oleh Wang Xiang

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam sebuah wawancara pada  Kamis (29/4) mengkritik tindakan agen FBI yang melakukan penggerebekan terhadap kediaman mantan Walikota New York Rudy Giuliani. Ia mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah perilaku berkaidah moral standar ganda dan sangat tidak adil bagi Rudy.

“Rudy Giuliani adalah seorang patriot yang hebat. Dia mencintai negara ini, tetapi (FBI) mereka menggeledah kediamannya,” kata Trump dalam wawancara di acara TV Fox News “Morning with Maria” 

Giuliani pernah menjabat sebagai pengacara pribadi Trump.

“Ini terlalu tidak adil. Ini seperti perilaku berkaidah standar ganda. Saya pikir tidak ada orang yang pernah melihatnya,” tambah Trump.

Menurut Trump, penggerebekan itu sangat tidak adil. Ia menilai, Rudy Giuliani adalah seorang patriot yang mencintai negara ini.

Agen FBI menggerebek kediaman dan kantor firma hukum Giuliani di New York City pada Rabu (28/4) pukul 6 pagi dan menyita beberapa perangkat elektronik, termasuk laptop dan ponselnya.

Pihak berwenang masih terus melakukan penyelidikan terhadap Rudy Giuliani yang diduga telah mewakili Ukraina untuk melobi pemerintahan Trump, sehingga ia melanggar Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (Foreign Agents Registration Act. FARA). 

Aturan FARA mensyaratkan bahwa jika seseorang bertindak sebagai agen asing, dia harus memberitahu Kementerian Luar Negeri.

Sebagai pengacara pribadi Trump, Giuliani adalah tokoh sentral dalam penyelidikan kasus korupsi yang melibatkan Wakil Presiden Biden dan putranya Hunter di perusahaan energi Ukraina, Burisma Holdings. Hunter adalah anggota dewan direksi perusahaan Ukraina tersebut.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah penggerebekan, Robert Cotello, pengacara Giuliani mengatakan bahwa Giuliani sangat kooperatif dengan penyelidik, tetapi anehnya, agen FBI justru menolak untuk meninjau dan menerima hard drive yang berisi konten Hunter. Jadi agen penyelidik telah berperilaku tidak semestinya.

Trump juga menyatakan keraguannya terhadap hal ini. 

“Saya tidak tahu apa yang mereka cari atau apa yang mereka lakukan terhadap Rudy,” kata Trump kepada Maria dalam acara. 

“Mereka mengatakan hal itu terkait dengan pengajuan berbagai dokumen dan dokumen lobi tidak tersedia. Baiklah, jadi apakah Hunter telah menyatakan itu ? Apakah Biden punya rekor ? Karena mereka telah melakukan banyak hal serupa dengan negara lain. Seperti kita ketahui, mereka tidak mengumumkannya,” sebut Trump.

“Ini adalah situasi yang sangat, sangat tidak adil”, kata Trump. 

“Anda lihat apa yang terjadi di negara kami – korupsi dan berbagai masalah, dan kemudian mereka justru pergi mencari Giuliani, ini yang mengerikan. Begitulah sebenarnya,” tambah Trump.

Trump prihatin terhadap mantan pejabatnya dan tokoh demokrat dalam partainya yang menerima perilaku standar ganda dari pemerintahan sekarang. ia juga membicarakan soal Utusan iklim Biden, John Kerry yang menghadapi tuduhan membocorkan tindakan militer Israel kepada Menteri Luar Negeri Iran selama ia menjabat sebagai Menlu di pemerintahan mantan presiden Barack Obama.

Dalam wawancara dengan NBC News pada Kamis (29 April), Biden membantah bahwa dirinya telah mengetahui terlebih dahulu rencana FBI melakukan penggerebekan terhadap kediaman Giuliani.

“Saya benar-benar tidak tahu mengenai hal ini. Saya bersumpah bahwa saya tidak akan ikut campur dengan cara apa pun atau mencoba mencegah penyelidikan apa saja yang dilakukan oleh Kementerian Kehakiman. Tadi malam, ketika di seluruh dunia mengetahui hal ini saya baru tahu. Inilah yang saya katakan — saya benar tidak tahu ketika itu terjadi”, jawab Biden. 

Pada saat yang sama, Biden juga membantah bahwa dirinya telah mendengar arahan terkait.

The New York Times pertama kali melaporkan hal itu pada  Rabu 28 April bahwa Kantor Kejaksaan Amerika Serikat  di Manhattan dan FBI sudah selama berbulan-bulan menunggu surat perintah untuk memeriksa isi ponsel Giuliani.

Selama pemerintahan Trump, pejabat Kementerian Kehakiman berulang kali mencoba untuk mencegah surat perintah penggeledahan tersebut. Setelah Merrick Garland ditunjuk Presiden Biden sebagai Jaksa Agung, Kementerian Kehakiman membatalkan penolakan terhadap keluarnya surat perintah penggeledahan tersebut. (sin)

Share

Video Popular