oleh Chen Han, Lin Cenxin dan Liu Fang

Penyair Khet Thi, ditangkap militer Myanmar. Isi syair Khet Thi, kerap mengandung pesan agar rakyat Myanmar terus berjuang melawan kezaliman pemerintah junta militer Myanmar. Keluarganya mengatakan bahwa Khet Thi dibawa oleh anggota militer pada Sabtu 8 Mei, namun dinyatakan meninggal setelah semalaman ditahan. Saat keluarga tiba di rumah sakit, mereka hanya melihat jenazah dengan organnya dalam tubuh Khet Thi telah hilang diambil.

Memasuki hari ke-99 kudeta militer Myanmar, warga sipil di Mandalay turun ke jalan untuk menyerukan diakhirinya kediktatoran militer.

Di kota Dawei, sekitar seribu orang demonstran turun ke jalan, termasuk para pendidik dan pelajar, mereka juga memprotes atas kudeta pemerintah militer.

Akhir pekan lalu 8 Mei 2021, penyair Myanmar bernama Khet Thi tewas dalam demonstrasi.

‘Reuters’ yang mengutip ucapan istri Khet Thi, Chaw Su memberitakan bahwa Chaw Su dan suaminya dibawa oleh anggota militer pada Sabtu 8 Mei, untuk interogasi di kota Sagain Shobu di pusat Saga. Ini adalah area inti perlawanan terhadap kudeta.

Chaw Su lebih dulu diizinkan pulang hari itu, tetapi dia tidak menyangka bahwa sejak itu dirinya berpisah untuk selama-lamanya dengan suami tercinta.

Chaw Su mengatakan : “Mereka menelepon saya di pagi hari dan menyuruh saya untuk menemui suami di rumah sakit …. Tanpa diduga, ketika saya tiba di rumah sakit, mereka membawa saya ke kamar jenazah untuk mencari Khet Thi yang organ dalam tubuhnya telah diambil”.

Khet Thi pernah menulis sebuah syair yang isinya menentang pemerintah militer. 

Syair itu berbunyi: “Mereka mengarahkan senjata ke kepala sebagai sasaran tembak, tetapi mereka tidak sadar revolusi muncul dari dalam hati.”

Syair ini sudah beredar luas di kalangan warga sipil Myanmar dan menginspirasi para demonstran.

Mr. Wu, seorang warga Tionghoa di Myanmar mengatakan bahwa sejak bulan Maret, berita polisi militer setempat membunuh orang dan pengambilan organ tubuh sudah sering terdengar.

Menurut Mr Wu, tidak hanya Khet Thi  yang mengalami pengambilan organ dalam tubuh, tetapi banyak yang lain. Sasaran tembak militer Myanmar adalah kepala, dan beberapa diantaranya sampai plasma otaknya keluar. Kemudian, mereka yang membawa korban pergi dan tidak memberi kesempatan kepada warga sipil untuk mengambil jenazah. Organ dari para korban itu telah dikuras. 

“Keesokan harinya, terlihat di bagian dada dan perut telah dijahit dengan kawat besi atau tembaga, dan dibuang di jalanan, membiarkan orang yang mengambil sendiri jenazahnya. Situasi seperti ini yang terjadi,” kata Mr. Wu.

Menurut laporan media ‘The Irrawaddy’ pada 10 Mei, selama kecaman masyarakat internasional dan tuntutan ASEAN untuk segera mengakhiri kekerasan, rezim militer Myanmar terus menekan, menyerbu, dan menyiksa para warga sipil yang menentang kekuasaannya.

Kabarnya, lebih dari 11.100 orang staf akademisi dan universitas diberhentikan setelah terlibat dalam protes terhadap pemerintah militer.

Menurut data yang terkumpul oleh ‘Myanmar Aid to Political Prisoners Association’, hingga  Minggu 9 Mei, tercatat ada 780 orang tewas akibat penindasan keras yang dilakukan pemerintah  junta militer Myanmar. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular