Erabaru.net. Hidup adalah jalan yang panjang, jalan yang penuh dengan lika liku. Dalam kehidupan mungkin akan menghadapi kesulitan, dan kesulitan itu terkadang mengantar kita ke kehidupan yang lebih baik.

Ini adalah kisa ‘Ratu Ikan Koi’ dari Taiwan. Agar bisa melunasi utang ayahnya yang besar, dia mempertaruhkan masa depannya, meninggalkan bangku kuliahnya untuk berternak ikan. Sekarang satu ekor ikannya bisa dijual seharga 65,14 juta dollar Taiwan (sekitar Rp 33,3 miliar).

Dia lahir dari keluarga kaya di Taiwan, dengan kekayaan bersih 500 juta dollar Taiwan setara (sekitar Rp 255 miliar). Keluarganya memiliki industri budidaya ikan dan pertanian. Dia telah menjalani kehidupan yang bahagia sejak kecil.

Ada lebih dari selusin pelayan, di garasi rumahnya ada Rolls Royce … Tetapi pada usia 26, ayahnya gagal dalam berinvestasi dan meninggalkan utang 200 juta dollar Taiwan (sekitar Rp 102 miliar). Setiap hari para kreditor menagih utangnya. Hanya 3 hektar dari kolam ikan dan koi tersisa di keluarga.

Dia tidak punya pilihan selain meninggalkan bangku kuliahnya di Universitas Tsinghua dan melanjutkan bisnis keluarga untuk melunasi hutang ayahnya.

Mantan putri itu mengenakan kostum kodok dan membawa peralatan menangkap ikan, berendam di kolam ikan meskipun dingin dan panas, dan hanya tidur selama 4 jam sehari.

Akhirnya, dia berhasil menghasilkan koi berkualitas tinggi, dan yang termahal dijual dengan harga setinggi langit! Koi-nya merambah pasar Eropa dan Amerika, dia juga melunasi utang ayahnya dan hidup bahagia bersama keluarganya. Dia kini mendapat julukan “Ratu Ikan Koi” dari Taiwan.

Sebelumnya, Zhong Yingying tidak pernah mengkhawatirkan hidupnya. Tapi di usianya 26 tahun, semuanya berubah. Saat itu, dia masih kuliah untuk gelar master di Tsinghua Academy of Fine Arts.

Suatu hari di akhir pekan, seperti biasa, dia ingin pergi ke mall mewah untuk menggesek kartunya untuk berbelanja. Ibunya tiba-tiba menelepon dan berkata, “Kartumu tidak bisa lagi digunakan!

Kemudian dia tahu, Ayanya telah bangkrut karena kegagalan berinvestasi dalam bisnis real estat. Ayahnya tidak hanya kehilangan semua hartanya, tetapi juga memiliki utang 200 juta dollar Taiwan (sekitar Rp 102 miliar)! Satu-satunya yang tersisa di keluarga adalah kolam ikan seluas 3 hektar dan ikan koi.

Dalam semalam, hidup jatuh dari surga ke neraka. Setelah memikirkannya, Zhong Yingying memutuskan untuk meninggalkan studinya dan pulang untuk membantu keluarganya. Hal ini ditentang keras oleh orangtuanya.

“Tidak! Kamu tidak mengerti apa-apa kecuali melukis dan menari. Jika kamu putus sekolah, harapan terakhir kita akan hilang! ” Kata ayahnya.

Tetapi Zhong Yingying tetap teguh dengan pendiriannya, dengan berlinang air mata dia berkata : “Sekarang adalah tugas yang paling mendesak untuk menemukan cara menghasilkan uang. Jika kalian bekerja keras, tetapi saya belajar dengan santai, saya tidak akan merasa nyaman selama sisa hidup saya. “

Dia meninggalkan studinya dan kembali ke kampung halamannya. Untuk membantu keluarganya, dia mencari pekerjaan ke mana-mana, tapi tidak ada hasil.

Pada akhirnya, dia harus bekerja sebagai guru privat. Namun, ini hanya bisa menyelesaikan sementara kelangsungan hidupnya, dan masalah keluarganya masih menjadi beban pikirannya.

Harapan keluarga satu-satunya adalah kolam koi, jika ikan koi tersebut dipelihara dengan baik bisa dijual dengan harga jutaan dan bahkan miliaran.

Karena tidak ada uang untuk membayar pekerja, orangtuanya dan ayahnya akan pergi ke kolam ikan untuk merawat ikan dan menangkap ikan, dan terkadang mereka harus turun ke kolam ikan yang airnya sangat dingin selama berjam-jam.

Melihat kerja keras keluarganya, Zhong Yingying memutuskan untuk membantu ayahnya memelihara koi.

Beternak koi merupakan aktivitas fisik, dan Anda harus membawa puluhan kilogram pakan ikan. Belum lagi, Zhong Yingying sudah takut air sejak dia masih kecil, kulitnya alergi terhadap sinar ultraviolet.

Tapi Zhong Yingying tidak punya pilihan. Keluarganya kewalahan dengan utang miliaran rupiah. Kakeknya yang sudah tua harus bekerja siang dan malam. Sebagai putri tertua dari keluarga, dia memilih untuk bertanggung jawab.

Maka, sang putri yang pernah mengenakan gaun indah, mengenakan kuncir kuda dan mengenakan setelan tahan air. Mulai sebuah pekerjaan kecil, dia mulai menghabiskan harinya di kolam ikan.

Selama 3 tahun terakhir, dia harus bangun pagi-pagi dan tidur larut malam, memberi makan ikan, manajemen kualitas air, pengendalian penyakit … semuanya dilakukan sendiri.

Kulitnya yang dulunya putih halus, kini menjadi kecokelatan dan tangannya pecah-pecah parah. Dia tidak terlihat seperti berusia 20-an tetapi berusia 40-an.

Tetapi dia juga beralih dari tidak mengenal ikan sama sekali menjadi menghafal ratusan spesies dan karakteristik koi, dan dia dapat mengambil tugas penting untuk membiakkan koi sendiri.

Namun, kehidupan keluarga tidak jauh lebih baik, dan koi yang dipelihara sudah banyak yang dijual, tetapi tidak banyak uang yang dihasilkan.

Setelah berpikir lagi, Zhong Yingying meminta bantuan seorang teman untuk melakukan riset pasar. Baru setelah itu dia tahu bahwa dia menjual koi seharga ratusan ribu rupiah, dan bisa dijual puluhan juta rupiah di Eropa!

Tentu saja, ini dari jenis langka, karena orang Eropa memahami seni dan memiliki permintaan yang besar untuk koi berkualitas tinggi.

Oleh karena itu, Zhong Yingying memutuskan untuk mengubah strateginya, dia ingin membudidayakan ikan koi untuk diolah menjadi karya seni, dan mengubah hasil pertanian menjadi karya seni, agar dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Dia menghabiskan seminggu untuk membujuk ayahnya dan mengumpulkan sejumlah uang untuk mendapatkan sejumlah ras langka.

Sejak itu, Zhong Yingying telah berendam di kolam ikan, terlepas dari musim panas dan musim dingin.

Zhong Yingying akhirnya barhasil membudidayakan koi berkualitas tinggi. Dia percaya diri dan bersiap untuk membawa koi-nya ke Jerman untuk berpartisipasi dalam pameran.

Tanpa diduga musibah datang menimpanya, setelah tiba di Jerman, seorang pelanggan lama dari Taiwan tahu bahwa dia akan mengikuti pameran, jadi dia ingin membantunya membawakan ikannya ke tempat pameran karena dia juga akan ikut pameran.

Dia melihat bahwa pelanggan itu begitu tulus dan dananya banyak, jadi dia setuju. Tanpa diduga, pelanggan tersebut menipu ikan koinya.

Zhong Yingying kembali ke hotel kecil tempatnya menginap, berpikir besok pameran dibuka tapi ikanya telah ditipu, memikirkan kartu kreditnya dan meminjam banyak uang untuk datang ke Jerman, memikirkan kerja kerasnya selama beberapa tahun, dan akhirnya akan bisa menjalani kehidupan yang baik, namun harapan itu hilang.

Semakin dia memikirkannya, semakin sedih, dia tidak bisa menahan tangis, dia menelepon temannya untuk mengadu, dan teman itu diam-diam mendengarkan keluhannya, dan berkata,: “Pikirkan solusi untuk masalah ini.”

Baru kemudian Zhong Yingying menjadi tenang. Sekarang sesuatu telah terjadi, mari kita berpikir keras tentang bagaimana mengatasinya.

Dia memberi semangat pada dirinya sendiri: “Bukankah hanya ikan yang tidak berpartisipasi dalam pameran? Bukankah mereka akan bersedia membeli ikan saya meskipun mereka tidak bisa melihat fisik ikan yang sebenarnya?”

Jadi, dia menggunakan keahlian artistiknya dan merancang stan pamerannya menjadi gaya oriental dalam semalam. Dia begadang untuk mendekorasi stanya.

Pada hari pameran, dia mengenakan cheongsam dan duduk di area pameran, membuat teh dan minum teh dengan ekspresi tenang, tidak ada ikan di stan pameran.

Para pengunjung pameran sangat terkejut dan datang untuk menanyakan ikannya. Zhong Yingying dengan tenang menjawab: “Kamu terlambat, dan ikannya telah dibeli.”

Tidak hanya itu, dia juga menyuruh pelanggan untuk pergi ke toko yang telah membohonginya, dengan mengatakan mereka yang telah membelinya.

Dengan cara ini, berita menyebar di area pameran, seorang gadis dari Taiwan menjual semua ikannya hanya dalam sekejap!

Banyak pelanggan berbondong-bondong mendatanginya. Setelah membaca informasinya, mereka memuji koi-nya dan memesan.

Dengan cara ini, Zhong Yingying mendapat banyak pesanan, dan koi-nya juga dikenal oleh lebih banyak orang.

Grothees of the Netherlands mengatakan: “Koi yang diproduksi sendiri oleh Belanda dapat mencapai grade A, dan standar koi Zhong Yingying telah mencapai 3A.”

Pencapainya telah menyebar secara luas, dan banyak pelanggan memesan koi-nya. Pesanannya termasuk Eropa, dan negara-negara dunia lainya.

Bisnisnya semakin besar dan popularitasnya semakin tinggi. Saat ini, dia telah memenangkan 11 penghargaan di industri ini, termasuk 4 kali juara, dan dikenal sebagai “Ratu Ikan Koi”.

Pada bulan Oktober 2018, di Lelang Koi Sakai Jepang, Zhong Yingying menghabiskan 9 tahun membudidayakan raja Koi “Merah Putih”, yang dijual dengan harga Rp 33,3 miliar.

Orang bijak mengatakan : “Apakah seseorang adalah pahlawan atau pecundang ditentukan oleh tindakannya, bagaimana bertindak ditentukan oleh hatinya.”

Memiliki hati yang kuat memungkinkan seseorang untuk melihat harapan dalam keputusasaan. Pesimisme hanya akan membuat Anda kehilangan energi dan kehilangan peluang di hadapan harapan.

Dalam menghadapi kesulitan, Anda dapat memilih untuk menangis, melarikan diri, atau menolak seperti Zhong Yingying.

Hasil penghindaran secara alami adalah kegagalan, perjuangan untuk melawan, masih ada kemungkinan untuk berhasil. Masa depan Anda ada di tangan Anda. Keberhasilan atau kegagalan tergantung pada Anda. (yn)

Sumber: namastekhabars

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular