oleh Luo Tingting

Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping pada Selasa, 20 April menyampaikan pidato melalui video saat mengikuti acara Pembukaan Boao Forum for Asia tahun 2021. Diluar dugaan ia mengungkapkan dua kekhawatiran utamanya yang sedang dihadapi komunis Tiongkok, yakni tentang “pembangunan tembok” dan “pemisahan (decoupling) ekonomi”. Ia juga mengisyaratkan Amerika Serikat agar tidak bertindak sebagai “dirigen” bagi dunia. 

Belum lama ini, Perdana Menteri komunis Tiongkok Li Keqiang juga mendesak Amerika Serikat agar jangan mengambil tindakan pemutusan hubungan ekonomi (decoupling) dengan Beijing. Para analis berpendapat bahwa masalah decoupling ini memang belakangan ini menjadi kekhawatiran utama para petinggi republik komunisme itu.

Xi Jinping mengeluh terhadap peran ‘dirigen’ Amerika Serikat

Boao Forum tahunan 2021 diadakan di Pulau Hainan, Tiongkok pada 18 hingga 21 April. Pada 20 April XI Jinping menghadiri upacara pembukaan pertemuan tahunan forum melalui video dan menyampaikan pidato utama.

Dalam pidatonya, Xi Jinping tiba-tiba menyindir tentang adanya pihak- pihak yang melakukan “pembangunan tembok” dan “pemisahan ekonomi” secara artifisial pada era globalisasi ini yang akan merugikan orang lain dan diri sendiri.

Xi Jinping mengatakan bahwa masa depan dan takdir dunia harus berada di tangan semua negara. Aturan yang ditetapkan oleh satu atau beberapa negara tidak boleh dipaksakan kepada negara lain, dan juga jangan sampai suatu negara memerankan “dirigen” bagi dunia. 

Sebuah negara besar perlu memperlihatkan diri sebagai negara besar, dan perlu menunjukkan tanggung jawab yang lebih banyak.

Publik tidak ragu bahwa “suatu negara” dan “negara besar” yang disebutkan Xi Jinping itu jelas mengacu pada Amerika Serikat. 

Pada 5 April, sebelum KTT Amerika Serikat dan Jepang di Gedung Putih, Menteri Luar Negeri komunis Tiongkok Wang Yi secara aktif berbicara melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, mengancam pemerintah Jepang agar berhenti mengikuti “ritme dirigen” Amerika Serikat. 

Pada 16 April, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengeluarkan pernyataan bersama setelah pembicaraan mereka. 

Kedua negara akan bersama-sama menanggapi ancaman dan tantangan yang ditimbulkan oleh pemerintah komunis Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, dan menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat dan Jepang akan bergabung dalam upaya melindungi Taiwan.

Apa yang disinggung Xi Jinping dalam pidatonya mengenai “pemaksaan kehendak dari satu atau beberapa negara” seharusnya menyiratkan hal sanksi kepada komunis Tiongkok terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang yang diberikan oleh Amerika Serikat bersama Inggris, Uni Eropa, dan Kanada. 

Yang pasti pemerintah komunis Tiongkok menjadi sangat kesal dengan hal ini, sampai-sampai secara berturut-turut membalas dendam dengan memberikan sanksi juga kepada sejumlah politisi dari banyak negara. Sementara mereka yang terkena sanksi dengan suara bulat menyampaikan, “Kita tidak peduli dengan ulah komunis Tiongkok itu.”

Dua kekhawatiran utama Xi Jinping dan Li Keqiang

Hal yang menarik perhatian kalangan luar adalah mengenai “pembangunan tembok” dan “pemisahan ekonomi” yang disinggung  Xi Jinping dalam pidatonya di Boao Forum. Katanya bahwa “pembangunan tembok” dan “pemisahan ekonomi” itu tidak sesuai dengan teori ekonomi dan melanggar aturan pasar, hal ini justru mengungkapkan kekhawatiran utama yang dirasakan oleh para petinggi komunis Tiongkok.

Analis menjelaskan bahwa apa yang dimaksud oleh Xi Jinping tentang “pembangunan tembok” sebenarnya adalah upaya Amerika Serikat mengajak banyak negara di seluruh dunia untuk mengisolasi komunis Tiongkok melalui militer, ekonomi, hak asasi manusia serta bidang lainnya. Membiarkan komunis Tiongkok terisolasi dalam “tembok.”

Pada saat yang sama, Amerika Serikat semakin memisahkan diri dalam aspek ekonomi, teknologi, dan lainnya dengan komunis Tiongkok. Salah satu contohnya adalah, Joe Biden tidak mengundang pihak komunis Tiongkok untuk mengikuti konferensi tingkat tinggi – KTT CEO dari 19 perusahaan teknologi dunia yang diselenggarakan di Gedung Putih pada 12 April lalu. 

.Media corong Partai Komunis Tiongkok “Global Times” dengan kesal mengklaim bahwa konferensi tingkat tinggi chip yang dipimpin oleh Amerika Serikat itu merupakan konspirasi untuk memisahkan diri dengan Tiongkok di bidang semikonduktor.

Dunia luar telah memperhatikan bahwa bukan hanya Xi Jinping yang khawatir tentang decoupling ekonomi antara Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok, tetapi Perdana Menteri Li Keqiang juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama beberapa hari lalu.

Pada 13 April, Li Keqiang ikut berpartisipasi dalam konferensi online dengan para pebisnis Amerika Serikat, yang pesertanya ada perwakilan dari US-China Business Council serta ketua serta CEO dari 20-an perusahaan multinasional Amerika yang terkenal.

Li Keqiang memohon kepada mereka agar tidak melakukan decoupling ekonomi dengan Tiongkok. Li Keqiang mengatakan bahwa “pemisahan” tidak akan menguntungkan siapa pun, dan untuk itu komunis Tiongkok berjanji akan “membuka lebih lebar pintu kepada dunia luar”.

Pada hari yang sama, Cong Peiwu, utusan Tiongkok untuk Kanada, dalam pertemuan di Komite Hubungan Luar Negeri Montreal juga mengatakan bahwa dirinya merasa prihatin dengan kian  meningkatnya seruan dari Barat untuk decoupling ekonomi dengan komunis Tiongkok. Karena itu ia mengusulkan agar pemerintah komunis Tiongkok lebih memperkuat kerja samanya dengan Kanada.

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional yang merupakan bagian dari Dewan Negara Tiongkok juga diluar dugaan mengadakan pertemuan meja bundar dengan para CEO perusahaan Amerika Serikat yang beroperasi di daratan Tiongkok, dan mengklaim bahwa pihaknya berkomitmen untuk memperluas keterbukaan pasar bagi perusahaan asing. Para undangan termasuk eksekutif puncak dari perusahaan Amerika Serikat seperti Tesla, Qualcomm, Dell dan lainnya.

Untuk itu, Bloomberg dalam laporannya menyebutkan bahwa tindakan langka komunis Tiongkok ini karena Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok sebelumnya tidak pernah melakukan dialog serupa dengan perusahaan Amerika Serikat.

Faktanya, Li Keqiang yang sangat memahami seluk-beluk ekonomi komunis Tiongkok udah entah berapa kali mendesak Washington untuk tidak melakukan decoupling ekonomi dengan Beijing. Pakar uruan Tiongkok Gordon G. Chang pernah menjelaskan bahwa hanya melalui decoupling pencurian hak kekayaan intelektual Amerika oleh komunis Tiongkok dapat dihentikan. Jadi tidak heran jika Amerika Serikat memilih untuk memisahkan diri. Tentu saja Li Keqiang khawatir jika decoupling ini menjadi kenyataan.

Washingtong memiliki 6 “Kartu As” yang membuat tidak takut decoupling dengan Beijing

Kekhawatiran Li Keqiang bukannya tidak berdasar. Pada 17 Februari, Senator Amerika Serikat, Tom Cotton mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul “Beat China : Targeted Decoupling and the Economic Long War” atau “Kalahkan Tiongkok dengan decoupling bertarget dan perang ekonomi jangka panjang”. 

Media Amerika Serikat ‘Vox’ menilai laporan Tom Cotton itu sebagai strategi paling rinci dalam melakukan persaingan jangka panjang dengan komunis Tiongkok.

Cotton adalah ketua Sub Komite Kebijakan Ekonomi Kongres yang sebelumnya sudah akrab dengan informasi paling sensitif dalam hubungan ekonomi Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok. 

Dalam laporan setebal 84 halaman ini, Cotton mengungkapkan bahwa dalam hubungan ekonomi Washington – Beijing, Beijing lebih membutuhkan Washington daripada sebaliknya. Jadi Amerika Serikat memegang enam “Kartu As” di tangan untuk merasa tidak khawatir memisahkan diri secara ekonomi dengan komunis Tiongkok.

Penjelasan dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa ketergantungan Beijing terhadap Washington terutama tercermin dalam enam aspek, termasuk penelitian dan teknologi kelas atas, investasi asing, akses pasar saham Amerika Serikat, sistem penyelesaian keuangan dalam dolar Amerika Serikat, pangsa pasar Amerika Serikat, dan pendidikan tinggi.

Tom Cotton memperkenalkan laporan ini dalam pidatonya di Reagan Institute. Ia mengatakan secara blak-blakan bahwa perselisihan antara Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok adalah “pertempuran senja” yang berlangsung lama yang menentukan nasib dunia.

“Kita perlu mengalahkan kerajaan jahat ini dan melemparkan Partai Komunis Tiongkok ke dalam tungku kremasi sejarah,” kata Cotton. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular