oleh Zhang Ting

Berita tentang media Inggris ‘The Mail on Sunday’ mengungkap sebuah program nasional yang diarahkan oleh lembaga pemerintah komunis Tiongkok untuk menemukan virus baru dan mendeteksi “materi gelap” biologis yang terlibat dalam penularan penyakit, telah berlangsung sejak 9 tahun lalu

Meskipun pemerintah komunis Tiongkok berulang kali menolak adanya keterkaitan antara Wuhan Institute Virology – WIV atau Institut Virologi Wuhan dengan penelitian virus proyek militer komunis Tiongkok, namun, dokumen yang diperoleh media Inggris ‘The Mail on Sunday’ menunjukkan, bahwa pemerintah komunis Tiongkok telah menekuni sebuah proyek militer rahasia sejak 9 tahun lalu. Ditemukan juga bahwa ilmuwan dari laboratorium Wuhan yang mempelajari penyakit kelelawar telah terlibat langsung dalam penelitian terhadap virus hewan yang merupakan bagian dari proyek rahasia militer komunis Tiongkok.

Menurut media Inggris  ‘The Mail on Sunday’, dokumen mengungkapkan bahwa sebuah program nasional yang diarahkan oleh lembaga pemerintah komunis Tiongkok untuk menemukan virus baru dan mendeteksi “materi gelap” biologis yang terlibat dalam penularan penyakit telah berlangsung sejak 9 tahun lalu.

Seorang ilmuwan Tiongkok terkemuka berhasil menemukan 143 jenis penyakit baru hanya dalam 3 tahun pertama penelitian terkait proyek tersebut. Ilmuwan itu mengumumkan urutan gen pertama virus Covid-19 atau virus Komunis TIongkok pada bulan Januari 2020 silam.

Proyek  diikuti oleh ilmuwan Wuhan Institute Virology bersama ilmuwan militer

‘The Mail on Sunday’ memberitakan, proyek pendeteksian virus ini dipimpin bersama oleh ilmuwan sipil dan militer. Fakta ini seakan membenarkan dugaan Amerika Serikat bahwa Institut Virologi Wuhan  bekerja sama dengan angkatan bersenjata komunis Tiongkok.

Lima orang pemimpin proyek tersebut termasuk ahli dari Institut Virologi Wuhan Shi Zhengli dan perwira militer senior komunis Tiongkok, serta penasehat pemerintah tentang bioterorisme, Cao Wuchun. Shi Zhengli mendapat julukan “Batwoman” karena mencari sampel kelelawar di dalam gua.

Sebelumnya pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald  Trump telah berulang kali menuduh  Wuhan Institute Virology  terlibat dalam penelitian militer.

Profesor Shi Zhengli membantah tuduhan Amerika Serikat bulan lalu dan mengatakan : “Saya tidak tahu menahu soal Wuhan Institute Virology terlibat dalam tugas-tugas militer. Informasi itu tidak benar”.

Namun, Cao Wuchun, seorang ahli epidemiologi yang studi di Universitas Cambridge adalah anggota Dewan Penasihat Wuhan Institute Virology. Dia adalah orang kedua dari tim militer yang dipimpin oleh Mayjen Chen Wei, kepala ahli pertahanan biologis militer komunis Tiongkok yang dikirim ke Wuhan untuk menangani virus baru dan mengembangkan vaksinnya.

Dalam proyek tersebut, Cao Wuchun terdaftar sebagai anggota peneliti dari “Akademi Ilmu Kedokteran Militer Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok”, bekerja erat dengan ilmuwan militer lainnya, dan merupakan direktur Komite Ahli Keamanan Hayati Militer.

Target penelitian proyek adalah menemukan organisme yang dapat menginfeksi manusia

Dari dokumen yang diperoleh ‘The Mail on Sunday’ diketahui bahwa proyek militer besar yang diberi nama proyek untuk menemukan patogen yang menulari hewan yang dibawa oleh hewan liar ini sebenarnya bertujuan untuk mencari organisme yang dapat menginfeksi manusia, selain itu mempelajari evolusinya.

Proyek yang diluncurkan pada tahun 2012 dan didanai oleh National Natural Science Foundation of China, dipimpin oleh Xu Jianguo. 

Xu Jianguo pernah berkata dengan nada yang sombong dalam sebuah konferensi pada tahun 2019 : “Jaringan raksasa dalam usaha melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit menular sedang terbentuk”.

National Natural Science Foundation of China adalah lembaga yang dikelola langsung oleh Dewan Negara komunis Tiongkok.

Xu Jianguo juga memimpin tim ahli yang pertama kali mendatangi Wuhan untuk menyelidiki 

virus komunis Tiongkok atau COVID-19. Meskipun sudah ada bukti dari rumah sakit, namun pada awalnya ia masih membantah kemungkinan penularan virus dari manusia ke manusia. 

Setelah itu, Xu Jianguo bersikeras mengatakan pada pertengahan bulan Januari tahun lalu : “Wabah memiliki keterbatasan. Jika tidak ada kasus baru maka penyebaran dapat berakhir minggu depan”.

Sebuah komentar tentang proyek perburuan virus, Xu Jianguo mengakui bahwa pihaknya telah menemukan sejumlah besar virus baru. Hal ini sempat menggemparkan komunitas virologi internasional.

Komentar juga menambahkan bahwa jika patogen menyebar ke manusia dan binatang ternak, itu berpotensi menyebabkan penyakit menular baru dan menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan manusia dan keselamatan hidup, dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, dan bahkan mempengaruhi stabilitas sosial.

Versi yang diperbarui pada tahun 2018 menyebutkan bahwa tim ilmiah telah menemukan 4 patogen baru dan 10 jenis bakteri baru, serta menemukan lebih dari 1.640 jenis virus baru dengan menggunakan teknologi metagenomik. 

Penelitian semacam ini didasarkan pada penggalian materi genetik dari sampel. Misalnya Shi Zhengli mengumpulkan sampel dari kotoran dan darah kelelawar.

Pengambilan sampel yang begitu ekstensif memungkinkan Shi Zhengli dengan cepat menemukan RaTG13, yang merupakan sampel terdekat dengan SARS-CoV-2 yakni virus korona yang menyebabkan pneumonia Wuhan atau COVID-19. Sampel tersebut kemudian disimpan di laboratorium Wuhan.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat prihatin dengan bocornya virus dari laboratorium Wuhan

Shi Zhengli juga mengakui bahwa timnya berhasil mengumpulkan 8 jenis virus SARS dari dalam gua tambang. Wuhan Institute Virology membuat database offline tentang sampel virusnya pada bulan September 2019, atau beberapa minggu sebelum wabah pneumonia Wuhan menyebar.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sangat prihatin dengan kemungkinan besar virus bocor dari Wuhan Institute Virology. Pada 15 Januari, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mengeluarkan pernyataan di situs web Dewan Negara, yang isinya mendesak tim investigasi WHO yang pergi ke Wuhan untuk menyelidiki asal-usul virus dapat memperhatikan terhadap tiga keraguan seperti  berikut ini: 

1) Masalah  infeksi yang dialami orang dalam Wuhan Institute Virology. Beberapa peneliti di dalam Wuhan Institute Virology yang jatuh sakit memiliki gejala yang sama dengan COVID-19 dan penyakit musiman yang umum. 

2) Riset Wuhan Institute Virology tentang “RaTG13” dan “gain of function” : Setidaknya sejak tahun 2016, para peneliti Wuhan Institute Virology telah melakukan riset tentang virus RaTG13, yang merupakan virus korona yang diambil dari kelelawar yang diidentifikasi oleh Wuhan Institute Virology pada Januari 2020. Ini adalah sampel virus yang paling dekat, atau memiliki kesamaan mencapai 96.2% dengan SARS-CoV- 2  atau virus komunis Tiongkok.

3) Kontak rahasia antara Wuhan Institute Virology dengan penelitian militer komunis Tiongkok. Meskipun Wuhan Institute Virology adalah organisasi sipil, tetapi Wuhan Institute Virology dan pihak militer telah bekerja sama dalam publikasi dan proyek rahasia.

Bulan lalu, Inggris, Amerika Serikat, dan 12 negara lainnya mengkritik Beijing karena menolak berbagi data dan sampel penting dengan tim peneliti dari WHO.

Filippa Lentzos, seorang ahli biosafety dari King’s College London mengatakan bahwa pengungkapan terbaru ini sejalan dengan “pola yang tidak konsisten” dari Beijing.

“Mereka masih belum mau transparan kepada kita. Kita tidak memiliki data pasti tentang asal mula virus yang menyebabkan pandemi, apakah virus itu bersifat alami dari hewan atau semacam kebocoran tidak disengaja terkait dengan penelitian, tetapi kita tidak bisa mendapatkan jawaban langsung,” kata Filippa Lentzos.

Sementara itu, David Asher, seorang ahli biologi, kimia, dan proliferasi nuklir yang memimpin Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat untuk melakukan penyelidikan terhadap asal-usul Covid-19 mengatakan : “Orang asal daratan Tiongkok itu telah menjelaskan bahwa mereka melihat besar sekali potensi bioteknologi sebagai bagian penting dari strategi hybrid dalam peperangan di masa depan. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah pekerjaan mereka di area ini bersifat ofensif atau defensif ?” (sin)

Share

Video Popular