Erabaru.net. Saya kira setiap orang pasti pernah memiliki mimpi indah untuk hidup dalam pengasingan di pegunungan dan hutan yang tenang. Didup di desa yang sepi, jauh dari keramaian dan hiru piruk kota. Bagi beberapa orang, hidup di era yang serba cepat ini, tinggal di pegunungan dan desa yang terpencil mungkin sangat sulit untuk dijalankan. Namun bagi keluarga ini, hal itu tidaklah sulit.

Dari pusat kota Los Angeles, diperlukan sekitar 15 menit dengan berkendara di sepanjang highway 110 ke timur laut untuk mencapai pasadena.

Ini adalah rumah keluarga Dervaes, yang juga memiliki nama sederhana yaitu ‘Urban Homestead’. Halaman kecil rumahnya yang berukuran panjang 40 meter dan lebar 20 meter, menempati setengah dari luas rumahnya telah ditanami buah-buahan serta sayuran.

Dilihat dari pintu depan, halamannya tidak terlihat begitu hidup. Semuanya terlihat berwarna hijau hanya terlihat seperti hutan kecil. Selama pergantian musim, lebih dari 400 tanaman dapat ditemukan di kebun dan selalu akan memanen 2.750 kg buah-buahan dan sayuran.

Sulit membayangkan ketika keluarga Dervaes pertama kali pindah 30 tahun lalu, pekarangan ini ternyata sama seperti pekarangan pada rumah di kota. Hanya halaman rumput yang luas dan sedikit tanaman hias, namun setelah bertahun-tahun mereka menginjak tanah tersebut, rumput di halaman menjadi kering dan menguning.

Namun saat ini, tanah di pekarangan mereka telah berubah dari tanah yang gersang menjadi tanah yang sangat subur.

Ayah Dervaes, Jules Dervaes adalah sosok yang membawa anak-anak untuk mengubah pekarangan mereka menjadi hutan pangan.

Eksplorasi pro-pertanian keluarga Dervaes dimulai pada tahun 1960-an. Saat itu banyak anak muda Amerika Serikat, yang baru lulus kuliah harus ikut wajib militer untuk Perang Vietnam. Gerakan perlindungan lingkungan dan gerakan hak-hak sipil sedang naik daun, melawan penindasan dan perambahan dari kelompok-kelompok yang berkepentingan.

Terdorong oleh kenyataan ini, Jules mulai berpikir — apa yang bisa dia lakukan, apa yang ingin dia lakukan, dan apa yang perlu dilakukan?

Berpikir lebih dalam mengapa orang datang ke dunia untuk sementara waktu ? Ketika seseorang mulai menanyakan pertanyaan semacam ini, dia tidak jauh dari definisi sekuler yang ‘’aneh’’.

Kesimpulan dari pemikiran Jules sangat sederhana : “Jika Anda tidak ingin makan junk food yang diproduksi oleh perusahan besar, dan tidak ingin pertanian kimiawi merusak lingkungan maka Anda harus mengolahnya sendiri.” Pada tahun 1973, dia mulai mewujudkan ide ini.

Pada tahun 1985, Jules pindah bersama tiga anaknya dari pedesaan Florida di Pasadena, California selatan. Untuk dapat bertahan hidup, mereka menanam jagung dan sayur mayur di pojok pekarangan rumah baru mereka.

‘’Saya tidak ingin hidup lama di kota saat itu. Saya selalu berpikir untuk pindah ke desa lagi, jadi saya menanam hanya untuk hobi dan bersenang-senang saja,’’ kenang Jules, dalam sebuah wawancara. ” Tapi kenyataannya membuat saya harus tetap tinggal di kota.”

Pada tahun 1990-an, California mengalami kekeringan parah dan tagihan air naik. Untuk menghemat sumber daya dan pengeluaran, Jules memutuskan untuk tidak menyirami halaman rumput di halaman depan, tetapi mengubahnya menjadi taman ekologis dan menanam sesuatu yang dapat ‘berguna’.

Saat ini, halaman depan yang kecil itu penuh dengan bunga violet bunga pansy, bunga dandelon, bunga matahari, kembang sepatu, mawar, kemangi, serta pohon lainnya yang tidak hanya enak dipandang tetapi juga 95% dapat dimakan.

Di awal abad ke-21, isu modifikasi genetika menjadi sorotan publik, membuat Jules juga was-was. Dia benar benar tidak ingin membiarkan anak-anaknya memakan hasil rekayasa genetika itu. Jules memutuskan untuk memanfaatkan semua ruang di halamannya untuk menanam sebanyak mungkin tanaman dengan tujuan swasembada pangan.

Jika halaman depan penuh, dia akan menanam di halaman belakang, jika halaman belakang penuh, dia akan menanam di pot gantung, jika kondisinya memungkinkan dia akan menanam di mana saja.

Segala jenis cara menanam dia gunakan selama semua itu memenuhi prasyarat keamanan dan ekologi. Dia mencobanya satu persatu, ditambahkan sedikit demi sedikit, dan hutan hijau kecil pun lahir

Sepasang tanaman pendamping ditanam di kebun sayur; ketimun dan marigold. Marigold berguna untuk meningkatkan pertumbuhan mentimun dan mencegah serangga.

Upaya hemat air juga membuahkan hasil. Dalam praktik pro pertanian selama 30 tahun terakhir, tingkat swasembada pangan keluarga Dervaes terus meningkat dan sekarang telah mencapai 890%. Dikonversi ke harga pasar ini setara dengan menghemat 75 000 dollar (sekitar Rp 1 miliar) untuk pengeluaran makanan setiap tahun.

5000-6000 kg buah dan sayuran yang dipanen sepanjang tahun terbagi dalam 3 kategori yaitu:

1. Dimakan sendiri (60%) : Ketika panen mereka melimpah, agar bisa tahan lama mereka akan memasaknya mencajdi, kimchi, acar, saus tomat dan selai buah .

2. Menjual ke tetangga dan rumah makan (30%): Keluarga Dervaes bekerja sama dengan beberapa produsen pangan lokal lainnya yang menjual sayur mayur kepada 60 keluarga dalam bentuk ‘’pertanian berbasis masyarakat’’ reputasinya juga sangat bagus.

Pendapatan tahunan dari menjual sayur-sayuran ini berjumlah lebih dari 20.000 dolar (sekitar Rp 284 juta).

3. Untuk memberi makan hewan (10%) : Ya, di lahan seluas kurang dari satu hektar ini masih ada sekelompok ayam, bebek, dan dua kambing.

Keluarga Dervaes semuanya adalah vegetarian, mereka hanya memakan telur ayam dan bebek dan susu kambing tanpa membunuhnya.

Hewan memakan serangga dan sisa makanan yang ada di kebun sayur. Kotorannya dapat dijadikan pupuk yang baik, didaur ulang dan digunakan lagi tanpa adanya limbah sama sekali.

‘’Awalnya saya tidak percaya saya bisa melakukannya,’’ kata Jules.‘’Anda harus mengatasi kekhawatiran Anda, Anda harus berani ambil resiko dan berani mencoba. Serta Anda juga harus percaya pada hal-hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Seperti saya bisa melakukannya sendiri.’’

Di balik suksesnya pro -pertanian ini adalah seperangkat filosofi kehidupan. Keluarga Dervaes mempraktekkan prinsip kemandirian dan keramahan ekologis dalam semua aspek makanan, pakaian, perumahan dan transportasi.

Pakaian : Mereka memanfaatkan celemek dan jahitlah pakaian dengan baik. Sebuah pakaian bisa bertahan puluhan tahun. Jika mereka benar-benar perlu membeli pakaian, pilihlah pakaian yang berkualitas dan tahan lama.

Makanan : Makanan vegetarian yang pro-budidaya, tubuh adalah bagian yang paling penting. Kebijakan petani kuno serta teknologi penyimpanan makanan digunakan secara ekstrim, tidak langsung dihabiskan untuk bahan-bahan yang tidak sesuai musim, atau untuk bahan-bahan yang baru.

Hidup : Lemari es dan TV adalah model hemat energi, tidak mamakai AC. Musim panas, akan membuka jendela sebagai ventilasi. Lakukan semua yang dapat Anda lakukan sendiri. Atur kamar mandi di hutan pangan untuk menghemat sumber daya air.

Peralatan dapur serba manual : Penggiling kopi yang dioperasikan dengan tangan, pemotong adonan, juicer yang dioperasikan dengan tangan, pembuka kaleng; mixer yang dioperasikan dengan tangan, mortar, panci popcorn; rak belakang ada juga lampu minyak, ini pada dasarnya adalah benda-benda tua.

Transportasi: Mereka akan bersepeda atau berjalan kaki, dan menggunakan transportasi umum.

Mengendarai mobil diesel dan dengan bantuan seorang teman, menggunakan oli bekas dari restoran untuk membuat biodiesel di garasi rumahnya.

Apakah sulit untuk hidup seperti ini ? Ya, sangat Sulit ! Tapi tidak akan menjadi masalah jika sudah terbiasa.

Seperti yang dikatakan Jules, : ‘’Semua orang pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi sekarang dunia sudah serba canggih dan serba instan. Metode hidup seperti ini sudah tidak populer lagi.’’

Dalam hal ini, apakah sebanding dengan melepaskan kenyamanan dan memilih untuk bekerja seperti ini ? Ya!
Karena dalam keluarga Dervaes, dia merasakan kebebasan. Kebebasan ini berarti tidak melakukan apa pun yang berhubungan dengan uang dan kekuasaan, tetapi semacam otonomi dan kepercayaan diri untuk melepaskan berbagai keterikatan dan tidak selalu meminta orang untuk segala hal.

Seperti yang mereka tulis di situs web: ‘’Sebagai pro-pertanian modern, kami mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, di manapun kami berada, apa pun yang terjadi, kami dapat mengandalkan tangan kami untuk menopang diri dan menjalani kehidupan yang lebih baik.’’

Kemandirian dan rasa percaya diri seperti inilah yang menjadi kekayaan paling berharga yang ditinggalkan Jules kepada ketiga anaknya.

Setelah Dervaes meninggal, ketiga anaknya tetap menjalani kehidupan yang pro-pertanian, dan bahkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan, mendidik petani pangan, dan berbagai pengalaman.

Banyak tetangga di lingkungan itu yang terdorong oleh semangat dan vitalitas mereka sehingga mereka juga menanam pohon buah-buahan dan sayuran di pekarangan mereka. Dalam perkembangan teknologi informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasti ada orang di seluruh dunia yang terinspirasi oleh mereka untuk mulai bertindak.

Tetapi pada saat yang sama, ada juga orang menderita karena berbagai batasan kehidupan perkotaan dan kerinduan aka ketenangan pikiran untuk hidup mandiri, sulit untuk mengambil langkah pertama, apa yang bisa Kita lakukan jika kita berada pada lingkungan seperti ini ?

Anak-anak dari keluarga Dervaes akan memberitahu orang-orang dengan kalimat yang sering dikatakan oleh ayahnya : ‘’ Jangan menunggu orang lain berubah, mulailah dengan mengubah diri sendiri. Pemerintah ingin berubah tetapi sulit untuk berubah dan perusahaan juga tidak pernah berinisiatif untuk berubah. Jadi Anda harus mulai berubah dari diri Anda sendiri.’’

‘’Dalam proses bekerja langsung dengan alam, kami telah melakukan salah satu hal terpenting untuk mengubah dunia dan itu adalah dengan mengubah diri kita sendiri.’’(lidya/yn)

Sumber: funnews61

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular