oleh Zhang Ting

Tim investigasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan tugasnya di Kota Wuhan dan wilayah sekitarnya selama 4 minggu pada  Januari dan Februari tahun ini. Tetapi, laporan akhir tim investigasi terus tak kunjung muncul, sampai akhirnya baru dirilis pada Selasa (30/3/2021). Ketika laporan itu dirilis, Tedros memberikan komentar di atas kepada negara-negara anggota WHO.

Tedros : Tim investigasi WHO dihalang-halangi dalam pengumpulan data oleh pihak berwenang komunis Tiongkok

Reuters melaporkan bahwa seorang penyelidik dari tim WHO, sebelumnya telah menyatakan bahwa selama ia melaksanakan tugas di Tiongkok. Pihak berwenang komunis Tiongkok menolak memberikan data mentah tentang kasus awal penyebaran virus kepada tim investigasi. Hal ini jelas akan membuat tugas penyelidikan untuk memahami bagaimana penyebaran virus berjalan semakin rumit.

“Dalam diskusi saya dengan tim, mereka semua mengakui telah mengalami kesulitan dalam mendapatkan data mentah, saya berharap penelitian kolaboratif di masa mendatang dapat mencakup pembagian data yang lebih tepat waktu dan komprehensif,” kata Tedros. 

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Namun demikian, tim investigasi WHO dalam menyimpulkan laporan akhir ini menyebutkan bahwa kemungkinan virus bocor dari laboratorium Wuhan didefinisikan sebagai “sangat tidak mungkin”. Selain itu, juga disebutkan bahwa virus tersebut “sangat mungkin” ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain. Tetapi, penyebaran virus langsung dari kelelawar atau makanan beku ke manusia berada di posisi tengah, alias bisa ya bisa tidak.

Akan tetapi, Tedros mengatakan bahwa tim investigasi WHO tidak sepenuhnya menganalisis kemungkinan kebocoran laboratorium, itu sebelum menyimpulkan bahwa patogen tersebut dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain. Dia mengatakan bahwa penyelidikan lebih lanjut masih perlu dilakukan. Tim investigasi tambahan mungkin akan dikirim kembali ke Tiongkok untuk melakukan tugas tersebut.

“Saya tidak percaya penilaian ini cukup luas, Data dan penelitian lebih lanjut masih diperlukan dalam menarik kesimpulan yang lebih mantap,” ujarnya. 

Menurut Tedros, untuk mengetahui kasus penyebaran virus di waktu paling awal, para ilmuwan akan mendapatkan keuntungan bila dapat memperoleh data yang lengkap, termasuk sampel biologis setidaknya dari bulan September 2019. Pihaknya, belum menemukan sumber virusnya. Kini harus bekerja secara ilmiah dan tidak takut bersusah payah untuk mencari jawabannya.

Meskipun Tedros terus menekankan bahwa semua opsi pilihan tetap terbuka dan WHO tidak akan menutup saluran penyelidikan apa pun. Tetapi, pernyataannya pada hari Selasa itu merupakan pertama kalinya Tedros secara terbuka mengakui kemungkinan virus bocor keluar dari laboratorium Wuhan, Tiongkok.

Sebagaimana diketahui, bahwa komunis Tiongkok tentu menolak pernyataan bahwa virus itu bocor dari laboratoriumnya yang berada di Kota Wuhan.

Tedros dikritik oleh pejabat administrasi Trump. Pasalnya, terlalu protektif terhadap komunis Tiongkok pada tahap awal epidemi. Pernyataan terakhirnya ini baru keluar dari mulutnya, setelah hasil laporan penyelidikan WHO terus dipertanyakan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS dan yang aktif saat ini, serta mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Para ahli dan pejabat AS sangat meragukan kebenaran isi laporan investigasi WHO

Sebelum laporan akhir WHO dirilis pada hari Selasa, media telah terlebih dahulu mengungkap isi laporan bersama WHO tersebut.

Robert Redfield, mantan direktur CDC era Presiden Trump mengatakan kepada CNN pada 26 Maret, bahwa dirinya sangat yakin virus itu menyebar keluar dari laboratorium Wuhan, meskipun kebocoran itu belum tentu merupakan tindak kesengajaan.

Sebagai seorang ahli virologi, Robert Redfield menyangsikan pernyataan bahwa virus itu ditularkan dari hewan ke manusia. Ia mengatakan bahwa sama sekali tidak masuk akal dalam ilmu biologi bahwa virus komunis Tiongkok itu, ditularkan dari hewan ke manusia, dan dengan kecepatan penyebarannya yang begitu hebat.

Biasanya ketika suatu virus menyebar dari hewan ke manusia itu, “Ia butuh beberapa saat untuk mengetahui bagaimana menjadi lebih dan lebih efektif dalam penularan dari manusia ke manusia”, kata Robert Redfield.

“Saya tidak percaya bahwa virus ini menyebar dari kelelawar ke manusia dengan cara tertentu. Selain itu, saat virus ditularkan ke manusia, itu akan menjadi salah satu virus paling menular dari manusia ke manusia yang kita ketahui”, katanya.

Robert Redfield mengatakan bahwa dirinya lebih yakin virus itu bocor keluar dari laboratorium di Wuhan. Karena epidemi yang disebut radang paru-paru atau pneumonia Wuhan, sudah mulai menyebar secara lokal di Kota Wuhan pada bulan September atau Oktober tahun 2019, beberapa bulan lebih awal dari pengakuan resmi pihak berwenang komunis Tiongkok.

“Saya masih lebih condong pada pendapat bahwa penyakit Wuhan ini lebih dimungkinkan terjadi akibat virus yang bocor dan menyebar dari laboratorium”. Redfield kemudian menjelaskan lebih lanjut : “Orang lain boleh-boleh saja tidak percaya. Tetapi ilmu pengetahuan akhirnya akan menemukan hal ini”.

“Itu pendapat saya, Tetapi saya adalah seorang ahli dalam bidang virologi. Saya telah berurusan dengan bidang tersebut sepanjang hidup saya,” kata Redfield.

Ia juga menekankan bahwa pernyataannya tidak mengandung tujuan tertentu.

Robert Redfield menjabat sebagai direktur CDC AS dari tahun 2018 hingga 2021, jadi masa jabatannya mencakup dari mulainya COVID-19 mewabah dari daratan Tiongkok ke dunia hingga lengsernya Presiden Trump pada awal tahun ini. Kebetulan saja Robert Redfield adalah seorang virolog.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan dalam acara CNN TV “State of the Union” bahwa Amerika Serikat “sangat prihatin” terhadap metode dan proses penulisan laporan investigasi WHO ini, termasuk khawatir bahwa pihak berwenang komunis Tiongkok ikut “membantu dalam penulisan laporan ini”.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada 21 Februari mengatakan : “Kita berpendapat bahwa komunis Tiongkok tidak memberikan cukup data mentah untuk memahami, bagaimana epidemi mulai menyebar di daratan Tiongkok dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia”.

Pada 29 Maret, Gedung Putih menyatakan bahwa, sejumlah ahli Amerika Serikat akan meninjau laporan WHO tentang investigasi terhadap sumber virus komunis Tiongkok ini. Fokusnya,  kepada apakah penyelidikan tersebut dilaksanakan secara independen dan apakah masuk akal secara teknis. (sin)

Video Rekomendasi :

 

 

Share

Video Popular