oleh Li Yan – Epochtimes.com

Ketegangan antara Israel dengan Palestina pada Minggu ini, meningkat pesat. Kelompok militan Palestina di Gaza, Hamas menembakkan ribuan roket ke Israel, dan Israel membalasnya dengan serangan udara berskala besar. Ini adalah konflik militer paling serius yang memakan ratusan korban jiwa di kedua pihak.

Konflik dimulai gara-gara warga Palestina melemparkan peluru artileri ke pasukan keamanan Israel. Pada Jumat 7 Mei lalu, warga Palestina dan polisi Israel bentrok di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem yang menimbulkan korban luka ratusan orang di pihak Palestina. Sejak saat itu kekerasan berangsur-angsur meningkat.

Hamas di Gaza juga bergabung dalam pertempuran itu, mereka menembakkan roket ke Israel, dan Israel pun menanggapinya dengan melancarkan serangan udara.

Keesokan harinya, seorang perwakilan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa situasi di kedua belah pihak sedang meningkat ke arah perang berskala penuh.

“Segera hentikan penembakan. Kita sedang meningkatkan ke arah perang berskala penuh,” katanya. 

Tor Wennesland, Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Proses Perdamaian Timur Tengah mengatakan : “Para pemimpin dari semua pihak harus bertanggung jawab untuk menenangkan diri”.

Namun menghentikan kekerasan mungkin tidak mudah. Faktor politik, agama, dan nasionalis semuanya berperan dalam konflik.

Penyulut terjadinya insiden 

Tempat terjadinya perkara, yakni Kota Tua Yerusalem dalam beberapa pekan terakhir terus berada dalam situasi tegang. Pada saat pandemi virus komunis Tiongkok (COVID-19) merajalela, warga Palestina merasa terganggu dengan adanya pembatasan aktivitas keagamaan Muslim karena epidemi. 

Selain itu, tujuh keluarga Palestina tampaknya menghadapi deportasi dari Yerusalem Timur, karena gagal memenangkan gugatan terhadap real estate mereka yang sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Sengketa hukum atas kediaman Sheikh Jarrah di wilayah Yerusalem Timur itu telah memanaskan kembali topik paling sensitif dari kedua pihak yang belum juga mendingin selama bertahun-tahun, yakni tentang kepemilikan Yerusalem dan masalah terkait lainnya. 

Pada akhir  April, ada laporan tentang terjadinya bentrokan antara komunitas Yahudi dan Arab di kota tersebut.

Awal pekan ini, parade tahunan untuk memperingati “Hari Yerusalem” dialihkan rutenya untuk menghindari bentrokan lebih lanjut. Pawai biasanya melewati kawasan Muslim di kota tua.

Yerualem Timur yang sensitif

Selama hampir dua dekade sejak berdirinya Israel pada tahun 1948, kota Yerusalem terbagi menjadi dua. Yerusalem Timur dikuasai oleh Yordania, sedangkan Yerusalem Barat dikuasai oleh Israel yang kemudian dijadikan sebagai ibu kotanya.

Yang terpenting adalah Kota Tua Yerusalem dan situs sucinya berada di Yerusalem Timur.

Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus  diyakini oleh umat Kristiani sebagai tempat pemakaman Yesus Kristus dan menjadi tujuan peziarahan berada di Kota Tua. Ini juga merupakan lokasi Masjid Al-Aqsa yang diyakini oleh umat Muslim sebagai tempat Nabi Muhammad naik ke surga.

Pada tahun 1967, setelah melalui perang selama 6 hari, Israel merebut kembali Yerusalem Timur, dan seluruh Yerusalem dikembalikan ke Israel. Israel juga mendapatkan kembali kendali atas Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan.

Menurut perjanjian perdamaian yang dibuat tahun 1979, warga sipil Palestina dapat menikmati otonomi terbatas di beberapa bagian Gaza dan Tepi Barat, tetapi Israel tetap memegang wewenang atas semua masalah pengendalian terhadap perbatasan dan keamanannya.

Pandangan para petinggi Israel dan Palestina tentang kasus Sheikh Jarrah

Kantor berita resmi Palestina ‘Wafa’ yang mengutip informasi yang disampaikan oleh pemimpin Palestina melaporkan, bahwa praktik Israel mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka tidak lain adalah tindakan “pembersihan terhadap etnis” dengan tujuan “Meng-Yahudisasi Kota Suci, Yerusalem”.

Israel menyatakan bahwa konflik itu hanyalah masalah sengketa real estate. Kementerian Luar Negeri menuduh Otoritas Palestina dan kelompok-kelompok militan yang berupaya membesar-besarkan sengketa real estate antara individu-individu menjadi perselisihan yang dikaitkan dengan nasionalisme untuk memicu kekerasan di Yerusalem.

Faktor lain yang ikut berkontribusi pada peningkatan ketegangan 

Menurut CNN, insiden yang terjadi di Sheikh Jarrah merupakan titik awal meletusnya konflik putaran baru antara Israel dengan Palestina, yang diluar dugaan situasi ini dengan cepat menyebar ke seluruh kota dan jauh ke luar Yerusalem.

Ketika kepekaan Yerusalem dipadukan dengan faktor agama dan nasionalis, situasinya menjadi lebih rumit.

Tahun ini ada dua hari peringatan yang terjadi berbarengan dalam satu pekan lalu, yakni Lailat Al-Qadar (Leylet el-Qadr) pada 8 Mei malam yang merupakan malam paling suci bagi umat Islam dalam setahun. Dan, Hari Yerusalem (Yom Yerushalayim) bagi Israel untuk merayakan hari keberhasilan tentara Israel menguasai Kota Tua pada tahun 1967 yang jatuh pada 9~10 Mei.

Festival itu sendiri dapat menginspirasikan sentimental keagamaan dan nasionalisme warga. Jadi ketika keduanya bertemu, maka lebih mudah untuk memanaskan situasi yang memang sudah tegang.

Mahmoud Abbas, ketua Otoritas Palestina untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir menunda pemilihan parlemen yang sedianya dilakukan pada bulan April lalu. Gerakan Fatahnya menguasai Tepi Barat, sementara Gaza dikelola oleh militan Hamas, dimana kelompok Jihad Islam juga beroperasi di sana.

Faktor-faktor kompleks ini segera menyebabkan konflik militer paling serius antara Israel dengan Palestina dalam beberapa tahun ini. Kelompok militan Gaza, Hamas menembakkan roket ke Israel, sehingga warga Israel berlari ke tempat penampungan serangan udara, tetapi 6 orang masih terbunuh, lebih dari 200 orang terluka. 

Kemudian militer Israel membalas dengan melancarkan serangan udara berskala besar ke Gaza yang menyebabkan beberapa pejabat senior Hamas tewas.

Oleh karena itu, dunia internasional kembali mengalihkan perhatiannya pada masalah teritorial Israel – Palestina ini.

Biden : Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri

Badan Keamanan Nasional Israel pada Rabu (12 Mei) menyatakan bahwa pemimpin operasi militer Hamas di Kota Gaza, Bassim Issa, dan komandan senior lainnya, termasuk kepala insinyur Hamas dan pemimpin perang dunia maya dan Pemimpin penelitian roket dan pembangunan telah tewas terbunuh.

Di Gaza, setelah memperingatkan warga untuk mengungsi terlebih dahulu, Israel menyerang gedung tinggi yang berisi kantor badan intelijen Hamas, kantor badan penelitian dan pengembangan roket. Disamping itu, sebuah bangunan lain juga rusak parah dalam serangan udara itu.

Pejabat Israel mengatakan bahwa sejauh ini, setidaknya 41 orang pejuang Palestina telah tewas dalam serangan ke Gaza.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menanggapi dengan mengatakan : “Harapan saya adalah bahwa tindakan ini bisa berakhir lebih cepat, tetapi Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri”.

Pada Rabu 12 Mei, Amerika Serikat mengirim seorang diplomat senior untuk mendesak Israel dan Palestina mengakhiri konflik kekerasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Anthony Blinken membela hak Israel untuk melindungi dirinya sendiri dan mengutuk Hamas, oganisasi milisi yang mengontrol Jalur Gaza, karena meluncurkan roket ke Israel. Menurut Blinken,  Israel memiliki kewajiban khusus untuk menghindari terjadi korban di pihak warga sipil. (sin)

https://www.youtube.com/watch?v=99jO_tSJjXA

Share

Video Popular