Erabaru.net. Dalam setiap keluarga dengan satu anak, anak tersebut cenderung akan sangat dicintai dan dimanja. Para orangtua akan cenderung melindunginya dalam segala aspek. Mereka mencurahkan seluruh energinya untuk sang anak, memberikan yang terbaik bagi sang anak. Mereka berharap anaknya akan memperlakukan seperit itu ketika dirinya sudah tua.

Xiaofen adalah anak tunggal. Kedua orangtuanya adalah pekerja keras dan mereka hidup dengan sangat berkecukupan. Sebagai satu-satunya anak pada masa itu, kondisi keluarga mereka cukup baik, Xiaofen telah menyayangi orang uanya sejak dia masih kecil dan menjalani kehidupan yang nyaman.

Xiaofen menikah dengan seorang pria yang juga anak tunggal, dan mereka telah memiliki anak perempuan. Beberapa waktu lalu, ayah Xiaofen secara tidak sengaja terjatuh dan kakinya patah.

Karena ayahnya telah berusia lebih dari 80 tahun, pemulihannya juga relatif lambat, dan ia harus berbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama.

Di bawah perawatan ibunya, kondisi ayahnya mulai membaik. Tetapi Xiaofen, sebagai putri tunggal, masih harus sering mengunjungi ayahnya.

Tidak lama kemudian, ayah mertuanya juga dirawat di rumah sakit karena pendarahan otak. Xiaofen dan suaminya harus pergi bekerja dan juga harus mengunjungi orangtua di kedua sisi, mereka sering pulang larut malam, sehingga mereka bahkan tidak bisa merawat putri mereka.

Putrinya juga mulai mengeluh, merasa bahwa orangtuanya tidak mempedulikannya, sehingga dia sering menangis.

Xiaofen kelelahan secara fisik dan mental, dan nafsu makannya semakin memburuk. Dokter mengatakan kepadanya bahwa dia perlu istirahat.

Xiaofen akhirnya putus asa dan menangis depan ayahnya,: “Tolong biarkan saya menjalani hidup.” Dia dengan terpaksa mengirim ayahnya ke panti jompo.

Ketika dia masih kecil, dia menerima banyak cinta dan kasih sayang, dan secara alami dia harus membalasnya ketika dewasa. Meskipun merawat orangtua adalah kewajiban anak-anak, dia sebagai anak tunggal menghadapi tekanan harus mengurus 4 orangtua, dan juga harus mengurus anaknya, dapat dibayangkan keruntuhan batin dan rasa sakit yang dia rasakan. Beberapa anak bahkan harus melawan niat awal mereka dan mengirim orangtua mereka ke panti jompo.

Sebagai anak-anak, mereka semua ingin berbakti pada orangtua dan merawat orangtua mereka. Tetapi hidup ini sangat realistis dan tidak berdaya.

Jika Anda tidak dapat merawat orangtua Anda dengan baik, mengirim orangtua Anda ke panti jompo sepertinya adalah pilihan yang baik.

Bagaimana anak tunggal bisa membuat orangtuanya mau pergi ke panti jompo?

1. Anak-anak harus berkomunikasi dengan orangtuanya

Orangtua penuh dengan kasih sayang dan harapan kepada anaknya, mereka tidak meminta anak mengurus mereka setiap hari. Mereka hanya berharap untuk melihat anaknya setiap hari dan membantu mereka. Ini merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi para orangtua.

Jika anak benar-benar kekurangan tenaga untuk mengasuh orangtuanya dan ingin mengirim orangtuanya ke panti jompo, dia harus berkomunikasi dengan orangtuanya agar orangtuanya dapat menerima permintaan anaknya secara ideologis dan tidak melukai perasaannya.

2. Berkomitmen dan sering mengunjungi orangtua

Setelah beberapa anak mengirim orangtuanya ke panti jompo, mereka benar-benar ditinggalkan, terlepas dari situasi atau perasaan orangtua mereka. Ini sangat merugikan orangtua.

Ketika orangtua pergi ke panti jompo, anak mereka juga harus sering mengunjunginya untuk mengetahui kondisi orangtuanya, sering berkomunikasi dengan orangtua mereka, sehingga orangtua dapat merasakan perhatian anak mereka.

Sebelum anak mengirim orang tuanya ke panti jompo, mereka harus membuat komitmen untuk sering mengunjungi orang tua mereka dan tidak membiarkan orang tua mereka merasa diacuhkan

3. Biarkan orangtua memilih panti jompo yang dapat dipercaya

Para orangtua enggan pergi ke panti jompo karena tiga alasan. Salah satunya adalah bahwa mereka berpikir bahwa dia dapat menjaga dirinya sendiri.

Kedua, para orang tua memiliki prasangka buruk terhadap panti jompo, percaya bahwa hanya orangtua yang memiliki anak tidak berbakti yang akan tinggal di panti jompo

Ketiga, orangtua dipengaruhi oleh beberapa kejadian buruk di panti jompo, dan mereka sangat antipati terhadap panti jompo.

Saat memilih panti jompo untuk orangtua, selain cermat dalam pemilihan, anak juga harus berkonsultasi dengan berbagai pihak, orangtua juga bisa memilih panti jompo sendiri. Jika ada kenalan yang telah tinggal di panti jompo, mereka akan lebih bisa menjaga satu sama lain, lebih bisa berkomunikasi satu sama lain, dan orangtua tidak akan merasa kesepian.

Anak-anak harus memeriksa informasi yang detail tentang panti jompo dan menghindari panti jompo yang “kurang baik” untuk mencegah orangtua mereka mengalami pelecehan fisik. Bagaimanapun, orangtua sudah tua dan anak-anak adalah penopang terbesar, dan sangat penting untuk memilih panti jompo yang dapat diandalkan.

Orangtua Tionghoa lebih tradisional dalam berpikir, mereka ingin tinggal bersama anak-anak mereka dan menikmati kebahagiaan keluarga.

Sekalipun anak-anak tidak memiliki energi untuk mengurus diri mereka sendiri, mereka lebih memilih untuk hidup sendiri, daripada pergi ke panti jompo.

Jika anak-anak dapat memilih panti jompo berkualitas tinggi untuk orangtua mereka, dan dapat sering mengunjungi orangtua mereka, memberikan harapan nyata, saya yakin orangtua juga akan bersedia untuk tinggal di panti jompo, dan tidak mau merepotkan anak-anak mereka.(lidya/yn)

Sumber: hknews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular