Koordinasi yang semakin mendalam antara Beijing dengan Moskow mengancam kekuatan Amerika Serikat dalam skala yang tidak terlihat sejak Perang Dunia  II

oleh James Gorrie

Apakah Tiongkok dan Rusia berkonspirasi kekuatan-kekuatan, seperti Nazi Jerman dan Soviet Rusia bersekongkol bersama melawan Polandia sebelum Nazi Jerman menyerbu Polandia dalam Perang Dunia II?

Sejarah Berulang Dengan Sendirinya?

Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada peringatan khusus. Sering dikatakan bahwa sejarah berulang dengan  sendiri, atau terkadang, cenderung berirama. Tetapi membuat kesejajaran-kesejajaran sejarah yang mudah saat menafsirkan peristiwa-peristiwa terkini sering menjadi sebuah jebakan karena tidak ada dua era atau pengaturan-pengaturan peristiwa adalah identik. Setiap periode waktu dan peristiwa itu adalah unik.

Konon, negara-negara dengan kepentingan-kepentingan yang sama seringkali bekerja sama satu sama lain. Kini, keselarasan saat ini antara kekuatan-kekuatan totaliter yang paling agresif di dunia,  — Tiongkok dan Rusia — melawan demokrasi-demokrasi dunia secara keseluruhan serta Amerika Serikat dan Israel secara khusus, telah mulai berkembang.

Kepentingan-Kepentingan Beijing dan Moskow yang Serupa

Tiongkok dan Rusia memiliki kepentingan-kepentingan yang sama. Seseorang pasti bodoh jika tidak melihat hal tersebut. Sampai titik itu, apa yang ingin dicapai oleh Tiongkok dan Rusia?

Singkatnya, “ekspansi.” Tiongkok dan Rusia sedang berusaha untuk memperluas serta wilayahnya dan tapak-tapak global dengan cara mengorbankan Amerika Serikat. Tiongkok dan Rusia secara aktif berusaha untuk menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan global yang dominan.

Prioritas Utama Tiongkok

Dalam kasus Tiongkok, Tiongkok telah bertindak tegas melawan Hong Kong, sebuah demokrasi merujuk Barat, yang menikmati status perdagangan khusus dengan Amerika Serikat dan merupakan pusat keuangan Asia. Tetapi di bawah pengalihan  pandemi Partai Komunis Tiongkok, Beijing memperluas pengaruhnya di Hong Kong, menangkap ratusan pengunjuk rasa demokratis dan melembagakan hukum-hukum dan pembatasan baru. Saat ini, Hong Kong tidak lagi bebas dan demokratis, tetapi Hong Kong secara efektif berada di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok.

Agenda rezim Tiongkok berikutnya adalah Taiwan. Menaklukkan  negara pulau yang demokrasi itu, sekutu setia Amerika Serikat, adalah prioritas utama Partai Komunis Tiongkok. Faktanya, beberapa ahli militer percaya bahwa sebuah invasi Taiwan akan lebih cepat dari kemudian.

Ingatlah bahwa di bawah pemerintahan Donald Trump, kesepakatan-kesepakatan senjata yang utama dibuat sebagai pencegahan terhadap intimidasi militer dan bahkan mungkin invasi oleh rezim komunis. Perlu juga dicatat bahwa mantan Presiden Donald Trump mengaitkan perlakuan Beijing terhadap Hong Kong dengan tarif-tarif pada barang-barang Tiongkok. Garis keras Donald Trump terhadap ekspansi Tiongkok didukung oleh kesepakatan-kesepakatan senjata dan tarif-tarif, yang membuat Beijing berpikir dua kali mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan Beijing.

Tetapi di bawah pemerintahan Joe Biden, tekad untuk melindungi Taiwan tampaknya dikurangi. Kelemahan kepemimpinan Amerika Serikat saat ini tentu saja tidak ada  pencegahan. Pada KTT pertama antara Tiongkok dan Rusia di bawah Presiden Joe Biden, para diplomat Tiongkok secara terbuka mengejek dan menghina delegasi Amerika Serikat, dengan sedikit tekanan balik dari pihak Amerika Serikat.

Baru-baru ini, pesawat-pesawat tempur Tiongkok secara rutin melanggar wilayah udara Taiwan, sehingga mendorong Taipei untuk melakukan permainan perang dengan asumsi invasi Tiongkok. Sikap dan tindakan Partai Komunis Tiongkok telah menggarisbawahi potensi itu, memperingatkan Amerika Serikat bahwa,” bermain api dengan cara berinteraksi dengan Taiwan.”

Permainan Rusia Melawan Pengaruh Amerika Serikat 

Demikian pula, Rusia melihat kelemahan yang sama dalam kepemimpinan Amerika Serikat. Joe Biden memperlakukan sekutu Amerika Serikat dengan buruk dan memanjakan musuh-musuh Amerika Serikat di Timur Tengah sambil memohon kepada Iran untuk menyetujui perjanjian senjata-senjata nuklir yang baru. Rusia sedang  mengamati dengan sangat hati-hati bagaimana ini terungkap.

Hal itu karena negara-negara di kawasan ini sedang mempersiapkan “runtuhnya Amerika Serikat secara keseluruhan” mengenai kebijakan strategi keamanan yang berpusat pada Israel. Di bawah pimpinan Donald Trump, berbagai perjanjian damai antara Israel dengan negara-negara Arab dimungkinkan karena Amerika Serikat dengan gigih mencegah Iran mendapatkan senjata-senjata nuklir.

Tetapi kini, kedaruratan Joe Biden untuk kembali ke meja perundingan dengan Teheran telah menjelaskan hal tersebut, dan Putin, yang tidak dimiliki oleh Amerika Serikat di bawah Biden kemauan untuk menanggapi kekuatan dengan kekuatan yang berkaitan dengan Iran atau negara lain. Fakta itu ditunjukkan dalam upaya Putin memobilisasi 40.000 pasukan di perbatasan Rusia-Ukraina dan peringatan Putin memperingati Joe Biden untuk tidak mengganggu.

Poin penting di sini adalah koordinasi yang jelas antara Beijing dengan Moskow, karena Beijing dan Moskow memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak mencampuri peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi di Taiwan dan Ukraina. Sepertinya Beijing dan Moskow berkoordinasi rencana untuk menyinkronkan tindakan-tindakan potensial Beijing terhadap Taiwan dan tindakan-tindakan potensial Moskow terhadap Ukraina.

Seorang Presiden yang Absen

Sebuah hasil semacam itu akan memaksa Amerika Serikat untuk menghadapi musuh-musuhnya yang paling kuat pada saat yang sama — atau tidak. Mungkin saja kasusnya, dengan ketidakmampuan Joe Biden untuk berfungsi dalam sebuah lingkungan publik yang dinamis, di mana musuh-musuh Amerika Serikat yakin bahwa tidak akan ada konsekuensi untuk invasi tersebut.

Jika salah satu atau kedua invasi tersebut terjadi tanpa tanggapan serius dari Amerika Serikat, maka prestise Amerika Serikat di seluruh dunia akan jatuh, dan memang demikian. Ini adalah

terutama benar terkait dengan Taiwan, karena sebuah pengambilalihan Partai Komunis Tiongkok akan menimbulkan keraguan yang  menyebar di kawasan Asia Pasifik. Salah satu atau keduanya juga dapat melemahkan dolar Amerika Serikat sebagai sebuah mata uang cadangan, karena kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai sebuah  kekuatan global aktif yang melindungi kepentingan-kepentingan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, berkurang.

Perlu dicatat bahwa analisis tradisional dari para pelaku geopolitik biasanya meliputi tiga faktor: kepentingan, kemampuan dan kemauan untuk mewujudkan suatu tujuan atau melakukan suatu tindakan. Ketiga faktor tersebut berlaku untuk semua negara, termasuk negara-negara yang menentang tindakan-tindakan provokatif yang yang dilakukan oleh Tiongkok dan Rusia rupanya sedang meratap.

Tidak jelas apakah ada orang di pemerintahan Joe Biden yang memahami  realitas ini, atau dalam hal ini, sejarah.

James R. Gorrie adalah penulis “The China Crisis” (Wiley, 2013) dan menulis di blognya, TheBananaRepublican.com. Dia berbasis di California Selatan.

 

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular