Erabaru.net. Seorang mahasiswa desain industri telah menciptakan mata ketiga berteknologi tinggi yang ditempelkan ke dahi seseorang dan dapat memperhatikan hambatan didepan mereka saat mereka berjalan, sementara mata asli mereka terpaku pada layar ponsel cerdas mereka.

Tidak dapat disangkal bahwa smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Sebagian besar orang menghabiskan berjam-jam setiap hari menatap perangkat genggam mereka, dan beberapa bahkan melakukannya saat sedang berjalan atau mengemudi.

(Foto: Pixabay)

Anda mungkin pernah melihat klip lucu orang-orang yang jatuh ke air mancur atau lubang air karena mereka melihat ponsel mereka ketika sedang berjalan, atau mungkin Anda pernah mengalami hal serupa.

Terima kasih kepada Mata Ketiga Minwook Paeng, Anda akan dapat mengirim pesan teks atau menjelajahi Instagram sambil berjalan, tanpa takut akan menabrak sesuatu.

Mata Ketiga Paeng terdiri dari kotak plastik tembus pandang yang dipasang langsung ke dahi pemakainya dengan bantalan gel tipis. Di dalam mata plastik ini terdapat speaker kecil, sensor giroskopik, dan sensor sonar.

Saat giroskop mendeteksi kepala pengguna yang melihat ke bawah, kelopak mata plastik akan terbuka dan sonar mulai memantau area di depan pengguna. Saat mendeteksi adanya hambatan, ini memperingatkan pemakainya melalui speaker yang terhubung.

“Komponen hitam yang terlihat seperti pupil adalah sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak,” kata desainer tersebut. “Saat ada penghalang di depan pengguna, sensor ultrasonik akan mendeteksi ini dan memberi tahu pengguna melalui bel yang terhubung.”

Paeng mengatakan pada Dezeen bahwa Mata Ketiga-nya adalah proyek pertama dalam rangkaian proyek yang mencoba membayangkan seperti apa rupa generasi “phono sapiens” masa depan.

Ponsel telah mengubah tubuh kita yang bahkan baru ada selama beberapa dekade, jadi bayangkan apa yang dapat mereka lakukan dalam beberapa generasi mendatang.

“Dengan menggunakan ponsel dalam postur tubuh yang buruk terus-menerus, dapat menyebabkan tulang belakang leher kita condong ke depan memberi kita ‘sindrom leher penyu’ dan kelingking tempat kita meletakkan ponsel kita akan bengkok seiring berjalannya waktu,” kata Paeng. “Saat beberapa generasi berlalu, perubahan kecil dari penggunaan ponsel cerdas ini akan terakumulasi dan menciptakan bentuk umat manusia yang sangat berbeda.” (lidya/yn)

Sumber: odditycentral

Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular