NTD Asia Pasific

Kedutaan Besar Prancis di India pada Rabu (31/3/2021) menyatakan bahwa kelompok pertempuran “Jeanne d’Arc” Angkatan Laut Prancis telah tiba di Samudra Hindia. Mereka akan berpartisipasi dalam latihan pertempuran di Teluk Benggala 5-7 April 2021. 

Latihan yang dipimpin Prancis ini diikuti oleh negara-negara yang tergabung dalam koalisi QUAD. Negara-negara ini adalah, India, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Latihan gabungan multinasional ini dinamai menurut navigator Prancis “La Perouse”, yang  dipimpin oleh Angkatan Laut Prancis. Setelah itu, angkatan perang Prancis  akan menyeberangi Laut Vietnam dua kali. 

Media Jepang melaporkan bahwa latihan bersama ini, seolah-olah menyampaikan pesan bahwa mitra kerja sama tidak terbatas pada empat negara Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India. Selain itu, “NATO versi Asia” baru saja terbentuk. 

Dengan latar belakang aksi militer provokatif Komunis Tiongkok yang terus menerus di Laut Cina Timur, Selat Taiwan, Laut Cina Selatan, dan perbatasan Tiongkok-India, tindakan ini telah menarik banyak perhatian dunia internasional. 

Sementara itu, Australia mengerahkan kapal  anti-kapal selam Australia HMAS Anzac akan ambil bagian bersama dengan kapal pemasok HMAS Sirius .

Latihan ini digelar, saat hubungan antara Beijing dan Paris juga semakin mendalam. Duta Besar Tiongkok untuk Prancis menolak panggilan diplomatik setelah serangan “prajurit serigala” yang intens terhadap para pengkritik kebijakan rezim Komunis Tiongkok.

“Kerja sama reguler dengan mitra dan tetangga kita sangat penting untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik yang damai, inklusif, berdaulat, dan tangguh, di mana hak-hak semua negara dihormati,” kata penjabat Menteri Pertahanan prancis, Marise Payne tentang latihan La Perouse.

Kerja sama militer Prancis yang meningkat di Indo-Pasifik ini, terjadi saat ketegangan berkobar antara Paris dan Beijing karena serentetan penghinaan yang “tidak dapat diterima”.

Analis Tiongkok, Antoine Bondaz yang dicap sebagai “preman kecil”, “troll ideologis”, dan “hyena gila” oleh diplomat “prajurit serigala” Komunis Tiongkok. Sedangkan anggota parlemen Prancis, Raphael Glucksmann masuk daftar hitam karena pernah mengunjungi Tiongkok setelah berusaha mengunjungi Taiwan.

Bondaz mengatakan serangan itu “dapat diprediksi” saat dia bekerja pada “topik yang sensitif bagi otoritas politik Tiongkok “. 

Bondaz kepada France24 mengungkapkan, serangan-serangan ini pada kenyataannya bertujuan untuk membungkam debat publik di Prancis. Tak lain, dalam hal mengizinkan kedutaan besar Tiongkok untuk memaksakan subjek yang dapat atau tidak dapat didiskusikan.  

Serangan itu dengan cepat meningkat menjadi insiden diplomatik. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves le Drian turun tangan.

“Tidak ada tempat dalam hubungan Prancis-Tiongkok untuk penghinaan dan upaya intimidasi terhadap pejabat dan peneliti terpilih. Kami membela mereka yang mewujudkan kebebasan berbicara dan demokrasi. Selalu dan di mana-mana, ” demikian cuitan Le Drian.

“Pernyataan Kedutaan Besar Tiongkok di Prancis dan tindakan mereka terhadap pejabat terpilih, peneliti, dan diplomat Uni Eropa tidak dapat diterima.” (hui/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular