Jing Zhongming

India  mengumumkan lebih dari 340.000 kasus baru COVID-19 yang dikonfirmasi pada Sabtu (24 /4/2021). Kasus itu menjadikan rekor global dalam sehari untuk hari ketiga berturut-turut. Jumlah kematian dalam 24 jam adalah 2.624 orang, yang juga memecahkan rekor. 

Namun, karena ambruknya sistem medis di banyak bagian India, mungkin sulit bagi pemerintah untuk membuat statistik yang akurat. Beberapa analisis media menunjukkan, bahwa jumlah infeksi dan kematian sebenarnya jauh melebihi angka resmi.

Para ahli menunjukkan bahwa epidemi terjadi di luar kendali. Parahnya penularan terkait dengan wabah virus mutan ganda B.1.617 dan virus mutan tiga B.1.618 di negara itu. Virus varian ini, dapat mempercepat  penularan. Varian virus ini juga mampu melemahkan respons kekebalan tubuh terhadap virus.

Sudah sejak pertengahan Maret lalu, epidemi di India tidak terkendali, dan sistem medis nasional di ambang kehancuran. 

Sumber daya medis seperti tempat tidur rumah sakit, obat-obatan, oksigen, dan alat bantu pernapasan tidak mencukupi. Di ibu kota New Delhi, harga obat remdesivir dan oksigen medis untuk pengobatan virus Komunis Tiongkok, jauh lebih tinggi daripada harga pasar sebanyak 10 kali lipat.

Keterangan Foto : Tempat tidur rumah sakit dan persediaan medis tidak mencukupi di daerah yang terkena dampak parah di India. Gambar menunjukkan orang yang terinfeksi menggunakan tabung oksigen di jalan. (Gambar Twitter)

Terjadinya peningkatan jumlah orang yang terinfeksi, banyak rumah sakit di daerah yang semakin parah seperti di Maharashtra, Gujarat, Uttar Pradesh, dan ibu kota, New Delhi, mulai menolak pasien. Banyak orang yang terinfeksi  tidak tertolong dan meninggal. Beredar sejumlah pesan yang meminta pertolongan di media sosial. 

Di daerah yang terkena dampak parah, sejumlah besar jenzah ditumpuk di kamar mayat karena peningkatan angka kematian. Meskipun krematorium beroperasi sepanjang waktu, tetap saja tidak dapat menangani peningkatan jumlah korban meninggal dunia.

Keterangan Foto : Gambar menunjukkan krematorium terbuka di New Delhi pada 24 April. (Anindito Mukherjee / Getty Images)

Beberapa kota, termasuk ibu kota New Delhi, harus mendirikan beberapa krematorium terbuka untuk sementara waktu. Kremasi dilakukan dengan menggunakan kayu untuk menyalakan api satu demi satu. Secara bersamaan membakar jenazah siang dan malam. Meski begitu, masih banyak jenazah yang tidak bisa diproses tepat waktu.

Di Kota Rajkot, Gujarat, karena semua kayu yang tersedia untuk pembakaran telah habis, masyarakat perlu menyiapkan bahan bakar sendiri jika ingin membakar jenazah keluarganya.

Pejabat India lainnya mengungkapkan di Facebook bahwa, seorang pria di Uttar Pradesh ditolak perawatan medisnya setelah melakukan perjalanan lebih dari 60 kilometer. Ibunya tidak dapat menemukan ambulans, jadi dia hanya bisa menyewa sepeda roda tiga listrik dan meletakkan jenazah putranya di bawah kakinya dibawa pulang ke rumah. (hui)

Gambar tersebut menunjukkan seorang ibu di India menggendong jenazah putranya di kakinya dan membawanya pulang tanpa perlindungan diri. (Gambar Facebook)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular