oleh Li Zhaoxi 

Pemerintah komunis Tiongkok selama ini terus secara brutal dan sistematis mencuci otak orang-orang beragama / beriman. Sebuah laporan kesaksian yang baru dipublikasikan  mengungkapkan bahwa, fasilitas rahasia yang digunakan pihak berwenang komunis Tiongkok untuk memenjarakan orang beragama Kristen dan praktisi Falun Gong adalah kamp pencucian otak.

Pada Kamis (1/4/2021) Radio Free Asia (RFA) menerbitkan sebuah laporan dari seorang saksi yang beragama Kristen. Ia menyebutkan bahwa pejabat kamp menjebloskan orang Kristen di kamp pencucian otak yang telah dirancang sedemikian rupa oleh komunis Tiongkok, untuk memaksa para tahanan ini melepaskan keyakinan yang dipeluk. “Prosedur rutin” yang mereka hadapi di dalam kamp tersebut tak lain adalah pemukulan, indoktrinasi, dan diisolasi dalam sel.

Partai Komunis Tiongkok selama bertahun-tahun telah menerapkan kebijakan apa yang mereka sebut sebagai sinifikasi (sinicization), yakni proses akulturasi budaya bagi yang non-Tiongkok atau non-etnis Han, supaya kompatibel dengan kebudayaan Tiongkok utamanya etnis Han. 

Bahkan, mereka berharap proses akulturasi dapat menjadikan semua agama kompatibel dengan keyakinan komunis Tiongkok. Karena alasan ini, ratusan kamp konsentrasi telah didirikan di daratan Tiongkok untuk menangkap para umat Kristen, Buddha Tibet, dan praktisi Falun Gong dalam skala besar. Di dalam kamp “para tahanan” ini menghadapi indoktrinasi ekstrim.

Sebelumnya, kasus memenjarakan para pendeta Kristen yang menolak dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok telah banyak diberitakan di media. Laporan terbaru Radio Free Asia mengungkapkan, hukuman keras lain yang dipraktikkan oleh partai atheis ini terhadap orang Kristen dan praktisi Falun Gong.

Seorang pria bermarga Li (samaran) yang menjadi saksi mata memberitahukan Radio Free Asia, bahwa dirinya telah ditangkap pada tahun 2018 dan kemudian dibebaskan dengan jaminan. Jaksa jelas tidak memiliki bukti yang memberatkannya, jadi dia tidak berada di bawah kendali polisi komunis Tiongkok, tetapi di bawah kendali Departemen Pekerjaan Front Bersatu. Departemen ini merupakan bagian unit Partai Komunis Tiongkok yang bertanggung jawab untuk membina dan menjaga loyalitas kepada Partai Komunis Tiongkok.

Mr. Li mengatakan, bahwa dirinya ditahan selama 9 bulan dalam ruang yang terletak di bawah tanah dengan fasilitas penyiksaan yang dikelola oleh Departemen Pekerjaan Front Bersatu.

“Metode yang digunakan oleh para pejabat Departemen Pekerjaan Front Bersatu baik yang pria maupun wanita dalam proses akulturasi sangat buruk. Mereka mengancam, menghina dan mengintimidasi para tahanan. Orang-orang ini adalah pejabat United Front Work Department. Terkadang mereka muncul dengan pakaian preman, tanpa identitas diri. tetapi polisi berpura-pura tidak melihat”. 

Mr. Li mengatakan : “Anda harus menerima pengakuan yang mereka persiapkan untuk Anda. Jika Anda menolak, Anda akan dianggap bersikap tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, lalu mereka akan dengan seenaknya memperpanjang masa tahanan dan melakukan penyiksaan fisik terhadap Anda”.

“Dalam sel tahanan yang tidak berjendela, tidak ada ventilasi, dan tidak diperbolehkan keluar. Saya hanya mendapat jatah makanan 2 kali dalam sehari yang diantar oleh sipir ke dalam sel”, jelas Mr. Li. Ia tidak bisa tidur. Setelah tinggal di dalamnya selama seminggu, ia mulai merasa lebih baik mati daripada berada di sana. Ia menabrak dinding sel dan melukai dirinya sendiri”.

Bahkan setelah dibebaskan, pengalaman yang mengerikan itu tak kunjung dapat dihilangkan dari ingatan Mr. Li.

Seorang Kristen lainnya yang tidak bersedia namanya dipublikasikan juga mengatakan kepada RFA, bahwa kelompok agama lain juga menjadi sasaran proses akulturasi, mereka juga ditangkap lalu  dikirim ke kamp pencucian otak tersebut.

Dalam kesaksian yang diajukan Mr. Zhang, seorang pengacara yang mewakili beberapa kasus penganiayaan terhadap orang Kristen juga ditegaskan bahwa kamp pencucian otak komunis Tiongkok selain menganiaya para umat Kristen, juga melakukan hal yang sama terhadap praktisi Falun Gong.

“Kamp pencucian otak terhadap orang Kristen ini tidak berbeda dengan kamp untuk mencuci otak para praktisi Falun Gong … Setelah pejabat berwenang yang menangani urusan agama menangkap para uskup dan pendeta, mereka tidak mengajukan tuntutan pidana tetapi membuat keberadaannya tidak terdeteksi oleh publik. Bahkan, tidak jarang para uskup atau pendeta itu “hilang” selama 5, 6 atau 10 tahun berturut-turut”, kata pengacara Zhang. “Beberapa orang dipulangkan setelah 5 atau 6 tahun. Beginilah masyarakat secara bertahap mengetahui situasi di kamp pencucian otak dari deskripsi mereka”.

Majalah kebebasan beragama dan hak asasi manusia terbitan luar negeri ‘Bitter Winter’ pada  November 2020, menerbitkan sebuah artikel yang berisi hasil wawancara reporter mereka dengan seorang wanita mantan korban pencucian otak. 

Menurut penuturan korban, bahwa dirinya dipaksa berdiri selama 18 jam sehari sampai punggung kaki serta bagian pahanya menghitam. Dia juga menjelaskan secara rinci sejumlah alat penyiksaan yang digunakan dalam ruang penyiksaan, termasuk korban dipaksa mandi dengan air dingin dalam ruang bersuhu di bawah nol derajat, memaksa tahanan untuk menggantungkan ember besar berisi air di lehernya.

Media ‘Minghui’ yang berkomitmen untuk mengungkap penganiayaan dengan cara-cara biadab yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap kelompok beragama, termasuk tidak diberikan makanan, menusuk tangan dengan jarum, sengatan listrik, pelecehan seksual, berbagai pemukulan, hukuman berdiri, hukuman duduk di bangku kecil, tidak diperbolehkan tidur, dimasukkan ke dalam ruang beku, disuntik dengan obat tak dikenal, diambil organ tubuhnya dalam keadaan hidup, dan lain-lain.

Sebelum pemerintah komunis Tiongkok mengumumkan rencana membasmi Falun Gong pada tahun 1999, setidaknya sudah ada 100 juta orang di daratan Tiongkok yang berlatih Falun Gong. 

Mereka yang mulai belajar mempraktekkan karakter alam semesta   ‘Sejati-Baik-Sabar’ dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana ajaran Falun Gong telah berjumlah melebihi total dari anggota Partai Komunis Tiongkok. Pada saat itu, jumlah umat Kristen di daratan Tiongkok yang diperkirakan oleh pejabat Tiongkok adalah sekitar 40 juta orang. Namun, jumlah ini tidak termasuk umat yang biasa beribadah di “gereja rumah”. Menurut perkiraan kelompok independen, bahwa total umat Kristen bisa mencapai angka mendekati 100 juta orang. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular