The Associated Press

Dua kota terbesar di India memberlakukan pembatasan yang ketat terhadap pergerakan dan satu kota terbesar, berencana menggunakan hotel-hotel dan ruang-ruang perjamuan untuk mengobati para penderita COVID-19. Itu karena infeksi-infeksi baru di India melampaui 200.000 kasus pada  Kamis (15/4/2021), di tengah sebuah gelombang dahsyat yang membebani sebuah sistem kesehatan yang rapuh.

Melonjaknya kasus dan kematian yang terjadi, hanya beberapa bulan setelah India memperkirakan India telah menyaksikan pandemi yang terburuk — dan memaksa India untuk menunda ekspor-ekspor vaksin-vaksin ke luar negeri. 

India adalah sebuah penghasil utama vaksin untuk COVID-19, dan poros India untuk fokus pada permintaan domestik telah sangat membebani upaya-upaya global untuk mengakhiri pandemi.

New Delhi mengumumkan perintah-perintah untuk tinggal di rumah selama akhir pekan, walaupun para pekerja esensial masih boleh beraktivitas jika mereka memiliki izin dari pihak berwenang setempat. Restoran, mal, gym, dan spa akan ditutup. Bioskop akan tutup pada akhir pekan, tetapi dapat beroperasi pada hari kerja di mana hanya diperbolehkan memuat sepertiga kapasitas bioskop.

Arvind Kejriwal, pejabat tertinggi Delhi, mengatakan meski terjadi peningkatan kasus infeksi, 5.000 tempat tidur rumah sakit masih tersedia di ibukota India itu dan banyak lagi kapasitas sedang ditambahkan. Tetapi tetap saja, lebih dari selusin hotel dan ruang-ruang perjamuan pernikahan, diperintahkan untuk diubah menjadi pusat-pusat COVID-19 di mana para dokter dari rumah sakit terdekat akan merawat orang yang menderita sakit ringan.

“Lonjakan itu mengkhawatirkan,” kata S.K. Sarin, ahli kesehatan pemerintah di New Delhi.

Pergerakan-pergerakan di ibukota India itu, terjadi setelah tindakan-tindakan serupa diberlakukan di negara bagian Maharashtra yang paling parah terkena dampak, pusat modal keuangan, Mumbai. 

Kesibukan kota terbesar di India itu surut setelah pihak berwenang menutup sebagian besar industri, bisnis dan tempat umum pada Rabu malam 14 April. Otoritas setempat juga membatasi pergerakan orang selama 15 hari. Namun, perjalanan kereta api dan pesawat masih diperbolehkan.

Dalam beberapa hari terakhir, Mumbai menyaksikan sebuah eksodus para pekerja harian yang dilanda kepanikan, mengangkut ransel dan berbondong-bondong ke kereta api yang penuh sesak.

Puluhan kota kecil dan kota besar lainnya juga memberlakukan jam malam.

Lonjakan kasus membebani rumah sakit di Maharashtra, Madhya Pradesh, Gujarat dan beberapa negara bagian lainnya, di mana banyak yang melaporkan terjadi kekurangan tangki oksigen. Imran Sheikh, seorang penduduk kota Pune di Maharashtra, mengatakan ia diminta untuk memasok tangki oksigennya sendiri untuk seorang kerabat yang menjalani perawatan COVID-19.

Tempat kremasi dan pemakaman di daerah yang paling parah terkena dampaknya. Dikarenakan kesulitan untuk mengatasi meningkatnya jumlah jenazah yang tiba untuk upacara terakhir, menurut laporan-laporan media India.

Shahid Jamil, seorang virologi India, mengatakan pemilihan umum setempat dan negara bagian baru-baru ini, bersama dengan demonstrasi politik besar-besaran dan festival besar Hindu yang dihadiri ratusan ribu  umat yang mandi di sungai Gangga adalah kejadian-kejadian yang menyebarkan COVID-19 dengan sangat luas.

Sebanyak 200.739 Kasus infeksi baru yang tercatat pada Kamis 15 April, adalah sekitar dua kali lipat jumlah kasus harian yang tercatat selama puncak terakhir, pada September. Kementerian Kesehatan juga melaporkan 1.038 kematian akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir, mendorong kasus kematian lebih dari 173.000 kasus.

Jumlah terinfeksi di India sebanyak 14 juta kasus menempatkan India di urutan kedua setelah Amerika Serikat.  India menempati urutan keempat dalam kematian setelah Amerika Serikat, Brasil, dan Meksiko — meskipun, hampir 1,4 miliar orang, India memiliki populasi yang jauh lebih besar daripada negara-negara lain. Para ahli bahkan mengatakan, angka-angka ini cenderung kurang dari jumlah tersebut. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular