Jack Phillips

Denmark menjadi negara pertama di Eropa yang sepenuhnya meninggalkan vaksin AstraZeneca COVID-19, setelah Denmark dan banyak negara Uni Eropa lainnya menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Direktur badan kesehatan Denmark, Soren Brostrom, mengatakan Denmark tidak akan menggunakan suntikan vaksin AstraZeneca sebagai bagian kampanye vaksinasi — meskipun Organisasi Kesehatan Dunia dan Badan Pengawas Obat Eropa milik Uni Eropa yang mengatakan, manfaat-manfaat menggunakan suntikan AstraZeneca lebih besar daripada efek negatifnya. Pernyataan itu disampaikan di tengah maraknya laporan-laporan adanya pembekuan darah yang langka.

“Secara keseluruhan, kami harus mengatakan bahwa hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa ada sebuah tanda efek samping yang nyata dan serius dalam vaksin dari AstraZeneca,” kata Soren Brostrom di sebuah pernyataan. 

“Berdasarkan sebuah pertimbangan yang menyeluruh, maka kami memilih untuk melanjutkan program vaksinasi untuk semua kelompok sasaran tanpa vaksin ini,” ujarnya. 

Memperhatikan bahwa ini adalah sebuah “keputusan yang sulit” untuk dibuat, Soren Brostrom mengatakan “kelompok-kelompok sasaran untuk vaksinasi yang akan datang cenderung kurang menderita sakit parah akibat COVID-19.” Sedangkan para pejabat “harus mempertimbangkan fakta, bahwa kita saat ini memiliki sebuah risiko yang diketahui mengenai efek-efek samping yang parah akibat vaksinasi dengan menggunakan vaksin AstraZeneca, meskipun risiko secara absolut adalah kecil.”

Para pejabat Denmark sebelumnya mengatakan bahwa, ada dua orang yang telah menerima vaksin AstraZeneca untuk melawan virus Komunis Tiongkok menderita pembekuan darah yang parah. Salah satu dari mereka meninggal dunia, kata para pejabat Denmark  pada bulan lalu.

Virus Komunis Tiongkok, juga dikenal sebagai jenis Coronavirus yang baru, adalah virus penyebab COVID-19. Pada Maret lalu, sebagian besar daerah di Denmark yang berhenti menggunakan vaksin AstraZeneca akhirnya kembali menggunakan vaksin AstraZeneca.

Pada 7 April, Badan Pengawas Obat Eropa mengatakan, bahwa ada sebuah “kemungkinan hubungan” antara pembekuan darah yang langka dengan vaksin, menambahkannya : “mengingatkan para profesional kesehatan dan orang-orang yang menerima vaksin tersebut, untuk tetap waspada terhadap kemungkinan kasus pembekuan darah yang sangat jarang. Yang mana, dikombinasikan dengan rendahnya jumlah trombosit darah yang terjadi dalam waktu 2 minggu setelah vaksinasi.”

Pernyataan tersebut melanjutkan: “Sejauh ini, sebagian besar kasus yang dilaporkan terjadi pada wanita di bawah usia 60 tahun, dalam waktu 2 minggu setelah vaksinasi. Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, faktor-faktor risiko yang spesifik belum dipastikan.”

Keputusan untuk tidak menggunakan suntikan vaksin AstraZeneca, akan membatalkan kesimpulan skema vaksinasi Denmark yang dijadwalkan dari  25 Juli hingga awal bulan Agustus, kata para pejabat Denmark. Denmark juga menggunakan vaksin Pfizer/ BioNTech buatan Amerika Serikat, yang membutuhkan dua suntikan.

Denmark juga merupakan negara pertama yang berhenti menggunakan vaksin AstraZeneca pada  Maret.

The Epoch Times telah menghubungi AstraZeneca untuk memberikan komentar.

AstraZeneca mengatakan pada Maret, bahwa pihaknya “ingin menawarkan jaminannya mengenai  keamanan vaksin COVID-19 berdasarkan bukti ilmiah yang jelas,” menambahkan bahwa “sebuah tinjauan yang cermat terhadap semua data keamanan yang tersedia, lebih dari 17 juta orang yang divaksin di Uni Eropa dan Inggris dengan vaksin COVID-19 AstraZeneca, tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko  emboli paru, trombosis vena dalam (DVT), atau trombositopenia, pada semua kelompok usia, jenis kelamin, kelompok atau di negara tertentu yang ditentukan.”

Minggu ini, Badan Kesehatan Amerika Serikat menganjurkan, agar suntikan tunggal vaksin Johnson&Johnson ditangguhkan di tengah maraknya laporan terjadinya pembekuan darah. 

Langkah tersebut  dikecam oleh mantan Presiden Donald Trump, yang mana dalam sebuah pernyataan, mengatakan bahwa ia yakin vaksin Johnson&Johnson  dihentikan dikarenakan “kemungkinan adanya alasan-alasan politik”. Pasalnya,  Administrasi Makanan dan Obat lebih “mencintai Pfizer.” (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular