Xiao Jing

Pada Sabtu 27 Maret 2021 adalah “Hari Angkatan Bersenjata” (Armed Forces Day) di Myanmar. Di hari yang sama, pemerintah militer Myanmar  melakukan parade militer di ibu kota Naypyitaw. Meskipun militer memperingatkan para demonstran bahwa mereka akan “ditembak di kepala dan punggung” melalui televisi pemerintah pada malam sebelumnya, sejumlah besar orang masih turun ke jalan pada Sabtu 27 Maret. Militer melancarkan penindasan berdarah skala besar di lebih dari 40 kota di seluruh negeri.

Menurut statistik media Myanmar “Myanmar Now”, hingga pukul 09.30 pada Sabtu (27 /3) malam, setidaknya 114 orang di seluruh negeri telah ditembak dan dibunuh oleh militer dan polisi. Di antara mereka, sedikitnya 27 orang tewas di Yangon, kota terbesar Myanmar, dan sedikitnya 40 orang tewas di Mandalay, termasuk seorang gadis berusia 13 tahun. Di wilayah Sagaing di Myanmar tengah, juga dilaporkan bahwa seorang anak berusia 13 tahun tewas.

Reuters pernah melaporkan bahwa seorang bocah lelaki berusia 5 tahun termasuk di antara yang tewas di Mandalay, tetapi kemudian dikoreksi bahwa hidup atau mati bocah itu saat ini tidak diketahui dan mungkin masih bisa bertahan hidup.

Selain itu, seorang bayi berusia 1 tahun di Yangon terkena peluru karet di matanya. Twitter memposting foto bayi yang terluka itu, dan menunjukkan bahwa tulang kepalanya pecah dan bisa mengancam nyawa.

Associated Press memperoleh video langsung dari Dawei, ibu kota Provinsi Tanintharyi, Myanmar, menunjukkan kendaraan militer sedang melaju di jalan. Tentara yang duduk di kendaraan militer menembak 3 orang, dan salah satunya jatuh ke tanah.

Majalah berita Myanmar “The Irrawaddy” melaporkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan 10 tahun termasuk di antara yang tewas.

Thu Ya Zaw, seorang warga dari pusat kota Myingyan, berkata: “Militer dan polisi membunuh kami seperti membunuh burung dan ayam.” 

Tapi dia juga mengatakan bahwa mereka akan terus memprotes apapun yang terjadi, “Kita harus berjuang sampai kejatuhan pemerintahan militer. ” 

Setidaknya dua pengunjuk rasa telah tewas di Myingyan.

Laporan Reuters mengutip Dr. Sasa, juru bicara “Komite Parlemen Uni Myanmar” (CRPH), sebuah organisasi pemerintah anti-militer yang diasingkan,  mengatakan: “Hari ini adalah hari yang memalukan bagi tentara Myanmar. Membunuh lebih dari 300 warga sipil tak berdosa. “Dan masih merayakan Hari Militer hari ini.”

Menurut statistik dari Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP), sejak pemerintah militer melancarkan kudeta 1 Februari, sedikitnya 328 demonstran tewas di seluruh negeri, dan hampir 30% di antaranya tewas akibat ditembak di kepala.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular