oleh Li Yun

Ketika epidemi virus komunis Tiongkok (COVID-19) terus berkecamuk, kesulitan dalam merekrut pekerja dan kesulitan dalam mencari pekerjaan muncul bersamaan. Baru-baru ini, sebuah fenomena aneh muncul di Desa Kangle, Distrik Haizhu, Kota Guangzhou. Bukan pekerja yang bersusah payah mencari pekerjaan. Kini  sejumlah pemilik pabrik garmen berdiri berjajar di tepi jalan sepanjang hampir 1 kilometer. Mereka berdiri sambil membawa lembaran kertas tebal yang tertera tulisan mencari tenaga kerja, mereka sedang menunggu pekerja yang bersedia direkrut.  Tetapi juga tidak kalah anehnya ! Ada jutaan orang mahasiswa yang terjebak dalam situasi sulit mendapatkan pekerjaan. 

Menurut pemberitaan  media corong partai Komunis Tiongkok, China Central TV pada (16/5/2021), di Desa Kangle, Distrik Haizhu, Kota Guangzhou, di jalan yang tampaknya tidak terlalu lebar, ribuan orang pemilik pabrik pakaian jadi berdiri dengan membawa sampel dan kertas tebal bertuliskan mencari tenaga kerja. Mereka berjajar hampir sepanjang 1 km untuk menanti para pekerja yang bersedia direkrut.

Laporan menyebutkan, fenomena ini kerap muncul di beberapa lokasi di Guangzhou yang dipadati pabrik garmen. Bos garmen sendiri dengan membawa contoh produksi yang diinginkan, berdiri di pinggir jalan untuk menawarkan pekerjaan kepada tenaga yang mampu melakukannya bukanlah hal baru atau hal aneh. 

Dalam situasi dimana menghadapi penuaan tenaga kerja lawas, tetapi menurunnya minat anak muda seperti yang pasca kelahiran -90-an atau pasca 2000-an untuk memasuki pabrik. Itu telah memperburuk situasi kekurangan tenaga kerja di bidang ini.

Ada bos garmen yang mengeluh dengan mengatakan bahwa, banyak anak muda yang tidak mau melakukan pekerjaan seperti ini. Meskipun  sejumlah pabrik garmen telah menaikkan upah kepada mereka, tetapi masih saja sulit mendapatkan pekerjanya.

Laporan tersebut mengatakan bahwa tidak hanya di Guangdong, tetapi juga di Desa Taobao di Chengdu, Sichuan, masalah yang sama juga dialami. Pemilik pabrik yang mengangkat sebuah plakat berisikan tawaran gaji sekitar RMB. 5.000 – 8.000 sebulan untuk pekerja yang diinginkan. Akan tetapi, setelah ditunggu-tunggu masih terpaksa pulang dengan tangan hampa.

Menurut Biro Statistik Nasional Tiongkok, dalam survei terhadap lebih dari 90.000 perusahaan yang bergerak di manufaktur, sekitar 44% diantaranya melaporkan kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja.

Pada awal April, “Economic Information Daily” juga melaporkan bahwa dengan dimulainya kembali pekerjaan dan produksi pasca epidemi, masalah seperti kesulitan dalam merekrut tenaga kerja dan biaya tenaga kerja semakin mahal menjadi menonjol. 

Laporan menyebutkan bahwa sejak Tahun Baru 2021, Guangdong, Shandong, Zhejiang dan tempat-tempat lain telah mengalami kekurangan tenaga kerja.

Beberapa bos garmen mengatakan kepada wartawan, bahwa pabrik garmen kekurangan pasokan tenaga kerja saat ini. Meskipun gaji harian mereka telah dinaikkan hampir 20% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tetapi kesulitan ini masih dialami. 

“Sudah berdiri beberapa hari tapi yang didapat hanya beberapa orang”, keluhnya. 

Misalnya, Shengquan Group, sebuah perusahaan percontohan yang ditunjuk negara karena unggul dalam inovasi teknologi yang berbagai produknya sudah diekspor ke banyak negara. Tetapi, masalah ketenagakerjaan masih membatasi perkembangan perusahaan.

Yan Liang, kepala departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut mengatakan bahwa, proyek baru akan dimulai setelah tahun ini, dan perusahaan masih membutuhkan 1.500 orang tenaga kerja.

Yan Liang mengatakan, “Hanya 150 orang yang direkrut sebulan. Meskipun saya telah mencoba berbagai metode, tampaknya tidak ada lagi tenaga kerja di tempat ini yang dapat direkrut”.

Penanggung jawab Wolong Electric (Jinan) Electric Co., Ltd. mengatakan bahwa, perusahaan masih membutuhkan 400 orang tenaga kerja, tetapi hanya belasan orang yang cocok telah direkrut dalam sebulan terakhir. “Banyak pelamar tidak memenuhi persyaratan pekerjaan”.

Wang Hailong, manajer umum Yiwu Crystal Love Knitting Garment Co., Ltd., mengatakan bahwa, dibandingkan dengan tahun lalu, gaji bulanan pekerja telah dinaikkan hampir RMB. 500, sehingga biaya produksi juga mengalami kenaikan, tetapi masih sulit mendapatkan pekerja.

Beberapa pemilik pabrik garmen di Guangdong mengatakan bahwa, gaji harian pekerja garmen telah mencapai lebih dari RMB. 500,-, dan tenaga kerja di bagian pemintalan, penyetrikaan yang  paling dibutuhkan pabrik sekarang dengan gaji bulanannya, sudah disesuaikan hingga berkisar di antara RMB. 6.000,- hingga 10.000,-

Penanggung jawab perusahaan spektrometer massa di Guangzhou mengatakan bahwa, sulit untuk memperoleh tenaga kerja berbakat. Dikarenakan telah diambil alih oleh industri jasa dan perusahaan Internet. Sedangkan tenaga kerja dari dalam berangsur-angsur minta berhenti atau dibajak pihak lain.

Namun, ada bos pabrik garmen yang mengungkapkan bahwa banyak juga pabrik yang memeras tenaga kerja, jam kerja sehari minimal 18 jam. Sebagian besar upah bulanan buruh dipotong dengan berbagai alasan. Jadi, hanya buruh pendatang atau migran yang mau bekerja di pabrik-pabrik itu.

Dibandingkan dengan bekerja di pabrik, industri jasa seperti pengantaran makanan atau barang lebih menarik bagi anak-anak muda. Laporan survei yang dilakukan Alibaba tahun 2020 menunjukkan bahwa, ada lebih dari 3 juta orang anak muda memilih menjadi pengojek online ketimbang bekerja di pabrik. Dan, hampir 50% dari mereka itu adalah anak muda kelahiran pasca tahun 90-an.

Sedangkan pengojek online kelahiran pasca tahun 2000 dalam survei itu menunjukkan, dalam setahun terakhir, jumlah anak muda golongan usia ini telah meningkat hampir 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dan, sebagian besar dari mereka bersedia merekomendasikan pekerjaan ini kepada teman-teman seusia.

Kesulitan dalam merekrut pekerja dan kesulitan dalam mencari pekerjaan muncul bersamaan

 Di daratan Tiongkok, kesulitan dalam merekrut pekerja dan kesulitan dalam mencari pekerjaan hidup berdampingan. Menurut Kementerian Pendidikan Tiongkok, bahwa akan ada 9,09 juta orang lulusan perguruan tinggi pada tahun 2021. Bahkan, lebih dari 10 juta lulusan di tahun berikutnya. 

Tahun 2020 dianggap sebagai tahun paling sulit dalam penempatan tenaga kerja. Banyak media melaporkan bahwa, data dari beberapa pusat layanan ketenagakerjaan untuk lulusan universitas di Tiongkok menunjukkan bahwa hanya 25% yang mendapatkan pekerjaan.

Pada 10 Juli 2020, situs web Kantor Berita Xinhua memiliki tajuk utama berjudul “Dengan segala upaya untuk membantu lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan”. 

Media Partai Komunis Tiongkok kembali berfokus pada penempatan tenaga kerja lulusan baru. 

Artikel tersebut menyebutkan bahwa Xi Jinping dalam surat balasan kepada lulusan China University of Petroleum – Beijing at Karamay menekankan … kita akan melakukan segala cara yang dimungkinkan untuk membantu lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan.

Para analis percaya bahwa surat balasan Xi Jinping atas pertanyaan para lulusan baru yang dilaporkan oleh media Partai Komunis Tiongkok, telah mencerminkan sulitnya para lulusan perguruan tinggi untuk mencari pekerjaan.

Di penghujung tahun 2020, Wu Aihua, Wakil Direktur Departemen Mahasiswa dari Kementerian Pendidikan Tiongkok mengungkapkan bahwa, kesulitan dalam memperoleh pekerjaan bagi mahasiswa terutama dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya ada yang jangka pendek dan jangka panjang. Pada tahun 2021, jumlah lulusan perguruan tinggi dalam negeri untuk pertama kalinya akan melebihi 9 juta orang. Sedangkan skalanya yang besar ini, pasti akan membuat situasi ketenagakerjaan di daratan Tiongkok semakin memburuk. (sin)

Share

Video Popular