NTDTV.com

India adalah salah satu negara yang paling parah terkena dampak virus Komunis Tiongkok  atau covid 19 di dunia, dengan lebih dari 15,6 juta orang terinfeksi. Baru-baru ini, jumlah infeksi baru di India meningkat tajam setiap hari, dan jumlah kematian juga tetap tinggi. Selasa 20 April, India memiliki hampir 260.000 kasus infeksi baru dan 1.671 kasus kematian.

Banyak kota di India saat ini melaporkan kekurangan tempat tidur rumah sakit dan suplai oksigen dan obat-obatan esensial yang tidak mencukupi. Ada banyak panggilan putus asa untuk meminta bantuan di platform media sosial. 

Ada laporan di seluruh negeri bahwa beberapa orang telah meninggal karena tidak menerima perawatan tepat waktu. Hampir tidak ada tempat tidur di kota-kota yang terkena dampak parah seperti Delhi, Mumbai dan Ahmedabad.

Beberapa pemerintah negara bagian menyatakan bahwa mereka sedang membangun fasilitas baru. Kota-kota lain menggunakan hotel dan stadion untuk menambah jumlah tempat tidur, tetapi para ahli khawatir akan sulit untuk mengimbangi peningkatan jumlah yang terinfeksi.

Peningkatan jumlah korban jiwa juga membanjiri krematorium di beberapa daerah.

Karena peningkatan tajam jumlah korban tewas di bulan April, peralatan incinerator di beberapa kota di Gujarat harus beroperasi sepanjang waktu, yang membuat kewalahan dan hancur. Diantaranya, incinerator listrik di krematorium di ibu kota Ahmedabad, beroperasi selama 20 jam sehari selama dua minggu terakhir, menyebabkan cerobong asap meledak dan runtuh.

Krematorium di Surat juga tidak sempat mendinginkan insinerator, menyebabkan penyangga besi di tungku meleleh. Seorang anggota staf mengatakan bahwa mereka mengkremasi 20 jenazah setiap hari di  Maret, tetapi harus memproses lebih dari 80 jenazah setiap hari di  April.

Pakar India menunjukkan bahwa pemanasan epidemi di negara itu mungkin terkait dengan varian virus yang ditemukan secara lokal. Virus itu muncul tahun lalu. Baru-baru ini, para ilmuwan menamakannya B.1.617 dan menyebutnya sebagai “virus super”. 

Lonjakan virus varian ini mengalami mutasi ganda, membuatnya lebih menular. Di negara bagian India yang terkena dampak parah, lebih dari 60% pasien terinfeksi virus varian ini.

Pakar Jerman menunjukkan bahwa dua mutasi B.1.617 akan mengurangi kemampuan menetralkan antibodi atau sel T, tetapi tingkat penurunannya masih belum jelas. Ini berarti bahwa orang yang telah divaksinasi atau yang telah terinfeksi dan pulih juga dapat tertular oleh varian virus itu lagi.

Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) telah mengklasifikasikan varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan, Brasil, dan Inggris sebagai varian yang mengkhawatirkan.  B.1.617 masih ditetapkan sebagai varian yang sedang diamati oleh WHO.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular