Luo Tingting

Final kontes Miss Grand International diadakan di Bangkok, Thailand pada  (27 /3/2021). Peserta dari Myanmar yang berpartisipasi Han Lay sambil berlinang air mata di atas panggung meminta kepada komunitas internasional .  

“Ketika saya berbicara di atas panggung, lebih dari seratus orang telah meninggal hari ini … Tolong bantu Myanmar,” katanya.

Han Lay mengenakan gaun malam putih dan berdiri di atas panggung. Pada saat yang sama, video militer dan polisi Myanmar yang menembak jatuh pengunjuk rasa damai ditampilkan di layar lebar. Han Lay memberikan pidato di atas panggung, dia berterima kasih kepada penyelenggara Miss Grand International karena telah memberinya kesempatan untuk mengungkapkan suaranya kepada komunitas internasional melalui ajang tersebut. 

Han Lay berkata, “Orang-orang di Myanmar turun ke jalan untuk demokrasi, dan saya salah satunya, dan sekarang mereka berada di atas panggung untuk demokrasi.”

Dia meneteskan air mata berkali-kali dalam pidatonya di atas panggung, “Hari ini di negara saya, Myanmar … Ketika saya berbicara di atas panggung, lebih dari seratus orang meninggal hari ini. Saya merasa sangat sangat sedih pada mereka, mereka kehilangan nyawa.”

Dia meminta bantuan dari komunitas internasional, “Tolong bantu Myanmar, kami membutuhkan dukungan internasional yang mendesak, sekarang.”

Tanggal 27 Maret juga merupakan Hari Militer Myanmar. Pemerintah militer menembak dan membunuh orang dalam pembantaian berdarah. Sedikitnya 114 orang tewas pada hari yang sama, termasuk 6 anak di bawah umur, dan seorang bayi berusia 1 tahun yang ditembak di sebelah mata kanan dan kehilangan penglihatannya dan mungkin mengancam nyawa. 

Hari itu adalah hari paling berdarah sejak Myanmar menentang kudeta militer.

Pada hari yang sama, militer Myanmar menggunakan jet tempur untuk pertama kalinya guna melakukan serangan udara di sebuah desa Day Pu Noe di perbatasan antara Myanmar dan Thailand. Organisasi kemanusiaan setempat menyatakan bahwa serangan udara tersebut menyebabkan tiga korban jiwa.

Militer Myanmar telah membantai hampir 400 orang Myanmar sejak kudeta pada 1 Februari. Penindasan berdarah masih berlanjut, dan rakyat Myanmar masih bertempur dengan keras tanpa takut akan kekerasan militer.

Han Lay adalah seorang mahasiswa di Departemen Psikologi Universitas Yangon di Myanmar. Selama keikutsertaannya dalam kontes kecantikan, dia telah berbicara untuk orang-orang Myanmar melalui media sosial dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk membantu.

Dalam kompetisi  itu, Han Lay mengenakan kostum nasional Myanmar bernama “Goddess of Peace”. Dia berharap menggunakan itu untuk berdoa bagi Myanmar dan berharap dewi perdamaian dapat membantu Myanmar mengakhiri krisis saat ini dan membawa perdamaian ke Myanmar.

Han Lay memposting di akun Instagram-nya bahwa banyak teman sekelasnya ditangkap oleh militer dan meminta pemerintah militer untuk membebaskan teman-teman sekelasnya. 

“Dalam negara demokrasi, rakyat harus bisa bersuara dan suara kami harus didengar. Tapi saat ini kami tidak memiliki kebebasan di Myanmar. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia. Bebaskan siswa kami!”

Dia juga menulis di Facebook: “Kami orang Myanmar berjuang untuk demokrasi di jalanan. Sebagai perwakilan Myanmar, saya akan menyerukan, hentikan perang dan hentikan kekerasan, Miss Grand International ini berseru di atas  panggung .”

Setelah final kontes kecantikan pada 27 Maret, Han Lay mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media asing bahwa dia akan kembali ke Myanmar.

“Saya tahu pasti tidak aman untuk kembali karena saya telah mengkritik pemerintah militer Myanmar. Tapi saya masih ingin kembali, karena ini tentang masa depan Myanmar. “

Dia juga berkata, “Saya tidak peduli dengan keselamatan saya, saya hanya peduli tentang Myanmar.”

Malam itu, menteri pertahanan dari 12 negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan warga sipil oleh militer Myanmar dan mendesak militer untuk menghentikan kekerasan. (hui)

Share

Video Popular