oleh Xu Jian

Sungai Gangga yang dikeramatkan oleh warga India dipenuhi  jenazah atau potongan jenazah warga yang diduga meninggal akibat terinfeksi virus komunis Tiongkok (COVID-19). Kejadian tersebut merisaukan khususnya warga di sekitar sungai dimana jenazah-jenazah itu tersangkut.

Sejumlah jenazah mengapung dan mengalir mengikuti arus Sungai Gangga. Sebagian besar lagi masih ditumpuk di tempat-tempat kremasi sedang menunggu giliran pengabuan. Inilah pemandangan tragis yang terjadi di India belakangan ini.  India sedang dilanda wabah paling parah, setidaknya ada lebih dari 25 juta orang terinfeksi dan 275.000 kematian telah dicatat hingga sekarang.

Petugas keamanan memasang jaring di sungai untuk memudahkan pengangkatan jenazah

Insiden mencekam itu terjadi pertama kali pada 10 Mei saat masyarakat di sekitar Desa Chausa dekat perbatasan dengan Negara Bagian Bihar menemukan 71 jenazah yang mengambang dan tersangkut di Sungai Gangga dekat desa mereka. 

Neeraj Kumar Singh, kepala kantor polisi distrik Buxar kepada BBC mengatakan bahwa mereka telah melakukan otopsi pada sebagian besar mayat untuk mengumpulkan sampel DNA, dan mengubur jenazah-jenazah itu di dekat tepi sungai.

Pejabat setempat mengatakan bahwa ada jenazah yang tampaknya sudah dikremasi di tepi sungai terlebih dahulu meski tidak sempurna lalu dibuang agar mengalir mengikuti arus Sungai Gangga. Tetapi pihak berwenang juga menduga bahwa beberapa jenazah itu dibuang langsung ke sungai. Demi kemudahan dalam pengangkatan jenazah-jenazah, para petugas keamanan terpaksa memasang jaring di kedua sisi Sungai Gangga.

Hari kedua setelah kejadian dilaporkan oleh media, orang-orang menemukan puluhan jenazah yang sudah membusuk parah berserakan di tepi sungai sekitar 6 mil jauhnya dari Chausa. Terlihat anjing liar dan burung gagak menggerogoti jenazah itu. 

Warga setempat mengatakan bahwa jenazah itu sudah terdampar di pinggir tanggul selama beberapa hari. Mereka terus mengeluh soal tebaran bau busuk yang menyengat hidung.

Sedangkan di tempat-tempat seperti Kannauj, Kanpur, Unnao, Prayagraj dan lainnya, dasar sungai dimanfaatkan untuk mengubur jenazah dengan galiannya yang cukup dangkal. Dari video yang diposting BBC dapat terlihat begitu banyak gundukan tanah di dasar sungai yang didalamnya adalah jenazah tak dikenal.

Krematorium beroperasi 24 jam sehari

Secara tradisional, umat Hindu mengkremasi orang yang telah meninggal dunia. Namun, banyak komunitas mengikuti adat “Jal Pravah”, yaitu mengubur jenazah di air, yang biasanya diperlakukan terhadap jenazah anak-anak, wanita yang belum menikah, jenazah penyakit menular atau gigitan ular. 

Selain itu, bagi keluarga miskin yang tidak mampu membiayai kremasi, mereka akan memasukkan jenazah ke dalam air sungai setelah dibungkus dengan kain kafan. Kadang-kadang mereka mengikatkan batu ke jenazah agar tenggelam, tetapi ada juga yang tidak menggunakan pemberat.

Sebenarnya orang sudah terbiasa melihat jenazah yang mengapung di Sungai Gangga. Hanya saja yang mengherankan adalah begitu banyak jenazah yang terapung, tersangkut di sungai atau terdampar di tepi sungai dalam kurun waktu yang singkat.

Seorang reporter Kanpur mengatakan kepada BBC bahwa pada April, semua krematorium  bertenaga listrik dioperasikan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Itu pun tidak cukup, sampai pemerintah pun mengizinkan pembakaran jenazah dengan menggunakan kayu bakar di tempat terbuka.

Menurut reporter itu, tempat kremasi hanya menerima jenazah dengan sertifikat COVID-19 yang dikeluarkan rumah sakit. Banyak orang terinfeksi meninggal di rumah tanpa tes virus. Jika anggota keluarganya tidak dapat menemukan kayu atau krematorium yang mau menerima, maka jenazahnya dikuburkan di dasar sungai.

Pemerintah memberikan dana untuk membantu kremasi dan penguburan

Seorang reporter dari Prayagraj mengatakan bahwa dirinya percaya bahwa sebagian besar dari jenazah itu adalah pasien terinfeksi yang tidak terdiagnosis rumah sakit atau dokter atau orang miskin yang tidak mampu membayar biaya kremasi. 

“Ini memilukan. Mereka yang sudah meninggal pantas kita hormati, tetapi mereka bahkan belum menjadi bagian dari statistik. Penyebab kematian mereka tidak jelas, dan terkubur tanpa kejelasan,” katanya.

Sejak beberapa hari lalu, pemerintah negara bagian India telah melarang metode pemakaman air “Jal Pravah” dan memberikan dana kepada keluarga miskin yang tidak mampu membayar kremasi. 

Di banyak tempat, petugas keamanan menarik jenazah keluar dari sungai dengan tongkat dan menyewa tukang perahu untuk membawanya ke tepian untuk dikuburkan atau dibakar.

Vipin Tada, kepala polisi distrik Ballia mengatakan bahwa mereka sedang berbicara dengan kepala desa guna membuat mereka menyadari bahwa jenazah tidak boleh dibiarkan mengapung di sungai. Mereka yang tidak mampu membiayai kremasi dapat mencari bantuan keuangan.

Mangala Prasad Singh, pejabat keamanan di distrik Ghazipur mengatakan kepada BBC bahwa tim lokal melakukan patroli ke tanggul dan krematorium terbuka untuk mencegah warga  membuang jenazah ke dalam sungai atau dikubur di tempat. Namun meski begitu, timnya setiap hari masih saja menemukan satu atau dua jenazah yang dibuang ke dalam sungai. (sin)

 

Share

Video Popular