Li Yan 

Epidemi di India terus memburuk. Sementara gelombang baru infeksi virus Komunis Tiongkok atau Covid 19  dengan cepat melanda semakin banyak negara Asia Selatan dan Tenggara. Negara-negara ini berjuang dalam wabah terburuk sejak pandemi dimulai. Organisasi internasional meminta lebih banyak tindakan untuk menghentikan bencana global ini.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)   pada Rabu (5 Mei), dalam sepekan terakhir, India menyumbang hampir setengah dari infeksi dunia dan seperempat kematian.

Pada saat yang sama, di negara-negara sekitar India, dari Nepal di utara hingga Sri Lanka dan Maladewa di selatan,  bahkan lebih jauh di Asia Tenggara, Thailand, Kamboja, dan Indonesia, tingkat penularan telah melonjak.

WHO mengatakan pada hari Rabu 5 Mei menyatakan bahwa Asia Tenggara telah melaporkan lebih dari 2,7 juta kasus baru dan lebih dari 25.000 kematian baru, meningkat masing-masing 19% dan 48% dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Tren peningkatan saat ini sangat besar. Sebagian didorong oleh India.

Virus Komunis Tiongkok pecah lagi dengan cepat, memberikan tekanan yang luar biasa pada sistem kesehatan dan persediaan medis di negara-negara Asia. .

Nepal

Sebelumnya, ada laporan bahwa krisis epidemi Nepal semakin mirip dengan India. Tingkat infeksi telah meningkat tajam, rumah sakit kewalahan, dan mereka meminta bantuan negara lain.

Menurut laporan negara saat ini, ada sekitar 20 kasus COVID-19  per 100.000 orang per hari — serupa dengan tingkat infeksi yang dilaporkan oleh India dua minggu lalu.

Menurut data pemerintah yang dikutip Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), akhir pekan lalu, 44% hasil tes virus Nepal positif.

Presiden Palang Merah Nepal, Dr. Netra Prasad Timsina, mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Jika kita tidak dapat mengendalikan epidemi COVID baru-baru ini, apa yang terjadi di India sekarang adalah pratinjau yang buruk tentang masa depan Nepal, itu akan merenggut lebih banyak nyawa. “

Gelombang baru wabah telah disalahkan pada festival, pertemuan politik, dan acara publik berskala besar termasuk pernikahan, serta perawatan masyarakat umum dan tindakan pemerintah yang lambat.

Beberapa menyalahkan lonjakan tingkat infeksi di negara tetangga India. Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal, Dr. Samir Adhikari, mengatakan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, beberapa orang India berharap mendapatkan layanan medis di Nepal atau melarikan diri ke negara ketiga untuk menghindari gelombang kedua epidemi di negara mereka. 

Dr Adicari mengatakan, “Situasinya semakin buruk dari hari ke hari, dan mungkin tidak terkendali di masa depan.”

Menghadapi epidemi yang parah, Nepal telah memperketat perbatasannya dan memberlakukan blokade di daerah-daerah yang paling parah terkena dampak, termasuk Kathmandu. Tetapi beberapa orang khawatir bahwa ketika virus menyebar di ibu kota, hingga base camp Everest, langkah ini tidak akan cukup untuk mengendalikan virus.

Nepal memiliki lebih sedikit dokter per kapita daripada India, dan tingkat vaksinasi juga lebih rendah daripada negara tetangganya di selatan.

Sri Lanka

Sejak pertengahan April, kasus virus Komunis Tiongkok Sri Lanka telah melonjak, dan tingkat infeksi dengan cepat melampaui gelombang puncak sebelumnya pada bulan Februari.

Sebelumnya  negara kepulauan Asia Selatan melaporkan 1.895 kasus — hampir lima kali lipat dari angka tahun lalu yang dilaporkan pada awal April.

CNN melaporkan bahwa menteri kesehatan Sri Lanka, Pavithra Wanniarachchi, menyatakan bahwa peningkatan tingkat infeksi disebabkan oleh perayaan Tahun Baru yang besar di negara itu pada 13 dan 14 April, di mana orang-orang berbondong-bondong ke jalan untuk merayakan dan berbelanja.

Namun tak lama kemudian, jumlah infeksi di negara itu mulai melonjak. Pada 27 April, negara itu melaporkan 1.111 kasus baru, ini pertama kalinya jumlah infeksi harian melonjak menjadi 1.000 sejak awal pandemi. Pihak berwenang menutup sekolah, melarang aktivitas pribadi, dan memberlakukan blokade di lebih dari 100 wilayah di seluruh negeri.

Namun, pembatasan ini gagal mencegah kasus terus meningkat. Minggu lalu  Sri Lanka memperpanjang tindakan blokade ke empat wilayah lainnya. Sejauh ini, 13 dari 25 wilayah administratif negara telah menerapkan blokade.

Dr. Chandima Jeewandara dari Universitas Sri Lanka mengatakan bahwa meskipun Sri Lanka sangat dekat dengan India, hingga minggu lalu, tidak ada varian India yang terdeteksi di negara tersebut. Sebaliknya, lonjakan kasus di negara tersebut disebabkan oleh varian Inggris yang sangat menular, B.1.1.7.

Pekan lalu, Presiden Gotabaya Rajapaksa mengatakan bahwa satu-satunya jawaban atas meningkatnya epidemi adalah vaksinasi. Sri Lanka memesan vaksin AstraZeneca dari Serum Institute of India, tetapi negara tersebut menghadapi kekurangan 600.000 dosis vaksin.

Sejauh ini, negara berpenduduk 21 juta orang itu hanya menerima 1 juta dosis vaksin — sekitar 5 dosis untuk setiap 100 orang. Angka ini bahkan lebih lambat daripada di India, di mana 12 dosis diberikan untuk setiap 100 orang.

Setelah Bangladesh dan Nepal, Sri Lanka menjadi negara terbaru yang menutup pintunya ke negara tetangga India.

Maladewa

Maladewa, negara tetangga India lainnya, melaporkan pada Selasa  4 Mei bahwa menurut data dari Badan Perlindungan Kesehatan, terdapat 601 kasus baru COVID-19 di negara tersebut setiap hari.

Karena ketergantungan ekonominya pada pariwisata, kepulauan Samudra Hindia ini membuka kembali perbatasannya untuk wisatawan internasional pada Juli tahun 2020 lalu setelah blokade tiga bulan, menjadi negara pertama yang menyambut turis asing selama pandemi.

Tahun ini, India menjadi sumber wisatawan terbesar ke Maladewa. Menurut data Kementerian Pariwisata, dari Januari hingga Maret, hampir 70.000 orang India mengunjungi Maladewa, menyumbang 23% dari pangsa pasar, menggandakan jumlah wisatawan India pada tahun 2020.

Bulan lalu, pejabat Maladewa mengumumkan rencana untuk memberikan vaksinasi bagi wisatawan pada saat kedatangan untuk mempromosikan pariwisata. Namun, tindakan ini tidak akan dilakukan sampai penduduk negara itu divaksinasi penuh.

Sejauh ini, negara berpenduduk 530.000 orang ini telah memberikan lebih dari 400.000 dosis vaksin, atau 76 dosis per 100 orang. 21% populasi telah divaksinasi penuh.

Saat ini, negara berfokus pada pengendalian epidemi negara, terutama di Wilayah Malé Besar yang padat penduduk.

Menurut data dari Pusat Operasi Darurat Kesehatan negara itu pada hari Senin 3 Mei, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit karena infeksi di Male meningkat tiga kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Departemen tersebut memperingatkan bahwa varian baru dari virus Komunis Tiongkok mungkin telah memasuki Maladewa.

Mulai Kamis 6 Mei, Wilayah Greater Male akan menerapkan jam malam dari jam 9 malam hingga jam 4 pagi setiap hari. Selama periode ini, individu hanya dapat keluar untuk tujuan yang diperlukan dan layanan pengiriman dengan izin dari polisi.

Thailand

Pada Januari tahun lalu, Thailand menjadi negara pertama di luar Tiongkok yang melaporkan epidemi, tetapi karena berhasil menahan, jumlah infeksi di negara itu pada tahun 2020 tetap pada tingkat yang rendah. Namun, negara menghadapi tantangan yang lebih besar tahun ini.

Setelah menahan gelombang kedua infeksi yang dimulai pada Desember tahun lalu, Thailand bekerja keras untuk mengatasi gelombang ketiga infeksi. Gelombang baru infeksi ini telah mendorong jumlah kasus harian dan kematian ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara ini.

Sebelum gelombang infeksi terbaru dimulai, pada 31 Maret, Thailand telah melaporkan 28.863 kasus. Dalam lima minggu, jumlah ini berlipat ganda menjadi lebih dari 76.000 kasus. Pernah negara itu melaporkan 1.911 kasus baru.

Gelombang baru epidemi telah ditelusuri ke beberapa tempat kehidupan malam di Bangkok. Pada 5 April, kota itu mengumumkan penutupan 196 tempat hiburan untuk jangka waktu dua minggu. Namun virus terus menyebar. Epidemi meningkat selama Tahun Baru Thai Songkran pada pertengahan April, ketika ratusan ribu orang Thailand berkumpul kembali dengan keluarga mereka dan melakukan perjalanan ke pantai.

Pihak berwenang telah mendirikan rumah sakit lapangan dan menggunakan pusat olahraga, ruang konferensi, dan hotel untuk menampung orang yang terinfeksi, termasuk kasus tanpa gejala, untuk mengekang penyebaran virus di masyarakat.

Pada Selasa 4 Mei, lebih dari 300 penduduk di daerah padat penduduk di Bangkok terinfeksi. Oleh karena itu, pemerintah meluncurkan kampanye untuk memvaksinasi 50.000 orang yang tinggal di sana.

Pemerintah negara itu dituding terlalu lamban meluncurkan vaksin. Di negara berpenduduk hampir 70 juta orang ini, sejauh ini hanya 2 dosis per 100 orang yang telah divaksinasi.

Kamboja

Jumlah kasus di Kamboja juga meningkat tajam. Sebelum Februari, Kamboja merupakan salah satu negara dengan kasus infeksi paling sedikit di dunia dan tidak ada kematian.

Namun, wabah yang dimulai pada akhir Februari menyebabkan tingkat infeksi di negara itu melonjak dari sekitar nol menjadi ratusan orang per hari. 

Menurut data dari Universitas Johns Hopkins, jumlah total kasus di negara tersebut telah melonjak dari sekitar 500 kasus pada akhir Februari menjadi 17.621 kasus saat ini, dengan 114 kasus kematian terkait. Negara itu pernah mencatat 650 kasus baru dan 4 kasus kematian.

Lonjakan kasus telah memberikan tekanan luar biasa pada sistem perawatan kesehatan negara yang rapuh. Pada 6 April, Perdana Menteri Hun Sen memerintahkan pasien yang terinfeksi dengan gejala ringan menerima perawatan di rumah karena rumah sakit hampir penuh.

Pada 11 April, WHO memperingatkan bahwa Kamboja “di ambang tragedi nasional”.

Perwakilan WHO di Kamboja, Li Ailan, mengatakan: “Kecuali kita dapat menghentikan wabah, sistem kesehatan Kamboja kemungkinan akan kewalahan, yang akan memiliki konsekuensi bencana.”

Li Ailan juga memperingatkan bahwa epidemi saat ini berbeda dari tahun lalu karena varian Inggris yang sangat menular yang ditemukan di Kamboja.

Untuk mengekang penyebaran virus, pihak berwenang memberlakukan blokade pada 15 April di ibu kota Phnom Penh dan “zona merah” tempat tinggal 300.000 orang. Pembatasan ini terjadi selama Tahun Baru Kamboja. Selama tiga hari libur nasional ini, biasanya banyak orang yang pulang kampung untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.

Di bawah tindakan penguncian yang ketat, penghuni dilarang meninggalkan rumah mereka kecuali untuk keadaan darurat medis. Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa blokade akan menimbulkan krisis kemanusiaan baru, warga berjuang untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan lainnya, dan lembaga swadaya masyarakat dilarang campur tangan dalam pemberian bantuan.

Belakangan  meskipun terjadi lonjakan kasus, Hun Sen memerintahkan pencabutan blokade Phnom Penh.

Negara ini menggantungkan harapannya pada vaksinasi untuk mengekang gelombang kedua epidemi. Sejauh ini, negara berpenduduk 16 juta orang ini telah menerima lebih dari 2,6 juta dosis vaksin, tetapi hanya 6,33% penduduknya yang divaksinasi lengkap.

Indonesia

Awal pekan ini, Kementerian Kesehatan Indonesia mengkonfirmasi bahwa dua pasien terinfeksi strain B.1.617 varian India yang sangat menular. Negara berpenduduk 270 juta orang ini mencatat rata-rata sekitar ribuan kasus infeksi setiap hari dalam seminggu terakhir.

Saat mudik segera datang. Selama hari raya Idul Fitri puluhan juta orang akan kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idul Fitri yang berarti akhir Ramadhan.

Untuk mencegah penyebaran virus selama musim liburan, pemerintah Indonesia melarang semua perjalanan domestik “mudik”  dari 6 Mei hingga 17 Mei.

Menurut kantor berita nasional Antara, meski ada larangan perjalanan, 18 juta orang atau 7% dari populasi negara berencana untuk bepergian selama Idul Fitri.

Antara melaporkan bahwa sekitar 155.000 orang, termasuk 90.000 petugas polisi dan 11.500 aparat militer, dikerahkan ke pos-pos di seluruh negeri untuk menegakkan larangan dan pembatasan di sekitar jalur mudik. 

Pada Rabu 5 Mei, Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperingatkan bahwa lebih banyak yang harus dilakukan untuk menghentikan tragedi yang terjadi di seluruh Asia.

Direktur Regional Asia Pasifik IFRC Alexander Matheou mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Kami perlu bertindak sekarang, dan kami perlu bertindak cepat, untuk berharap dapat mengatasi bencana ini. Virus ini tidak mengenal batas, dan varian ini sedang mengamuk di seluruh Asia.  (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular