Li Yan 

Kematian  akibat COVID-19 kembali meningkat secara global, terutama di Brasil dan India. Pejabat kesehatan menyalahkan varian yang lebih menular di Inggris dan Afrika Selatan, dan masyarakat telah berjuang untuk mengatasi penguncian dan pembatasan epidemi lainnya.

Menurut statistik dari Reuters, butuh waktu lebih dari satu tahun untuk jumlah kematian akibat global  virus Komunis Tiongkok mencapai 2 juta. Hanya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk menembus satu juta ketiga.

Menurut analisis Reuters, Brasil menempati urutan pertama di dunia dalam jumlah kematian baru yang dilaporkan setiap hari, terhitung seperempat dari kematian serupa di dunia setiap hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sistem medis negara itu kewalahan dan situasinya kritis.

Ahli epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove mengatakan pada konferensi pers Kamis lalu: “Faktanya, situasi di Brasil sekarang sangat serius, dan situasi di beberapa negara bagian sangat kritis.” 

Menurut Maria kejenuhan unit perawatan intensif di banyak rumah sakit di negara telah melebihi 90%.

Di saat yang sama, situasi di India tidak optimis. Negara itu melaporkan pada Senin (5/4) bahwa tingkat infeksi virus Komunis Tiongkok mencapai rekor tertinggi, menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 100.000 kasus baru dalam satu hari.

Menurut data Kementerian Kesehatan India, negara itu mencatat 103.558 infeksi baru pada hari Senin 5 April, peningkatan terbesar dalam satu hari sejauh ini. Jumlah infeksi secara nasional melebihi 12,59 juta kasus.

Di antara mereka, rumah sakit di Maharashtra, negara bagian paling parah di India, penuh sesak. Pemerintah India mengumumkan pada hari Minggu 4 April bahwa mereka akan memberlakukan jam malam dan penutupan akhir pekan pada 110 juta orang di negara bagian itu. Pusat perbelanjaan, bioskop, bar, restoran, dan tempat ibadah akan tutup mulai hari Senin 5 April.

Sementara itu, India juga melaporkan 478 kasus kematian baru pada  Senin, sehingga total korban tewas menjadi 165.101 orang.

Faktanya, jumlah kematian terbesar akibat epidemi ini ada di Eropa. Wilayah ini mencakup 51 negara dan jumlah kematian mendekati 1,1 juta.

Ada lima negara termasuk Inggris, Rusia, Prancis, Italia, dan Jerman menyumbang sekitar 60% dari total jumlah kematian terkait virus di wilayah tersebut.

Amerika Serikat adalah negara dengan jumlah kematian terbesar di dunia, mencapai 555.000, kasus terhitung sekitar 19% dari jumlah kematian dunia akibat epidemi tersebut. Dalam tiga minggu terakhir, kasus di negara itu terus meningkat. Pejabat kesehatan menaruh harapan mereka pada vaksin, percaya bahwa vaksinasi cepat dapat mencegah jumlah kematian meningkat lebih lanjut. Sepertiga penduduk negara itu telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

Menurut data terbaru Our World in Data, hingga Minggu (4 April), setidaknya 370,3 juta orang atau hampir 4,75% dari populasi global telah divaksinasi dengan dosis vaksin virus Komunis TIongkok.

Sementara itu Komunis Tiongkok menyembunyikan epidemi, dan dunia luar tidak dapat mengetahui angka epidemi yang sebenarnya.  (hui)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular