Eva Fu

Penderitaan secara ekstrim dan tak bisa terpikirkan yang ditimbulkan oleh rezim Komunis Tiongkok terhadap praktisi spiritual Falun Gong menunjukkan sebagai tindakan totaliter Beijing.  Jika dibiarkan, pada akhirnya turut terjadi di dunia bebas.  

“Partai Komunis Tiongok berkembang karena ketidaktahuan dan sikap apatis orang-orang di seluruh dunia, ketika kita menutup mata kita, mereka memanfaatkan kelemahan kita dan melakukan kejahatan  tanpa terkendali,” kata Alan Adler, Ketua Friends of Falun Gong yang berbasis di New York. Hal demikian disampaikannya pada rapat umum Falun Gong di Flushing,  New York City, Amerika Serikat, pada Minggu (18/4/2021).

Alan Adler, ketua Friends of Falun Gong yang berbasis di New York, berbicara pada rapat umum di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Larry Dye / The Epoch Times)

Adler menyerukan orang-orang menggunakan “penangkal ketidaktahuan” dengan mengungkap “bahaya kanker” dari rezim. Ia juga mengatakan, membela kelompok agama yang dianiaya, “sama dengan membela kebebasan diri kita sendiri.”

Agar tetap berkuasa, kata Adler, rezim komunis Tiongkok memutuskan untuk menargetkan sebuah kelompok dalam setiap dekade, melabeli mereka sebagai “musuh rakyat.”  Bahkan selama pandemi, Partai Komunis Tiongkok tak mengendurkan penganiayaan terhadap orang-orang yang tak berdosa. Lebih parah lagi, menggunakan Lockdown untuk melancarkan penindasan terhadap orang-orang beriman sambil mengumpulkan informasi pribadi praktisi Falun Gong yang mencari perlindungan di luar negeri.

“Jika para imigran ini tak bebas dari cengkeraman PKT, apa yang bisa dikatakan tentang warga negara Amerika pada umumnya?, jika kita tidak membelanya, para penindas akan semakin berani untuk memperluas tindakan mereka. Jika kita tidak membela saat ini, kita mungkin tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukannya di masa depan, dan tidak akan ada lagi yang membela kita,” ujarnya.

Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

Sebelum rapat umum digelar, sekitar 1.000 pengikut dan pendukung Falun Gong di New York berbaris di jalan-jalan dalam parade pertama mereka sejak awal pandemi pada tahun lalu.

Mereka memperingati tiga prinsip “Sejati —Baik-Sabar” dari disiplin spiritual Falun Gon yang dianiaya dengan kejam di Tiongkok sejak 1999. Kegiatan tersebut juga dalam rangka memperingati  22 Tahun  seruan bersejarah 25 April 1999.

Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

Untuk diketahui, pada 25 April 1999 silam, sekitar 10.000 pengikut Falun Gong berkumpul dengan damai di markas besar Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Zhongnanhai, Beijing. Mereka menyerukan kepada pihak berwenang memulihkan lingkungan mereka agar bisa dengan bebas mempraktikkan keyakinan mereka dan membebaskan puluhan rekan praktisi yang ditangkap beberapa hari sebelumnya.

Chen Fayuan (Tengah), seorang pemain Erhu berusia 16 tahun, pada rapat umum di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Larry Dye / The Epoch Times)

Meskipun pejabat senior Partai Komunis Tiongkok pada awalnya mengabulkan permintaan para pembuat petisi, rezim Komunis Tiongkok segera meluncurkan kampanye secara total yang menargetkan  sekitar 70-100 juta pengikut untuk ditangkap, dijebloskan ke kamp kerja paksa, menjadi target pengambilan organ, dan berbagai metode penyiksaan lainnya yang dirancang untuk melepaskan keyakinan mereka.

Chen Fayuan, seorang pemain Erhu berusia 16 tahun yang sedang studi di negara bagian New York, menceritakan pada suatu ketika kedua orangtuanya yang tinggal di Tiongkok sedang mempelajari buku Falun Gong yakni  “Zhuan Falun” di taman bersama teman-temanya,  lebih dari 20 petugas polisi, kebanyakan berpakaian preman tiba-tiba menerobos dan menangkap mereka. Polisi juga mengganggu kakek neneknya dan kini berusaha mencari keberadaan mereka. Tanpa disadari, Air mata Chen Fayuan mengalir di pipinya saat ia berbicara.

Chen Fayuan, seorang pemain Erhu berusia 16 tahun, pada rapat umum di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Larry Dye / The Epoch Times)

“Orangtua saya tidak melakukan kejahatan apa pun, tetapi mereka menderita penganiayaan karena mengikuti Sejati-Baik-Sabar,” katanya.

Chen menambahkan, jika dirinya tidak berada di luar negeri, dia juga mungkin  akan ditangkap bersama orangtuanya. “Mereka bahkan tidak akan melepaskan anak remaja seperti saya,” ujarnya.

Setelah sekian lama tak mendengar kabar dari keluarganya, Chen mengatakan dirinya berjibaku dengan kesepian, kecemasan, dan menangis sampai tertidur di malam hari. “Saya tidak tahu apakah mereka disiksa,” katanya.

Yulia Nova yang membagikan suvenir dan pamflet Falun Gong di sepanjang rute pawai, mengatakan dia “merasakan di dalam hati apa yang harus dilalui orang-orang ini” ketika dirinya pertama kali mengetahui tentang latihan Falun Gong.

Martha Flores-Vasquez, New York State Assembly, berbicara pada rapat umum di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

Sebelum pindah ke Amerika Serikat 22 tahun lalu, Nova dibesarkan di bekas Uni Soviet di mana semua anggota keluarga prianya adalah perwira militer komunis. Meski berada di lingkungan keluarga berada, banyak literatur yang mereka baca “diedarkan di bawah meja” karena dianggap illegal.

“Ini adalah keadaan pikiran di mana Anda tahu dengan kulit Anda betapa jahatnya partai komunis itu, itu bisa membawa Anda ke mana saja, tidak masalah [jika] Anda masih anak kecil atau sudah dewasa,” kata Nova kepada The Epoch Times.

Butuh waktu sekitar 10 tahun “hanya untuk menyadari betapa masyarakat di sana, dicuci otaknya” yang juga memotivasi dirinya untuk mendukung Falun Gong dan menjelaskan tentang penganiayaan. yang terjadi

“Untuk menjadi sejati ​​juga membutuhkan keberanian, terlepas dari semua perpecahan, kita harus bersatu sebagai gantinya, karena  akan memberikan kepada kita harapan untuk mengatasi apa pun yang datang kepada kita sebagai umat manusia secara keseluruhan.”

Martha Flores-Vasquez,  New York State Assembly, mengatakan pada dirinya menangis ketika menyaksikan pawai tersebut.

Ia mengatakan, teman baiknya kehilangan suaminya karena dia adalah seorang praktisi Falun Gong. Ia menambahkan  penganiayaan yang terus berlanjut telah mencapai “melampaui titik balik” dan “harus diakhiri.”

“Pada April tahun lalu saya kehilangan ayah saya dan saya mengetahui apa artinya kehilangan seseorang,” katanya kepada NTD, afiliasi dari The Epoch Times. (asr)

Seorang praktisi muda Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing pada 25 April. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Seorang praktisi muda Falun Gong membagikan bunga lotus pada sebuah pawai di Flushing, New York, pada tanggal 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing pada 25 April. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Bunga lotus akan dibagikan oleh praktisi Falun Gong pada pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong berbicara dengan orang yang lewat saat mereka mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Polisi bersiaga saat praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Larry Dye / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Pejalan kaki mengambil foto praktisi Falun Gong saat mereka mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing pada 25 April. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam pawai di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun permohonan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou / The Epoch Times)
Pada malam hari 18 April, beberapa praktisi Dafa di Greater New York menggelr acara menyalakan lilin di depan Kedutaan Besar Pusat di Manhattan untuk memperingati 22 tahun petisi 25 April dan mengekspos penganiayaan PKT terhadap Falun Gong . (Dai Bing / The Epoch Times)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular