Tracy Gleason

Cobalah Anda mengunjungi kelas prasekolah mana pun saat mereka sedang bermain-main di luar pelajaran, kemungkinan besar Anda akan melihat seorang anak sedang bermain peran menjadi orang lain. Bermain peran sering ditemui pada anak usia dini. 

Selain menyenangkan bagi anak- anak, bermain peran dan jenis permainan imajinatif lainnya juga diyakini oleh beberapa orang merupakan bagian penting untuk perkembangan masa kanak-kanak yang sehat.

Penelitian menemukan hubungan antara bermain peran dan kreativitas anak yang sedang berkembang, memahami orang lain, dan kompetensi sosial dengan teman sebayanya.

Sebagai seorang psikolog yang mempelajari permainan imajiner dan perkembangan masa kanak-kanak serta tidak asing dengan kelas prasekolah, saya telah bertemu banyak anak yang memiliki teman imajiner atau meniru karakter tertentu dan menganggapnya lebih dari sekadar hiburan yang menyenangkan. Kegiatan semacam itu sering kali mencerminkan apa yang ada di benak anak-anak.

Jadi, bagaimana permainan imajiner dapat membawa manfaat bagi anak-anak? Dan apakah permainan imajiner membuat anak-anak menjadi lebih cerdas secara sosial? Ataukah anak-anak yang lebih mahir dalam bersosialisasi cenderung lebih sering melakukan permainan semacam ini?

Belajar berpikir dari perspektif yang berbeda

Bermain imajiner dapat mendorong perkembangan sosial karena anak-anak memainkan peranan sebagai diri mereka sendiri sekaligus sebagai orang lain. Ini memberi mereka kesempatan untuk menjelajahi dunia dari perspektif yang berbeda. Ini merupakan kemahiran yang membutuhkan pemikiran karena mereka harus menjadi dua karakter sekaligus. Sesuatu yang mungkin sulit dilakukan anak- anak dalam situasi yang berbeda.

Anak yang menyamar sebagai pahlawan super dapat bermain-main dan mencapai tujuan, seperti membantu orang lain dan melakukan penyelamatan yang berani. (Gambar: Gabriel Porras via Unsplash)

Anda mungkin sulit membayangkan bagaimana bermain peran dapat menjadi bagian dari perkembangan kemampuan sosial anak.

Sebagai contoh, jika seorang anak berpura-pura menjadi seorang ibu, dia harus membayangkan bagaimana rasanya jika bayinya menangis atau berperilaku buruk. Jika seorang anak berpura-pura menjadi anjing peliharaan, dia perlu mencari cara untuk berkomunikasi dengan “pemiliknya” tanpa berbicara.

Anak yang menciptakan teman khayalan memiliki kesempatan untuk menjelajahi semua nuansa persahabatan – tanpa perlu berisiko menghadapi reaksi teman bermain – yang terkadang tidak terduga – atau berisiko berakhirnya persahabatan akibat pertengkaran.

Anak yang meniru seorang superhero dapat memainkan peranannya dan mencapai tujuannya, dengan membantu orang lain dan melakukan “penyelamatan” yang berani. Kekuatan semacam ini tidak mudah ditemukan pada anak usia dini. Menjadi pahlawan dan menjaga orang lain pasti merupakan perubahan yang menyenangkan daripada dijaga dan disuruh- suruh.

Mempelajari seni negosiasi yang rumit 

Ketika anak-anak memainkan permainan peran bersama anak-anak lain, mereka harus konsisten melakukan “bahasa” perilaku dan isyarat untuk mengirimkan pesan yang jelas tentang apa yang sedang mereka lakukan. Selain itu, mereka juga harus memahami isyarat yang datang dari lawan bermainnya dan belajar cara menafsirkannya.

Komunikasi semacam ini juga terjadi dalam interaksi dunia nyata. Namun dalam dunia khayalan, koordinasi yang sukses membutuhkan perhatian ekstra pada semua detail ini. Anak-anak harus secara aktif melakukan komunikasi, negosiasi, kompromi, kerja sama, dan koordinasi yang canggih untuk menjaga permainan tetap berjalan.

Faktanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang melakukan permainan peran menghabiskan waktu yang sama banyaknya untuk menegosiasikan istilah dan konteks permainan seperti pada saat mereka sedang memerankannya. 

Ini mungkin berguna saat mereka tumbuh dewasa dan mengelola peraturan permainan seperti permainan outdoor tradisional Capture the Flag (tangkap bendera), pembagian kerja kelompok untuk proyek di SMA, dan manfaat yang berkaitan dengan tawaran pekerjaan pertama kali.

Apakah manfaat dari permainan itu korelasional atau kausatif?

Studi yang menghubungkan permainan peran dengan semua hasil positif tersebut bersifat korelasional. Dengan kata lain, anak yang cerdas dan kompeten secara sosial mungkin lebih tertarik pada permainan peran, dari- pada permainan peran yang membuat seorang anak lebih cerdas secara sosial. 

Anak-anak yang terlibat dalam permainan pura-pura menghabiskan waktu yang hampir sama banyaknya dengan menegosiasikan istilah dan konteks permainan seperti yang mereka lakukan saat memerankannya. (Gambar: Iiona Virgin via Unsplash)

Sebagai alternatif, beberapa variabel lain, seperti pengasuhan orangtua, mungkin berperan penting dalam hubungan antara keterlibatannya dalam dunia khayalan dan pandai bersosialisasi dengan orang lain.

Faktanya, Angeline Lillard, seorang sarjana terkemuka dalam bidang ini, mengamati lusinan penelitian bersama rekan-rekannya dan menemukan sedikit bukti yang mendukung gagasan bahwa permainan peran menyebabkan hasil perkembangan yang positif.

Sebaliknya, para penulis ini menegaskan, bermain peran mungkin menjadi salah satu jalan menuju hasil ini. Atau bermain peran dan hasil positif mungkin didukung oleh faktor- faktor lain, seperti kehadiran orang dewasa yang mendukung dan mendorong, permainan yang fokus pada tema positif, prososial, dan karakteristik anak itu sendiri, seperti kecerdasan dan kemampuan bersosialisasi mereka.

Pada saat yang sama, para peneliti juga dengan cepat menunjukkan bahwa anak-anak suka bermain dan termotivasi untuk bermain. 

Orang dewasa yang ingin mendorong anak-anaknya dalam pengambilan sudut pandang berbeda, empati, keterampilan negosiasi, dan kerja sama sebaiknya berpikir tentang bagaimana melakukan pembelajaran yang terkait dengan keterampilan ini dapat dimasukkan dalam materi, tema, dan konten umum dari permainan imajinatif anak-anak. (sia/visiontimes)

Tracy Gleason, AdalahProfesor Psikologi, Wellesley College.

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation.

Share

Video Popular