Erabaru.net. Hidup ini penuh dengan ekspektasi, dan mimpi terhubung ke masa depan! Bagikan kisah hangat tentang energi positif setiap hari, dan semoga setiap sinar cahaya dapat menyinari hati Anda.

Ada banyak kesulitan dan banyak cara untuk hidup di dunia ini, tetapi ada lebih banyak cinta!

Berikut ini adalah kisah pribadi dari seorang wanita:

Saya menemukan ada yang tidak beres dengan pembantu saya di rumah. Setiap dia keluar untuk membeli bahan makanan, tasnya menggembung penuh isi. Dia akan pergi lama dan makan untuknya tiba-tiba menghilang, padahal saya tidak melihat dia makan . Saya menjadi curiga dan memutuskan untuk menyenyelidiki dan mengikutinya. Apa yang saya lihat membuat saya tidak bisa berkata apa-apa ….

Saya menderita spondilosis serviks dan spondilosis lumbal yang serius. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur, apalagi mencuci dan memasak, dan melakukan pekerjaan rumah. Suami saya lantas mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Ketika pembantu itu bernama Xiaoxia, usianya sekitar 32 atau 33 tahun, dengan kuncir kuda, dia selalu tersenyum lembut dan sangat sopan. Pada pandangan pertama, ia adalah orang yang sangat ramah.

Pada hari pertama dia bekerja, Xiaoxia adalah seseorang yang sesuai dengan keinginan saya.

Hari-hari berikutnya, dia bekerja secara umum setiap hari, dia sangat jujur, segala pekerjaan dikerjakan dengan sangat baik. Xiaoxia tidak pernah membuat masalah.

Dia sangat diam, tidak tertawa atau jarang berbicara, dan sangat tenang. Terkadang saat saya bosan, ingin ngobrol dengannya, tapi dia terlalu pendiam.

Saya harus mengonsumsi sayuran yang segar, tapi setiap dia keluar untuk membeli sayuran, tas kain yang dia bawa selalu mengembung, terlihat penuh isi.

Saat keluar dia kembali sangat lama, saat saya tanya, katanya ia berkeliling-keliling untuk mendapatkan kualitas sayur yang baik dan harga yang murah.

Suatu hari, seorang teman menelepon saya untuk mengobrol dan membicarakan tentang pembantu rumah, dan teman saya mengatakan bahwa latar belakang hidup seorang pembantu sebagian besar adalah buruk dan dia mengingatkan bahwa jika ada pembatu di rumah harus diawasi dengan ketat. Ketika teman saya mengatakan itu, hati saya tiba-tiba menegang, dan sejak saat itu saya mulai memperhatikan Xiaoxia.

Suatu hari saat dia keluar untuk membeli sayuran sebelum makan siang, saya mengikutinya. Saya merasa sedikit gelisah, tetapi saya juga ingin membuktikan bahwa Xiaoxia adalah orang yang baik.

Berjalan ke pasar sayur, Xiaoxia dengan cepat membeli sayuran dan bukanya untuk kembali ke rumah, tetapi berjalan menuju perkampungan terdekat. Sesampainya di sebuah rumah yang kecil, dia mengeluarkan kunci dan membuka pintu untuk masuk.

Aku mendengar dia berkata dengan penuh semangat:

“Niu Niu, kamu lapar? Ibu saya datang, kalian akan segera makan.”

“Ibu” berasal dari suara yang kekanak kanakan, dengan kegembiraan.

“Aku tidak melihatmu sepanjang malam, apakah kamu memberi nenek air dan obat di pagi hari?”

“Nenek pipis di celananya di pagi hari, lalu nenek menangis,” kata gadis kecil itu.

Ada keheningan di rumah kecil itu, dan saya tidak berniat mendengarkan lagi. Percakapan di dalam rumah tersebut benar-benar sangat memilukan.

Seperi apa kondisinya, Xiaoxia dan apa yang dikatakan oleh agen tenaga kerja sangatlah berbeda

Lebih dari satu jam kemudian, Xiaoxia kembali dan menyapa saya dengan senyuman: “Bibi, ikan hari ini sangat segar, dan ada ikan kukus untuk makan siang.”

Setelah makan siang, aku menggandeng tangan Xiaoxia dan duduk di sofa, dan bertanya padanya: “Nak, kamu sangat rendah hati dan rajin. Bibi sangat puas dengan kerjamu dalam segala aspek. Apa pendapatmu tentang bibi?”

“Bibi dan paman sangat ramah, dan memperlakukan saya dengan baik, ada apa, bibi?” Kata Xiao Xia sedikit gugup, mengpa saya bertanya seperti itu.

“Nak, karena kita ditakdirkan untuk berkumpul dan memiliki kepribadaian yang sama, haruskah kita memperlakukan satu sama lain dengan tulus? Aku sedikit tidak yakin, aku baru saja mengikutimu ke pasar sayur. Apakah kamu butuh bantuan dari bibi? ” Saya langsung barkata ke intinya.

Xiaoxia menatapku dengan penuh tanya, matanya memerah, dia menundukkan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya.

Setelah terdiam beberapa saat, Xiao Xia menarik napas dalam-dalam dan berkata : “Maaf saya, bibi, saya tidak mengatakan yang sebenarnya, saya telah bercerai. Mantan suami saya meninggalkan saya dan putri saya yang berusia empat tahun dan pergi bersama wanita lain. Ibu mertua datang dan menderita stroke. Saya menyewa sebuah rumah kecil, di mana ibu mertua dan anak perempuan saya tinggal. Saya memberi mereka sisa makanan pada siang dan malam hari dari bibi, dan mereka akan menghangatkan sisa makan malam dan memakannya di pagi hari.”

Air mata Xiaoxia membasahi wajah, dan dia tidak dapat berbicara lagi, aku menyerahkan tisu kepadanya. Dia menenangkan diri dan melanjutkan: “Bibi, saya tidak ingin menutupi apa pun. Tapi saya khawatir Bibi akan terganggu dengan saya yang menjaga mertua dan anak perempuan saya, dan saya tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Saya membawa makan dari bibi untuk mereka, saya tidak berani memberitahu bibi, saya khawatir bibi tidak menginginkan saya bekerja lagi di sini. Saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya harus menghasilkan uang untuk menghidupi putri saya dan ibu mertua. Tidak masalah saya digaji lebih sedikit, asalkan saya tidak dipecat! “

“Nak, kamu tidak lagi memiliki kewajiban untuk menghidupi mantan ibu mertuamu,” kataku.

“Ayah mertua saya telah meninggal, dan ibu mertua saya sangat menderita karena membesarkan putranya. Sekarang putranya tidak memperdulikan dia lagi. Jika saya tidak peduli, dia tidak akan punya cara untuk bertahan hidup. Ibu mertua saya mengatakan bahwa putranya menganggapnya sebagai beban dan ia juga pernah mencoba untuk bunuh diri, untungnya, saya berhasil mencegahnya dan, sekarang dia memperlakukan saya seperti anak perempuan. Ketika putranya memukuli saya, dia akan melindungi saya dan berkata: ‘Jika kamu ingin memukuli anak perempuanku, pertama-tama kamu harus minta izin kepadaku,’ jadi, saya tidak bisa meninggalkannya sendiri. “

Saya menarik wanita malang itu di pelukanku, dan kemudian ikut menangis.Da sangat tertekan, situasi yang sulit, dan beban berat di pundaknya membuat kecurigaan saya pun sirnah.

Apa yang dapat sayalakukan ? Akhirnya, saya berdiskusi dengan suami saya dan memutuskan: Saya ingin Xiaoxia membungkus makanan tiga kali sehari dan mengirimkannya ke ibu mertua dan anaknya.

Dan dia juga bisa sering pulang untuk merawat mereka. Seorang anak membutuhkan kehadiran ibu, dan ibu mertua juga sulit untuk mengurus dirinya sendiri. Mereka lebih membutuhkan Xiaoxia daripada saya.

Akhirnya putri Xiaoxia juga datang ke rumah dan memanggil kami kakek dan nenek. Jadi mari kita hidup bersama seperti kerabat. Kebetulan saya juga tidak punya anak perempuan.

Kami telah bersama Xiaoxia sebagai sebuah keluarga selama hampir enam tahun, dan mereka telah memberi saya lebih banyak kebahagiaan dan kehangatan daripada yang saya berikan kepada mereka.(lidya/yn)

Sumber: starnews19

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular