Frank Yue

Seorang jurnalis wanita untuk The Epoch Times edisi Hong Kong Sarah Liang mengatakan  baru-baru ini ia dikuntit di jalan oleh seorang pria tak dikenal.

Ia pergi ke sebuah toko yang pro-demokrasi Hong Kong untuk wawancara pada  (26/4/2021) sore. Saat ia keluar dari stasiun MTR Prince Edward, ia mendapati seorang pria paruh baya mengikutinya, memakai sebuah topi dan headset.

Sarah Liang sengaja mengitari kawasan itu beberapa kali, pria itu tak lagi menguntitnya.

“Sepertinya pria itu tahu di mana tujuan saya, karena pria itu langsung memasuki toko yang dijadwalkan untuk saya kunjungi saat pria itu tidak dapat melihat saya,” ujarnya.

Sarah Liang berhadapan dengan pria itu dan menanyainya sementara merekam dengan menggunakan telepon seluler, dengan mengatakan, “Mengapa anda menguntit saya?”

Pria itu pergi berlalu, menyangkal tuduhan tersebut, dengan mengatakan, “Saya tidak mengenal anda.”

“Lalu kenapa anda menguntit saya ke sini jauh-jauh dari stasiun MTR Prince Edward jika anda tidak mengenal saya? Apakah anda adalah seorang reporter dari Ta Kung Pao?”, tanya Sarah Liang. 

Ta Kung Pao adalah sebuah surat kabar veteran pro-Beijing, berafiliasi dengan Kantor Penghubung Pemerintah Rakyat Pusat di Hong Kong.

Pada pukul 16.30, 27 April, reporter Sarah Liang melaporkan dua insiden gangguan dalam beberapa hari terakhir .  Saat wawancara media sebelum melaporkan kasus tersebut. (Song Bilong / The Epoch Times)

Setelah ini, pria itu tiba-tiba mulai berlari. Sarah Liang berusaha mengejarnya, meneriakkan pertanyaannya lagi. Pria itu lari dengan cepat.

Sarah Liang menduga pria itu pasti merasa canggung dengan apa yang ia lakukan. “Jika saya benar-benar telah memperlakukannya secara tidak adil, ia dapat menjelaskan bahwa ia tidak bersalah. Mengapa ia melarikan diri?” kata Sarah Liang.

Sarah Liang berkata, “Ta Kung Pao adalah corong Partai Komunis Tiongkok,” dengan menambahkan bahwa Ta Kung Pao telah memuat artikel yang menyerukan pemerintah Hong Kong untuk melarang Apple Daily pada 20 April.

Media pro-Beijing dan para pejabat pemerintah di Hong Kong, telah mengatur pandangannya untuk menutup surat kabar independen setempat Apple Daily — salah satu dari beberapa outlet media gratis yang tersisa di Hong Kong. Apple Daily didirikan oleh taipan media Hong Kong Jimmy Lai, yang pada 16 April dijatuhi hukuman 14 bulan penjara karena berpartisipasi dalam unjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong dan anti-Beijing pada tahun 2019.

Ini bukanlah pertama kalinya reporter The Epoch Times dilacak. Dua hari sebelumnya pada  24 April, seorang pria yang mirip petugas pengiriman memasuki gedung apartemen Sarah Liang setelah mendaftarkan namanya sebagai “Liao” di pintu masuk.

Sarah Liang (Kiri) dan rekannya memprotes penindasan Komunis Tiongkok terhadap kebebasan pers di Hong Kong pada 27 April 2021. (Sarah Liang / The Epoch Times)

Pria tersebut naik ke atas dan mengetuk pintu rumah Sarah Liang, mengklaim bahwa seorang teman asing bermarga Cheng telah mempercayakannya untuk memberikan sebuah bingkisan yang besar yang berada di lantai bawah.

Sarah Liang menjawab bahwa ia tidak mempunyai teman seperti itu.

Pria itu bertanya, “Bukankah anda adalah Sarah Liang?”

Sarah Liang terus bertanya siapa dia, apa nomor telepon Cheng, teman pria itu, dan apa bingkisan itu.

Pria itu tergagap-gagap dan tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri.

“Apakah anda adalah seorang mata-mata Partai Komunis Tiongkok?” tanya Sarah Liang. Pria itu tidak menjawab secara langsung dan hanya  mengatakan ia telah mendaftarkan namanya di lantai bawah.

Ketika pria itu membalikkan badannya, Sarah Liang keluar dan memotret pria itua. Sarah Liang tidak menemukan bingkisan apapun.

Sarah Liang yakin pria itu baru saja datang untuk memastikan alamatnya.

Pada pukul 16.30 tanggal 27 April, reporter “Epoch Times” Hong Kong Sarah Liang (kiri) dan juru bicara Epochtimes pergi ke Kantor Polisi Mong Kok untuk melaporkan dua insiden gangguan  dalam beberapa hari terakhir. Petugas Kepolisian pergi ke luar untuk menanyakan kepada Sarah Liang tentang insiden tersebut. (Song Bilong / The Epoch Times)

“Saya merasa Partai Komunis Tiongkok mengintimidasi saya, dengan mengatakan, ‘Anda berada di layar radar.’ Partai Komunis Tiongkok berhasil menemukan alamat saya. Ini adalah sangat jahat. Kami tidak melakukan kesalahan apa pun. Kami hanya berdedikasi untuk meliput kebenaran,” kata Sarah Liang.

Sarah Liang juga menyebutkan insiden-insiden yang menargetkan The Epoch Times di Hong Kong.

Pada 19 November 2019, empat pelaku pembakaran yang mengenakan masker memasuki sebuah toko percetakan milik The Epoch Times di Tsuen Wan, Hong Kong, dan menyalakan api yang merusak peralatan percetakan.

Pada 12 April dini hari pada tahun ini, empat penyusup kembali menerobos masuk ke percetakan tersebut dan menggunakan palu godam untuk merusak komputer-komputer dan peralatan pencetakan, lalu mencuri sebuah komputer saat mereka melarikan diri.

Cheryl Ng, seorang juru bicara The Epoch Times edisi Hong Kong, mengatakan siasat itu adalah karakteristik Partai Komunis Tiongkok dan bertujuan membungkam sebuah outlet independen yang melaporkan topik-topik yang tidak sesuai dengan narasi rezim komunis.

Pada 27 April, Sarah Liang pergi ke Kantor Polisi Mong Kok dan melaporkan insiden penguntitan dan meminta sebuah penyelidikan untuk memastikan keamanan keluarganya.

Pada saat yang sama, Sarah Liang mengutuk keras penindasan Partai Komunis Tiongkok terhadap  kebebasan pers dan mengintimidasi para reporter di Hong Kong. Sarah Liang mengatakan ia akan terus mempertahankan kebebasan berbicara di Hong Kong dan tidak akan pernah mundur dari meliput kebenaran sebagai seorang jurnalis. (Vv)

Zhang Xiaohui  dan Alex Wu berkontribusi untuk laporan ini

Share

Video Popular