properti yang dimotivasi secara keseluruhan atau sebagian oleh bias pelaku terhadap suatu ras, agama, ketidakmampuan, orientasi seksual, etnis, jenis kelamin, atau identitas gender.”

Definisi FBI tersebut menyatakan bahwa, “kebencian itu sendiri bukanlah sebuah kejahatan — dan FBI adalah berhati-hati dalam melindungi kebebasan berbicara dan kebebasan sipil lainnya.”

David Clark, seorang pengacara di kantor Hukum Clark yang berbasis di Michigan, mengatakan 

hukuman kejahatan kebencian adalah jarang terjadi, “karena kebutuhan akan sebuah niat yang terbukti kapan menghukum seseorang atas tuduhan ini, terutama karena niat tersebut adalah pasti tanpa keraguan.”

“Tuduhan pembunuhan adalah lebih lazim karena bersifat langsung, dengan memanfaatkan kejahatan itu sendiri sebagai bukti yang cukup untuk membuktikan validitas tuduhan,” kata David Clark kepada The Epoch Times. “Namun, kejahatan kebencian membutuhkan cara-cara yang lebih keras dan lebih kompleks, untuk mengamankan sebuah hukuman, sehingga membuat para tersangka lebih sulit untuk dituntut.”

David Clark mengatakan “adalah sangat sulit” untuk menuntut seseorang dengan kejahatan kebencian karena cara hukum-hukum ditulis. “Anda harus masuk ke dalam pikiran seseorang” dan membuktikan anda tahu pikiran orang tersebut pada saat itu, kata David Clark sambil menambahkan bahwa, seringkali satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan memeriksa postingan-postingan media sosial tersangka, atau email dan teks tersangka.

“Jika seseorang pergi ke sebuah lingkungan yang memiliki populasi orang-orang Amerika keturunan Asia yang banyak dan melakukan sebuah kejahatan terhadap salah satu dari orang-orang itu,… apakah  orang tersebut yang secara khusus pergi ke lingkungan itu untuk menargetkan sebuah kelompok tertentu?” Brian Higgins memberitahu The Epoch Times.

Brian Higgins juga memperingatkan mengenai alasan tuduhan kejahatan kebencian. “Kami ingin membasmi rasisme, kami ingin mencegah kejahatan-kejahatan kebencian, bukan? Tetapi bagaimana jika saya tidak  membenci anda karena warna kulit anda dan aku menghajar anda — haruskah saya dituntut sesuatu yang kurang?”Brian Higgins berkata. “Ini adalah masih sebuah kriminal kekerasan terhadap seorang manusia.”

Para petugas polisi sering dikirim untuk menanggapi lonjakan kejahatan, kata Brian Higgins, tetapi ada juga tanggapan lain, seperti keterlibatan komunitas dan kesadaran akan masalah tersebut. Brian Higgins memperingatkan bahwa, orang-orang harus berhati-hati untuk tidak  mempolitisasi masalah tersebut.

Hukum-hukum reformasi jaminan juga perlu diubah, dan berpotensi dihapus, menurut Brian Higgins. 

Saat terjadi sebuah lonjakan serangan anti-Semit  tahun lalu di New York, para pemimpin dan penduduk Yahudi mengatakan kepada The Epoch Times itu hukum-hukum reformasi jaminan yang baru di New York — yang membebaskan para pelanggar dari penjara tanpa  membayar uang jaminan — adalah terlalu lunak, dengan mengatakan hal tersebut mendorong para penyerang untuk kembali melakukan pelanggaran.

“Memikirkan kembali perubahan hukum-hukum jaminan secara pasti akan mengurangi  kejahatan-kejahatan kebencian,” kata Brian Higgins. 

Brian Higgins mengatakan, Tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa ini adalah akibat langsung, tetapi sejauh mana ia tidak benar-benar mengetahuinya. Jika anda melihat kapan reformasi jaminan munculi, maka lonjakan-lonjakan kejahatan adalah sangat erat kaitannya.

“Tidak ada rasa takut masuk penjara lagi. Ada banyak contoh orang-orang yang telah melakukan banyak kejahatan selama beberapa hari ditangkap dan dibebaskan, ditangkap dan dibebaskan.”

Charles Fain Lehman mengatakan kepada The Epoch Times: “Bahkan jika 90 persen orang yang anda dibebaskan dengan jaminan tidak melakukan kejahatan lagi, maka 10 persen lainnya orang yang anda dibebaskan dengan jaminan, akan kembali melakukan pelanggaran. Kita tahu bahwa kejahatan adalah fenomena yang sangat terkonsentrasi. Seorang peramal yang baik untuk menjadi pelaku kriminal adalah dengan menjadi seorang pelanggar kriminal.”

Eksploitasi Partai Komunis Tiongkok

Di tengah semua ini, Partai Komunis Tiongkok tidak ragu-ragu dalam mengeksploitasi narasi baru-baru ini untuk mendorong propagandanya sendiri dan untuk semakin memecah belah Amerika Serikat, menurut para pakar, aktivis hak asasi manusia, dan jurnalis, yang  menunjukkan bahwa rezim Tiongkok telah mempersenjatai rasisme dengan cara menggabungkan  kritik terhadap Partai Komunis Tiongkok, dengan diskriminasi terhadap orang-orang Tiongkok.

Adrian Zenz, seorang rekan senior di bidang studi-studi mengenai Tiongkok  belajar di the Victims of Communism Memorial Foundation, yang mengungkap pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok, mengatakan ada “tren baru mempersenjatai rasisme untuk menentang beasiswa di Tiongkok.”

Adrian Zenz menulis di sebuah postingan di Twitter, bahwa media yang agresif yang dikelola Partai Komunis Tiongkok The Global Times menuduh Adrian Zenz dan jurnalis Washington Post Josh Rogin “untuk bertanggung jawab atas rasisme anti-Asia di Amerika Serikat”. Keduanya telah mengkritik pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan rezim Tiongkok terhadap warga Tiongkok.

“Sebelumnya, beberapa di media sosial menuduh para cekdekiawan yang meneliti operasi-operasi pengaruh orang-orang Tiongkok di Barat yang ‘bertanggung jawab atas kematian’ (sebuah istilah yang juga digunakan untuk melawan saya dalam serangan online baru-baru ini),” tulis Adrian Zens di Twitter.

“Mempersenjatai rasisme terhadap bentuk-bentuk beasiswa tertentu di Tiongkok, berfungsi untuk memperbesar divisi yang ada dan mempromosikan informasi yang salah dan kesalahpahaman daripada pekerjaan bernuansa ilmiah. Akhirnya, hal tersebut  hampir sama berbahayanya dengan rasisme itu sendiri.”

Sebuah artikel tanggal 12 Maret di Foreign Policy mencatat bahwa, “sementara Moskow berusaha untuk menyamar sebagai seorang pemimpin bagi orang-orang tertindas di seluruh dunia, Beijing sebagai gantinya berusaha untuk menampilkan dirinya sebagai kepala diaspora Tionghoa global.”

Reporter Melissa Chan baru-baru ini membagikan artikel yang sama di akun Twitter-nya dan menambahkan tanggapannya.

“Yang selaras dengan saya mengenai karya ini adalah para penulis -Amerika keturunan Asia  mengenali objektivitasnya dalam kedua contoh: kebencian anti-Asia dari rasis yang melihat orang-orang Asia adalah kurang manusiawi, dan Partai Komunis Tiongkok yang menggunakan etnis Tionghoa sebagai pion-pion politik,” tulis Melissa Chan pada  16 Maret.

“Siapapun yang berpikir kita seharusnya hanya fokus pada satu dan tidak fokus pada yang lain tidak dapat tampak menemukan kemungkinan untuk melakukan dua pekerjaan pada saat yang bersamaan. Tetapi itu adalah Twitter untuk anda.”

Nathan Law, seorang aktivis pro-demokrasi Hong Kong terkemuka, berbagi sebuah sentimen serupa. Dalam sebuah posting di Twitter tanggal 18 Maret, ia menjelaskan bagaimana cara Partai Komunis Tiongkok menyebarkan fitnahnya sebagai “fitnah yang menjijikkan,” mengacu pada sebuah artikel oleh The Global Times, yang menuduh The New York Times dan Melissa Chan “menghasut kebencian melawan kelompok-kelompok Asia, karena laporan-laporan mereka yang bias dan tidak berdasar.”

“Partai Komunis Tiongkok menggambarkan semua orang Tionghoa sebagai pengikut diktator, menstigmatisasi citra rakyat lebih dari apa pun,” tulis Nathan Law. 

Selain itu dikatakan : “Jutaan orang Uyghur berada dalam kamp-kamp konsentrasi karena kebencian Partai Komunis Tiongkok terhadap agama dan keragaman. Sangat munafik.”

 Melissa Chen mengecam narasi propaganda yang mengkritik rezim Tiongkok atau penanganannya terhadap pandemi, “harus berarti anda adalah seorang rasis yang meremehkan motif rasial si penembak.”

“Tentunya anda melihat masalah tersebut dengan mengaitkan kritik politik suatu bangsa dengan rasisme?” tulis Melissa Chan dalam serangkaian postingan Twitter. 

“Dan, pasti anda melihat siapa yang memiliki manfaat ini? Penggabungan ini adalah tidak jujur ​​dan berbahaya, dan pada dasarnya adalah membantu raksasa bagi operasi-operasi psikologis Partai Komunis Tiongkok. Media kita bahkan telah meninggalkan kepura-puraan mencari kebenaran dan secara surut menyesuaikan cerita-cerita dengan kerangka kerja prasangka sebelumnya.” (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular