oleh Luo Tingting

Akibat seringnya Xi Jinping menyerukan kepada militer untuk bersiap menghadapi perang, sampai para siswa sekolah menengah pun tak luput dari incaran pemerintah komunis Tiongkok. Dalam pengumuman yang baru dikeluarkan pihak berwenang komunis Tiongkok disebutkan bahwa para siswa sekolah menengah atas selama periode tiga tahun bersekolah wajib berpartisipasi dalam pelatihan dan pengajaran militer yang diadakan di sekolahan, dan tidak boleh kurang dari 56 jam pelajaran yang diikuti dalam kelas. 

Pada 13 April 2021, Kementerian Pendidikan Tiongkok dan Departemen Mobilisasi Pertahanan Nasional Komisi Militer Pusat, secara resmi merilis “Silabus Pelatihan Militer untuk Siswa Sekolah Menengah Atas” yang rencananya akan dilaksanakan mulai 1 Agustus mendatang.

Pada pengantar silabus tersebut disebutkan bahwa, dalam rangka melaksanakan “persyaratan fundamental untuk tujuan penguatan militer” dan “memperkuat pembangunan cadangan pertahanan negara”. Maka pemerintah merumuskan silabus ini untuk mengatur secara komprehensif tentang penyelenggaraan pelatihan militer bagi para siswa SMA.

Silabus tersebut menetapkan bahwa pengajaran pelatihan militer untuk siswa sekolah menengah atas meliputi dua bagian, yakni “Pengetahuan Dasar Militer” dan “Keterampilan Militer Dasar”. Total waktu pengajaran adalah 7 hingga 14 hari, dan totalnya tidak boleh kurang dari 7 hari dan 56 jam pelajaran. 

“Pengetahuan Dasar Militer” memiliki total 24 jam pelajaran, 12 di antaranya adalah jam pelatihan wajib yang isinya termasuk mempelajari “Pemikiran Xi Jinping tentang Penguatan Angkatan Perang”, “Sistem Kepemimpinan Angkatan Perang”, “Pengetahuan Dasar tentang Layanan dan Senjata” dan lainnya.

Selain itu, total untuk menguasai keterampilan dasar militer adalah 88 jam, dan pelajaran yang wajib diikuti siswa adalah latihan dan disiplin baris berbaris sebanyak 44 jam, pelatihan elektif memiliki waktu 44 jam, termasuk latihan menembak dengan senjata ringan, menjatuhkan bom dan sebagainya.

Pihak berwenang telah mengeluarkan perintah tegas mengenai larangan bagi semua sekolah menengah di Tiongkok, untuk mengurangi konten pelatihan militer dan jam pelajaran yang telah ditetapkan. Tetapi, mendorong sekolah untuk membuka kelas kursus yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan tentang kemiliteran, pelatihan atau pengajaran keterampilan militer untuk memperluas konten pelatihan militer.

Selain itu, pihak sekolahan juga diminta untuk memberi penilaian terhadap kinerja pelatihan militer siswa, yang mana rapor tersebut dapat digunakan sebagai konten referensi penting bagi siswa bersangkutan untuk masuk dinas militer. Sedangkan instruktur pelatihan kelompok keterampilan militer, umumnya ditunjuk oleh para kader yang masih aktif bertugas di pasukan, pasukan cadangan, dan para kader milisi. Akan tetapi, pihak sekolahan juga dapat mempekerjakan pensiunan tentara untuk berpartisipasi sebagai pembimbing pelatihan bagi siswa.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, pemerintah komunis Tiongkok dengan nada tinggi terus mempropagandakan tuntutan Xi Jinping kepada warga daratan Tiongkok untuk “bersiap menghadapi perang”, dan terus melakukan provokasi di perairan sekitarnya, menciptakan suasana ketegangan dengan negara-negara tetangga. Bahkan, tak segan-segan untuk melibatkan para siswa sekolah menengah ke dalam barisan persiapan perang.

Tahun ini merupakan tahun ke-100 berdirinya Partai Komunis Tiongkok (PKT). Xi Jinping telah berulang kali menekankan persiapan untuk berperang, mengklaim bahwa PKT sedang mengalami perubahan baru yang mengharuskan seluruh tentara untuk “menaruh semua pemikiran dan perhatiannya pada persiapan untuk menghadapi perang, dan tetap mempertahankan kewaspadaan tingkat tinggi”.

Bersamaan dengan itu, militer komunis Tiongkok tidak henti-hentinya “berulah” di perairan Laut Tiongkok Selatan, Selat Taiwan, dan Laut Tiongkok Timur, melecehkan Taiwan, Jepang, Filipina dan negara lain, membuat suasana di perairan Indo-Pasifik mencekam. Para ahli berpendapat bahwa penekanan Xi Jinping pada persiapan perang memiliki makna eksternal dan peringatan internal.

Baru-baru ini, pesawat militer komunis Tiongkok berulang kali mengganggu Taiwan dengan memasuki wilayah udara Taiwan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada saat yang sama, PKT juga mengirimkan formasi kapal induk untuk melakukan latihan di perairan sekitar Taiwan, yang maknanya tak lain adalah meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan.

Banyak pejabat tinggi militer AS telah memperingatkan bahwa, Xi Jinping memandang serangan terhadap Taiwan sebagai pencapaian pribadinya, dan tidak menutup kemungkinan dalam jangka pendek ini ia mengambil risiko lebih besar untuk menyerang Taiwan.

Menanggapi provokasi PKT, Taiwan telah mulai memperkuat kemampuan pertahanan militernya, dan Amerika Serikat juga bersatu dengan Jepang dan sekutu lainnya untuk mempersiapkan pertahanan terkoordinasi dengan Taiwan.

Di sisi lain, Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-20 yang menentukan jabatan kepala negara akan berlangsung pada tahun 2022, apakah jabatan kepala negara Xi Jinping dapat dipertahankan atau tidak masih menjadi tanda tanya. Banyak kalangan politisi dalam partai yang tidak senang dengan Xi, untuk memperingatkan pihak oposisi itulah, Xi Jinping menunjukkan kekuatan militernya.

Namun, komentator Yue Shan berpendapat bahwa, militer komunis Tiongkok bukanlah sebuah angkatan perang yang kuat. Akan tetapi, sebuah kekuatan yang penuh dengan korupsi den kolusi, sehingga efektivitas tempurnya mengkhawatirkan. Setelah Xi Jinping berkuasa, dia dengan giat memberantas korupsi di militer, menjatuhkan sekelompok “harimau militer” seperti Xu Caihou dan Guo Boxiong yang mantan wakil ketua Komisi Militer. Namun, kekuatan faksi Jiang di kalangan militer, masih banyak dan saling terkait, banyak perwira tinggi yang hatinya bercabang sekarang lantaran tidak puas dengan kinerja Xi Jinping. Jika perang benar-benar terjadi, apakah mereka tidak kemudian berbalik mengarahkan senjatanya ke Xi Jinping ? Tidak mudah untuk menjawabnya. (sin)

Share

Video Popular