oleh Li Zhaoxi

Pada Kamis (6/5/2021) laporan resmi India menunjukkan bahwa terdapat tambahan 412.262 kasus baru dan 3.980 kematian akibat terinfeksi virus komunis Tiongkok atau COVID-19. Jumlah itu kembali memecahkan rekor tertinggi sehari sebelumnya. Jumlah kematian yang dilaporkan secara resmi hingga Kamis 6 Mei adalah 230.168 orang. Namun banyak pihak meyakini bahwa jumlah yang sebenarnya akan melebihi angka yang dilaporkan itu.

Pasokan oksigen rumah sakit sangat tidak memadai. Seorang pejabat pemerintah India mengatakan bahwa sejak bulan lalu, kebutuhan oksigen rumah sakit telah meningkat hingga 7 kali lipat dari biasanya. Karena sebagian besar rumah sakit di India tidak memiliki peralatan sendiri untuk memproduksi oksigen bagi pasien, rumah sakit biasanya mengandalkan oksigen cair, yang dapat disimpan dalam silinder dan diangkut dengan truk tangki. 

Namun, dengan memburuknya situasi epidemi, pasokan di daerah yang paling parah terkena dampak seperti New Delhi menjadi sangat tidak mencukupi.

Dr. Himaal Dev, direktur unit perawatan intensif di Rumah Sakit Apollo di Bangalore mengatakan bahwa akibat fungsi paru-paru yang menurun, pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok di unit perawatan intensif membutuhkan setidaknya 10 – 15 liter oksigen per menit.

Banyak rumah sakit yang melaporkan bahwa sebagian besar pasien meninggal dunia karena kekurangan oksigen, sehingga rumah sakit yang krisis oksigen ini terpaksa meminta bantuan pengadilan. 

Menanggapi berita dan postingan yang acap kali muncul di media sosial mengenai kematian pasien akibat hipoksia di wilayah Lucknow dan Meerut di Uttar Pradesh, Pengadilan Tinggi Allahabad memberikan tanggapan. Tanggapan itu menyebutkan bahwa jika sampai pasien virus komunis Tiongkok meninggal dunia karena kekurangan oksigen medis, itu adalah perbuatan kriminal. Hukuman yang dituntut tidak akan lebih ringan daripada tuntutan terhadap perbuatan genosida.

Pengadilan telah memerintahkan penyelidikan atas kematian hipoksia ini. Media terbesar India ‘Press Trust Of India’ melaporkan bahwa pengadilan India sampai mempertanyakan, “Ilmu pengetahuan sudah sangat maju saat ini, bahkan transplantasi jantung dan operasi otak sudah dapat dilakukan. Bagaimana kita bisa membiarkan orang-orang kita meninggal dengan cara demikian?”

Selama dua minggu terakhir, belasan rumah sakit di Delhi telah memberikan peringatan tentang kekurangan oksigen. Pengadilan Tinggi Delhi juga menegur pemerintah daerah tersebut dan mengeluarkan sebuah surat yang meminta penjelasan tentang mengapa mereka tidak mematuhi perintah untuk memasok oksigen ke Delhi.

Minggu lalu, di Rumah Sakit Batra di New Delhi, 12 orang pasien termasuk seorang dokter yang terinfeksi virus komunis Tiongkok meninggal setelah 80 menit kehabisan oksigen medis. Pengadilan sejak itu turun tangan. Sesuai perintah Mahkamah Agung, pemerintah perlu menambah pasokan oksigen di New Delhi dari 490 ton menjadi 730 ton per hari.

Menurut perintah Mahkamah Agung India, pemerintah India setuju untuk memberikan lebih banyak oksigen medis ke rumah sakit di ibu kota New Delhi mulai hari Kamis 6 Mei. hal ini diharapkan dapat mengurangi kekurangan pasokan oksigen yang dialami selama 2 minggu terakhir.

Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan mengatakan bahwa India memiliki cukup oksigen tetapi menghadapi masalah pada transportasinya. Dengan tibanya di India ratusan ton pasokan bantuan untuk mengatasi virus komunis Tiongkok termasuk tabung oksigen dan konsentrator dari berbagai negara, orang-orang mulai curiga bahwa pasokan tersebut tidak didistribusikan secara tepat waktu. (sin)

Share

Video Popular