Nicole Hao

Pejabat Tinggi  Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok mengatakan, Beijing mempertimbangkan mencampur vaksin-vaksin yang ada untuk meningkatkan efektivitasnya. 

Setelah rezim Tiongkok mengirimkan ratusan juta dosis vaksin COVID-19 buatan Tiongkok ke  luar negeri, pada  10 April pejabat tinggi kesehatan Tiongkok mengakui  rendahnya efektivitas vaksin-vaksin buatan Tiongkok. Vaksin-vaksin buatan Tiongkok “tidak memiliki angka perlindungan yang sangat tinggi”, kata  Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok George Fu Gao pada Konferensi Vaksin dan Kesehatan Nasional tahun 2021 di Chengdu, menurut Associated Press. “Kini dalam pertimbangan yang resmi apakah  harus menggunakan vaksin-vaksin yang berbeda, dari jalur-jalur teknis untuk proses imunisasi.”

Media yang dikelola pemerintahan Komunis Tiongkok, melaporkan konferensi tersebut. Akan tetapi, tidak menyebutkan komentar-komentar Gao Fu mengenai efektivitas vaksin-vaksin dalam negeri Tiongkok.

Kemanjuran vaksin-vaksin Sinopharm buatan Tiongkok dilaporkan adalah 50,4 persen di Brasil, dan di Peru, kemanjuran vaksin-vaksin buatan Wuhan adalah  33,3 persen dan kemanjuran vaksin-vaksin buatan Beijing adalah 11,5 persen — angka-angka yang telah dibantah oleh partai komunis yang berkuasa.

Produsen vaksin yang berbasis di Tiongkok, Sinopharm, melaporkan bahwa vaksin buatannya berasal dari Institut Wuhan memiliki kemanjuran 72,5 persen selama uji coba fase III.

Vaksin Pfizer-BioNTech memiliki kemanjuran yang dilaporkan sebesar  95 persen dan vaksin Moderna memiliki kemanjuran sebesar 94,1 persen.

Perkataan Gao Fu mengungkapkan bahwa, Partai Komunis Tiongkok mengetahui vaksin-vaksin buatan Tiongkok itu mungkin tidak memberikan perlindungan yang diharapkan orang-orang.

Efektivitas yang Rendah

Gao Fu sampai saat ini adalah kritis terhadap keefektifan vaksin mRNA yang ditawarkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Namun, pada konferensi selama dua hari di Chengdu, nada Gao Fu tiba-tiba berubah saat ia mengungkapkan bahwa pihak-pihak berwenang mengakui keefektifan  vaksin buatan Tiongkok saat ini adalah rendah.

“Setiap orang harus mempertimbangkan manfaat vaksin-vaksin mRNA demi kemanusiaan, kita harus mengikutinya dengan hati-hati dan tidak mengabaikannya begitu saja karena kami sudah memiliki beberapa jenis vaksin,” kata Gao Fu. 

Gao Fu tidak memberikan sebuah metode yang jelas mengenai bagaimana para peneliti dapat menggabungkan vaksin-vaksin yang berbeda tersebut untuk memvaksinasi orang-orang. Tetapi, yang tersirat dari Gao Fu adalah jenis vaksin-vaksin yang berbeda adalah  diperlukan untuk mencegah infeksi-infeksi virus  Komunis Tiongkok.

Tiongkok belum menyetujui vaksin COVID-19 dari luar negeri. Tiongkok menyetujui lima vaksin buatan Tiongkok — tiga vaksin yang tidak aktif, satu vaksin adalah adenovirus, dan satu vaksin subunit protein — untuk penggunaan darurat.

Tiga vaksin buatan Tiongkok adalah tidak aktif  — buatan CoronaVac adalah Sinovac di Beijing, Sel Vero adalah buatan Sinopharm di Wuhan, dan vaksin buatan Sinopharm di Beijing — telah ditawarkan dan dikirim ke negara-negara lain pada bulan-bulan terakhir ini.

Uji-uji coba vaksin CoronaVac tahap-terakhir klinis yang dijalankan di Brasil, terbukti memiliki kemanjuran 50,4 persen — hampir melampaui 50 persen  ambang batas WHO untuk persetujuan regulasi.

Vaksin-vaksin Sinopharm yang dilemahkan diuji dalam uji klinis tahap terakhir di Peru, tempat ilmuwan Peru bernama Ernesto Bustamante mengungkapkan, “kemanjuran vaksin Sinopharm buatan Wuhan adalah 33,3 persen, dan vaksin buatan Sinopharm di Beijing adalah 11,5 persen.”

Dosis Ketiga

Informasi mengenai efektivitas vaksin-vaksin buatan Tiongkok dan efek sampingnya telah disensor di Tiongkok.

Pada 20 Maret, Gao Fu mengatakan kepada media milik negara CCTV bahwa dua dosis vaksin COVID-19 buatan Tiongkok  mungkin tidak cukup. Sedangkan dosis ketiga mungkin cukup diperlukan untuk mencegah infeksi-infeksi.

“Antibodi-antibodi dalam tubuh [yang diproduksi setelah mengambil vaksin-vaksin yang tidak aktif] mungkin tidak begitu baik untuk mencegah infeksi pernapasan,” kata Gao Fu.

Wawancara Gao Fu adalah sebagai tanggapan atas tindakan yang diambil di Uni Emirat Arab, di mana distributor vaksin mengatakan akan mulai menawarkan sebuah dosis ketiga vaksin tersebut pada bulan Maret. Dikarenakan, terkait kemanjurannya yang rendah. Uni Emirat Arab menyetujui vaksin Sinopharm pada tahun 2020.

Hong Kong mengumumkan bahwa setidaknya 12 dari total 412.800  orang-orang yang telah divaksin, meninggal dunia setelah menerima dosis pertama vaksin Sinovac, walaupun  pihak berwenang mengatakan vaksin itu tidak terkait langsung dengan kematian.

Zhou Na, seorang penduduk dari kota Qingdao di timur Tiongkok, mengatakan kepada The Epoch Times dalam wawancara telepon pada tanggal 9 April, bahwa ia mengetahui seorang warga yang meninggal dunia setelah vaksinasi.

“Dokter mengatakan ia menderita penyakit kronis dan tidak membaca petunjuk vaksin tersebut dengan teliti,” kata Zhou Na. Rumah sakit mengatakan bahwa kematian tersebut bukanlah sebuah  malpraktik medis, dan menolak membayar kompensasi apa pun kepada keluarga itu.”

Zhou Na mengatakan, ia diminta untuk menandatangani dokumen yang memuat banyak halaman sebelum divaksin yang mencantumkan jenis pasien berbeda yang tidak dapat divaksin.

“Dokumennya sangat panjang. Kami pikir kami sehat. Kami baru saja menandatangani kertas itu [tanpa membaca] dan mendapatkan suntikannya,” kata Zhou Na. Semua keluarganya telah  menerima vaksin tersebut dalam seminggu terakhir. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular