oleh Li Jing

Pabrik percetakan Epoch Times edisi Hong Kong ‘New Era’  mendapat serangan yang menghancurkan dari 4 orang preman yang disewa komunis Tiongkok pada Senin (12/4/2021) dini hari. Setelah serangan itu, para pekerja Epoch Times berusaha keras untuk memperbaiki mesin dan berharap cetakan dapat dipublikasikan dengan lancar pada hari itu juga.

Dua dari empat orang penjahat yang membobol pabrik percetakan. Pria bercelana jins dan tanpa topi adalah preman pertama yang berdiri di gerbang untuk mencegah karyawan pabrik percetakan menutup pintu. (Yu Gang/Epoch Times)

Atas serangan yang dialami oleh pabrik percetakan New Era yang memproduksi koran Epoch Times Hong Kong,  pihak Epoch Times Hongkong menyatakan mengutuk keras tindak kekerasan tersebut.

Selain itu, pihak Epoch Times Hong Kong menyerukan kepada komunitas internasional untuk memperhatikan penindasan kekerasan terhadap kebebasan berbicara di Hongkong oleh Partai Komunis Tiongkok.  Tak hanya itu, mengutuk rezim komunis Tiongkok yang menciptakan teror putih dengan menyewa penjahat untuk menyerang pabrik pencetakan Epoch Times di Hong Kong.

Penjahat yang membobol pabrik percetakan. Pria bercelana jins dan tanpa topi adalah preman pertama yang berdiri di gerbang untuk mencegah karyawan pabrik percetakan menutup pintu. (Yu Gang/Epoch Times)

Kronologi kejadiannya,  pada Senin (12/4/2021 )sekitar pukul 4:38 pagi waktu setempat, ketika Ms. X, seorang staf pabrik percetakan, kembali ke pabrik setelah menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa, dia melihat seorang pria berusia tiga puluhan dan bertubuh sedang dengan ponsel di tangannya. Pria itu lagi asyik berbicara di samping mesin penjual minuman. 

Para preman menaburkan puing-puing semen yang bercampur tanah ke mesin percetakan. (Yu Gang/Epoch Times)

Saat staf perusahaan hendak menutup pintu gerbang, pria yang berdiri di samping mesin penjual minuman itu, sambil berbicara dengan ponsel di tangannya segera melangkah maju dan menempelkan seluruh tubuhnya pada pintu gerbang. Tujuan pria itu untuk mencegah karyawan tersebut menutup pintu gerbang. Ia kemudian berbicara dengan nada menggertak : “Panggil Mr. Zhu keluar !” Ms. X mengatakan kepada pria tersebut bahwa tidak ada Mr. Zhu di perusahaan ini, dan mencoba untuk menutup pintu gerbang, tetapi dihalangi.

Puing-puing semen yang bercampur tanah ditaburkan ke mesin sehingga perlu pembersihan. (Yu Gang/Epoch Times)

Seorang staf lain, langsung melangkah maju untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Tetapi dengan cepat, 3 orang preman menerobos masuk lewat belakang pria yang berdiri di depan gerbang. Pria-pria itu ada yang membawa palu, tas ramah lingkungan. Salah satu dari mereka, menyerahkan tas hitam panjang kepada pria yang berdiri di depan pintu gerbang. 

Panel pengontrol mesin percetakan yang hancur diserang para preman. (Yu Gang/Epoch Times)

Menurut staf di tempat kejadian, ada pisau di dalam tas tersebut. Ketika beberapa orang memasuki pabrik percetakan, staf yang berdiri di depan pintu diusir supaya segera pergi dengan mengatakan : “Pergi, pergi, ini bukan urusanmu ! Cepat pergi, jangan sampai saya yang bertindak !”

Beberapa komputer dalam ruang juga dihancurkan. (Yu Gang/Epoch Times)

Setelah para preman itu masuk ke dalam pabrik, mereka menggunakan palu untuk menghancurkan panel pengontrol mesin percetakan. Pada saat yang sama, mereka juga menghancurkan beberapa komputer yang berada di tempat kejadian, membawa pergi sebuah CPU. Satu orang dari penjahat mengambil puing-puing semen yang bercampur tanah dari dalam tas yang dibawa dan menaburkannya ke atas mesin percetakan dan mesin packing koran.

Pabrik Percetakan Epoch Times, telah berkali-kali dirusak oleh para preman yang disewa komunis Tiongkok sejak 15 tahun didirikan. 

Pada 19 November 2019 sekitar pukul 03.50 waktu Hongkong, pabrik percetakan yang baru saja menyelesaikan percetakan koran dan akan mendistribusikan koran-koran tersebut, langsung diserang oleh 4 orang preman sewaan komunis Tiongkok yang menerobos masuk . Mereka masuk dengan membawa tongkat serupa yang dimiliki polisi. Mereka juga mengancam para staf di lokasi untuk tidak bergerak.

Empat orang penjahat yang disewa komunis Tiongkok membawa dua jerigen yang berisi  bensin dan menyiramnya ke sekitar pabrik. Seorang penjahat lain yang berbaju hitam memegang benda yang mudah terbakar dan menyulutkan api. Setelah itu keempat orang dengan cepat melarikan diri setelah api membesar.

Staf percetakan bergegas memanggil polisi dan memadamkan api. Api merusak parah satu mesin pemasok kertas dan empat gulungan kertas cetak, membakar kotak luar panel pengontrol mesin pemasok kertas lainnya. Bahkan, membakar banyak bundel koran yang siap didistribusikan hari itu. Akibat siraman air dari mobil pemadam yang didatangkan untuk mematikan kobaran api, sejumlah mesin dan kertas terendam air. Polisi dan petugas pemadam kebakaran datang untuk kepentingan investigasi, dan pihak percetakan diminta untuk menyerahkan CCTV.

Pada  Mei 2013, penjahat 2 kali berusaha menerobos masuk ke dalam pabrik percetakan dan merusak kunci pintu gerbang besi pabrik.

Pada 28 Februari 2006, yakni sekitar 2 pekan setelah pabrik percetakan Epoch Times Hongkong didirikan. 4 orang preman sewaan komunis Tiongkok berusaha menerobos masuk pabrik untuk menghancurkan mesin cetak yang baru dibeli senilai lebih dari satu juta renminbi pada malam harinya. Federasi Jurnalis Internasional menuduh Komunis Tiongkok  yang memanipulasi insiden tersebut.

Tidak heran jika tidak satupun dari kasus sabotase yang disebutkan di atas terungkap oleh polisi Hongkong.

Juru bicara Epoch Times Hongkong Ms. Wu Xueer mengatakan : “Epoch Times Hongkong tidak takut dengan kekerasan. Perusahaan sedang bergegas untuk memperbaiki peralatan yang rusak dan akan terus melaporkan kebenaran kepada publik. Kita sangat mengutuk pemerintah komunis Tiongkok karena menyewa para penjahat untuk melakukan kekerasan. Kita berharap polisi akan menyelesaikan kasus ini secepatnya dan membawa pelakunya ke pengadilan”.

Ms. Wu mengimbau masyarakat untuk membeli surat kabar ‘Epoch Times’ di kios-kios koran hari ini untuk mendukung media yang memberitakan kebenaran. (sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular