Erabaru.net. Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Machali menyampaikan seruan agar dihentikannya serangan dan pengrusakan terhadap stand-stand pusat informasi Falun Gong (Falun Dafa) pada sejumlah titik di Hong Kong. Serangan yang dilakukan oleh preman suruhan rezim Komunis Tiongkok itu, berupa melakukan vandalisme, mengobar-abrik serta menggunakan pisau tajam.

“Melalui aksi protes damai di depan Kedubes Tiongkok di Jakarta ini, kami mengutuk dengan sangat keras tindakan vandalisme penghancuran Tempat Klarifikasi Falun Gong yang sedang terjadi di Hong Kong ini harus segera dihentikan,” katanya dalam aksi damai praktisi Falun Gong di Depan Kedutaan Besar Tiongkok, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu  (24/4/2021).

Dalam aksi tersebut, praktisi Falun Gong dengan tenang dan damai membentangkan spanduk yang bertuliskan “PKT (Partai Komunis Tiongkok) menindas HAM, merusak stan informasi Falun Gong di Hong Kong. Siapa Korban Berikutnya? Cinta Tiongkok, Bukan Berarti Mencintai Partai Komunis Tiongkok. “

Spanduk lainnya yang dibetangkan bertuliskan “Partai Komunis China Membunuh Ribuan Praktisi Falun Dafa dan Menjual Organnya.” Terlihat juga sejumlah orang-orang yang lewat di pedestrian Jalanan Mega Kuningan tersebut, menerima brosur penjelasan tentang Falun Gong yang diberikan oleh para praktisi Falun Gong.

BACA JUGA : Tujuh Stand Informasi yang Menguak Kejahatan Partai Komunis Tiongkok di Hong Kong Disabotase dalam Waktu 24 Jam

Sebagaimana juga ditulis di situs resminya,  id.falundafa.org, Falun Dafa, juga dikenal sebagai Falun Gong, adalah latihan spiritual yang telah dilatih dan menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang di seluruh dunia. Berakar pada tradisi aliran Buddha, terdiri dari dua unsur utama: peningkatan diri melalui belajar Fa, serta latihan gerakan lembut dan meditasi.

Dijelaskan, Falun Dafa memberikan kesempatan peningkatan spiritual melalui metode latihan. Ajarannya mendorong para praktisinya untuk berusaha melepaskan keterikatan hati yang tidak sehat ketika menyelaraskan kehidupan mereka dengan prinsip-prinsip dasar alam semesta: Sejati, Baik, dan Sabar.

Pada kesempatan aksi di siang hari tersebut, Gatot mengharapkan agar orang-orang mengetahui dan mengerti dengan jelas tentang tindakan yang dialami terhadap pusat Informasi Falun Gong di Hong Kong.  

“Kami mengharapkan kepada pemerintah dan orang-orang lurus di seluruh dunia untuk memperhatikan penghancuran Tempat Klarifikasi Falun Gong yang sedang terjadi di Hong Kong ini,’ ujarnya.

Tak hanya sebatas menyampaikan seruan dihentikan serangan tergadap Stand Falun Gong, para pelakunya juga dituntut agar diseret ke Pengadilan.   

“Pada saat yang sama, kami juga berharap pemerintah dan polisi Hong Kong dapat menangkap preman penjahat yang merusak Tempat Klarifikasi Falun Gong, dan melindungi kebebasan berbicara dan keselamatan orang-orang di Hong Kong,” katanya.

Menurut Gatot, sejak 20 Juli 1999, praktisi Falun Gong dengan damai dan rasional terus menentang penganiayaan selama 21 tahun.  Penganiayaan yang diderita oleh Falun Gong di Tiongkok, kata Gatot, masih berlanjut hingga hari ini, termasuk penyiksaan, penganiayaan hingga kematian, dan bahkan pengambilan organ tubuh secara hidup-hidup.

“Ini adalah penganiayaan paling paling keji terhadap sekelompok spiritual yang ingin menjadi Sejati Baik Sabar, yang tidak tertarik dengan politik dan kekuasaan duniawi. Sebuah kejahatan yang belum pernah ada sebelumnya di planet ini, ” imbuhnya.

Selain itu, Gatot mengatakan sejak 2001, praktisi Falun Gong Hong Kong secara teguh terus memberitahu orang-orang di jalanan tentang fakta kebenaran penganiayaan terhadap Falun Gong, menyerukan agar diakhirinya penganiayaan Falun Gong di Tiongkok. 

Dikatannya, Falun Gong tidak bersalah – Falun Gong adalah baik, Falun Gong bermanfaat bagi negara dan pemerintah mana pun tanpa membahayakan. Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 140 negara, dan telah ada ratusan juta orang yang berlatih Falun Gong di seluruh dunia.

Gatot juga menyampaikan meskipun dalam kondisi dianiaya, para praktisi tetap menyampaikan seruan mereka dengan damai.

“Praktisi Falun Gong yang pemberani dan tak kenal takut, dan teguh pada keberanian keyakinan pada kebenaran, kasih sayang dan toleransi. Mereka juga telah memberitahukan kepada masyarakat Hong Kong untuk secara damai dan rasional menentang penganiayaan dan mengatakan tidak kepada PKT,” bebernya.

Sementara itu, Koordinator Global Human Right Effort (GHURE), Fadjar Pratikto menyerukan agar aparat setempat segera menggelar penyelidikan untuk mengungkap secara terang benderang atas  serangan yang terjadi, termasuk percetakan koran bahasa mandarin, Epoch Times edisi Hong Kong.  

“Mendesak otoritas kepolisian Hong Kong untuk menyelidiki dan mengusut tuntas peristiwa teror yang terjadi pada stand informasi Falun Dafa di beberaps titik keramaian, serta pengrusakan terhadap percetakan The Epoch Times di Hong Kong,” katanya.  

Fadjar menyerukan agar para pelaku pengrusakan harus diproses secara hukum,  serta diadili secara terbuka. Hal itu diperlukan untuk memperjelas dugaan keterlibatan pemerintah Beijing di balik teror tersebut. 

Fadjar Pratikto juga mengingatkan tentang kondisi indeks kebebasan Hong Kong yang semakin tercoreng. Apalagi, pihak berwenang sendiri pernah berjanji  menerapkan ‘Satu Negara,  Dua Sistem Hukum.”

“Meminta kepada otoritas Hongkong untuk memberikan iklim yang kondusif bagi aktivitas Falun Gong dan penerbitan The Epoch Times edisi Hong Kong dengan menjamin kebebasan bereskpresi dan kebebasan pers sesuai dengan Konstitusi Hongkong 1997 dimana diterapkan “Satu Negara,  Dua Sistem Hukum,” katanya. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular