Li Lan

Kantor Berita TASS Rusia melaporkan Rusia telah memberlakukan larangan atau pembatasan penerbangan sipil di wilayah tertentu di Laut Hitam dan Krimea. 

Sehari sebelumnya, Rusia baru saja mengumumkan akan melarang kapal perang asing melayari sebagian wilayah Laut Hitam dalam waktu enam bulan. Saat bersama terjadi peningkatan penempatan angkatan perang Rusia di perbatasannya. 

Gambar yang disediakan oleh Perusahaan Pencitraan Satelit AS, MAXAR  menunjukkan bahwa dari 27 Maret-16 April 2021, pertahanan militer Rusia di wilayah Krimea terlihat  aktif. Rusia nampaknya meningkatkan penempatan armada perangnya. 

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba  pada Selasa (20/4/) memperkirakan jumlah pasukan Rusia yang berkumpul di perbatasan antara Ukraina dan Rusia, akan melebihi 120.000 personil minggu ini. Jumlah ini  lebih besar dari penempatan angkatan perang, ketika Rusia menyerbu Krimea pada tahun 2014.

Dmytro Kuleba mengatakan, pihaknya tidak yakin apakah Moskow telah memutuskan untuk memulai babak baru invasi Ukraina. Akan tetapi, yang pasti menunjukkan mereka akan siap dalam beberapa minggu.

Ukraina meminta dukungan komunitas internasional untuk mencegah tindakan Rusia lebih lanjut, melalui sanksi ekonomi yang kuat.

Komentator Heng He menilai, Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat terlibat dalam memanasnya situasi diplomatik Rusia. Dari sudut pandang Rusia, Putin mengupayakan terpilih kembali sebagai Presiden. Meskipun Putin tidak dapat menang secara legislatif, pasalnya kekuatan oposisi domestik tidak dapat diabaikan . Bagi Putin, tindakan keras atau bahkan memobilisasi pasukan dinilai efektif. Misalnya, ketika Krimea dianeksasi tahun 2014, tingkat dukungan terhadap dirinya mengalami peningkatan.”

Pada Senin, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan “keprihatinan yang mendalam” tentang tindakan Rusia. Juru bicara Kemenlu AS, Ned Price mengatakan bahwa tindakan rusia adalah “eskalasi tanpa alasan” dari situasi tersebut.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell dan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab juga  menyatakan, “keprihatinan yang kuat” dan “keprihatinan serius” tentang situasi di kawasan itu.

Dominic Raab mengatakan, pihaknya bertujuan untuk menghentikan Rusia, meyakinkan Ukraina, dan menurunkan eskalasi. 

Ketika Rusia meningkatkan operasi di wilayah Krimea dan Laut Hitam, Duta Besar AS untuk Rusia, John Sullivan mengumumkan pada Selasa bahwa ia akan kembali ke Amerika Serikat dalam minggu ini. Sullivan mengatakan dalam pernyataannya mengatakan, sangat penting untuk berbicara tatap muka dengan kolega baru di pemerintahan Biden di Washington. Tak lain, untuk membahas keadaan saat ini dari hubungan bilateral AS-Rusia.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menanggapi kembalinya duta besar AS dengan mengatakan, bahwa itu mencerminkan rendahnya hubungan Rusia-AS.

Komentator Heng He menuturkan, bagi pemerintahan Biden, tak diragukan lagi ini adalah cara teraman dan paling efektif untuk menyatukan sekutu, kembali ke dunia, dan menyerang Rusia. Menurut Heng He, ada banyak kekuatan di Amerika Serikat yang juga sangat berharap untuk mengalihkan perhatian mereka terhadap ancaman Komunis Tiongkok melalui pendekatan garis keras ke Rusia. 

Saat ini, sudah waktunya bagi pemerintahan Biden untuk melanjutkan kebijakan Trump yang memperlakukan Komunis Tiongkok sebagai lawan utama. Pasukan pro-Komunis Tiongkok, telah membesar-besarkan ancaman Rusia, dan mereka tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu. “

Analisis tersebut percaya, dalam menanggapi eskalasi situasi, Amerika Serikat mungkin masih memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Rusia. Akan tetapi, masih dengan sanksi yang terbatas. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular