NTDTV.com

Ratusan kapal  Tiongkok menyerbu perairan Filipina, menyebabkan ketegangan antara Tiongkok dan Filipina. Istana Kepresidenan Filipina mengeluarkan pernyataan beberapa hari yang lalu yang memperingatkan bahwa gangguan Komunis Tiongkok dapat menyebabkan Filipina akan melawan. 

Salvador Panelo penasihat hukum Presiden Filipina Rodrigo Duterte, menyatakan dalam sebuah pernyataan pada 4 April, “Kami dapat bernegosiasi tentang masalah kepentingan bersama dan kepentingan bilateral, tetapi jangan salah,  kedaulatan kami tidak dapat dinegosiasikan.”

Panelo memperingatkan bahwa akumulasi jangka panjang kapal Komunis Tiongkok di perairan ekonomi eksklusif Filipina adalah “noda tidak populer” dalam hubungan antara kedua negara dan “dapat memicu ketegangan kedua negara.

Juru bicara Duterte, Harry Roque, juga mengatakan pada konferensi pers: “Kami tidak akan menyerahkan bahkan satu inci pun dari wilayah kami atau zona ekonomi eksklusif.”

Ini adalah pernyataan terkuat yang dibuat oleh pihak Duterte terhadap Komunis Tiongkok sejak kapal Komunis Tiongkok menginvasi perairan Filipina. Reuters mengatakan bahwa Duterte telah mencari hubungan baik dengan Beijing sebelumnya dan tidak mau menekan Komunis Tiongkok, tetapi kali ini pernyataan dari istana presiden sangat keras.

Kedutaan Besar Komunis Tiongkok di Manila belum menanggapi hal ini.

Pemerintah Filipina menemukan pada 7 Maret bahwa ada lebih dari 200 kapal Tiongkok berkumpul di dekat Whitsun Reef, sekitar 320 kilometer sebelah barat Pulau Palawan di perairan sengketa Laut China Selatan.

Pihak berwenang Komunis Tiongkok mengklaim bahwa “kapal penangkap ikan” ini ada di kawasan tersebut untuk menghindari angin dan hujan. Namun, pemerintah Filipina percaya bahwa kapal-kapal tersebut adalah kapal milisi maritim Komunis Tiongkok dan menjadi ancaman bagi kedaulatan Filipina.

Sejak 25 Maret, militer Filipina telah mengirim kapal perang tambahan ke perairan untuk berpatroli dan menuntut agar kapal-kapal tersebut segera meninggalkan tempat.

Kementerian Luar Negeri Filipina terus memprotes Komunis Tiongkok, menuduh kapal-kapal milisi Komunis Tiongkok ini melakukan pelanggaran mencolok atas kekuasaan kedaulatan Filipina.

The New York Times menyatakan bahwa Komunis Tiongkok biasa membangun pulau-pulau buatan di perairan Laut China Selatan yang disengketakan untuk mewujudkan kedaulatannya atas Laut China Selatan. Sekarang, strategi baru Komunis Tiongkok adalah menjaga sejumlah besar kapal penangkap ikan yang diparkir di perairan yang disengketakan, secara efektif mengabaikan perintah pengusiran negara lain.

Gambar yang diambil oleh satelit Amerika Serikat menunjukkan bahwa, selain perairan Whitsun Reef, 45 kapal Komunis Tiongkok lainnya berkerumun di dekat Thitu, pulau lain yang dikendalikan oleh Filipina.

Menurut laporan tersebut, berkumpulnya kapal-kapal ini telah memperburuk ketegangan regional dan dapat menjadi titik konfrontasi yang semakin meningkat antara Amerika Serikat dan Komunis Tiongkok, seperti halnya Taiwan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Blinken telah menyatakan dukungannya untuk Filipina. Dia menulis dalam tweet: “Kami akan selalu mendukung sekutu kami dan mempertahankan tatanan internasional berbasis aturan.”

Pada pagi  4 April, kelompok kapal induk USS “Roosevelt”, termasuk kapal perusak “Russell”, dan kapal penjelajah “Bunker Hill”, memasuki Laut Cina Selatan melalui Selat Malaka melakukan misi. Ini dianggap Amerika Serikat telah menunjukkan sikap jera terhadap Komunis Tiongkok.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular