oleh Han Rui

Studi dari Israel menemukan bahwa proporsi orang yang divaksinasi dengan Pfizer ternyata mencapai 8 kali lebih mungkin terinfeksi virus varian Afrika Selatan dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi. 

Seiring percepatan proses produksi vaksinasi di Amerika Serikat, jumlah kasus positif terinfeksi virus komunis Tiongkok atau COVID-19 yang baru di Amerika Serikat juga ikut meningkat. Di Michigan, salah satu negara bagian yang terkena dampak paling parah, tingkat diagnosis positif terinfeksi telah mencapai 18%.

Dalam sepekan terakhir, jumlah warga Amerika Serikat yang divaksinasi dalam sehari adalah 4,6 juta jiwa lebih, kembali mengukir rekor baru.

Jumlah kasus baru dan rawat inap di Amerika Serikat masih terus meningkat. Diantaranya, wilayah tengah barat Amerika Serikat merupakan daerah yang paling parah. 

Menurut data dari Universitas Johns Hopkins, pekan lalu rata-rata setiap harinya ada lebih dari 68.000 orang didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok. Angka itu naik 20% dibandingkan dengan sebulan yang lalu.

Di Negara Bagian Michigan yang paling parah orang terinfeksi virus komunis Tiongkok saat ini, jumlah kasus baru dan rawat inap telah meningkat selama 7 minggu berturut-turut, dan tingkat diagnosis saat ini telah mencapai 18%, angka tertinggi sejak musim semi tahun lalu.

Gubernur Gretchen Whitmer mengumumkan pada Senin 12 April lalu bahwa mereka akan memperpanjang pemberlakuan larangan berkegiatan di tempat kerja selama enam bulan. sehingga para pekerja hanya bisa bekerja dari rumah.

Pakar kesehatan telah mengingatkan negara bagian lain di Amerika Serikat untuk memperhatikan wabah yang terjadi di Michigan.

Studi : Vaksin Pfizer kurang efektif melawan varian virus Afrika Selatan

Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv, Israel yang dirilis pada 10 April menemukan bahwa varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan dapat menerobos pertahanan vaksin Pfizer sampai batas tertentu.

Kesimpulan menemukan bahwa dari jumlah orang yang terinfeksi virus komunis Tiongkok, hanya 1% yang terinfeksi varian virus Afrika Selatan. Namun, setelah menerima dua dosis suntikan vaksin Pfizer, malahan jumlah terinfeksi varian virus Afrika Selatan naik menjadi 5,4%, sementara bagi mereka yang belum menerima vaksinasi, hanya 0,7% yang terinfeksi varian virus Afsel ini.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa vaksin Pfizer kurang efektif dalam melawan varian virus Afrika Selatan dibandingkan dengan melawan virus COVID-19 dan varian virus Inggris – B 1.1.7. (sin)

 

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular