Erabaru.net. India selalu menjadi negara magis, salah satu dari empat peradaban terbesar di dunia dan ekonomi terbesar kelima di dunia. Pada saat yang sama, India adalah negara dengan infrastrukturny sangat tidak sempurna.

Ketika banyak orang berpikir tentang India, itu adalah “kotor, berantakan, dan jorok”. Orang India terbiasa buang air kecil dan buang air besar sembarangan, ini benar-benar membuat turis dari banyak negara merasa tidak tahan. Oleh karena itu, lingkungan hidup seperti ini juga melahirkan profesi baru sebagai “penggali kotoran”.

Dapat dimaklumi bahwa Kota Mumbai di India, adalah kota metropolitan dengan populasi 20 juta jiwa dan terdapat sekitar 2 miliar liter limbah dibuang setiap hari.

Tempat pembuangan limbah ini tak lebih dari selokan atau Sungai Gangga. Namun jika hal ini dibiarkan, banyaknya limbah yang tidak bisa dibersihkan tidak hanya akan menimbulkan pencemaran lingkungan, bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia.

Saat ini, semua jenis limbah dibersihkan dengan cara manual dengan “tangan manusia”. Hanya orang-orang miskin yang mau melakukan pekerjaan kotor, dengan gaji rendah, dan tidak stabil seperti itu. Ada sekitar 30.000 orang di India , yang bekerja di sektor ini. Gaji bulanan mereka hanya 14.500 rupee( tak lebih Rp 3 juta)

Dan pekerjaan seperti itu masih merupakan sumber pendapatan yang sangat diperlukan bagi banyak orang untuk menghidupi keluarga mereka.

“Penggali kotoran” India memiliki upah terendah, dan lingkungan kerja mereka juga sangat keras. Peraltan kerja mereka sangat tidak mendukung. Tidak ada sarung tangan, tidak ada pakaian pelindung dan masker, jadi dia masuk ke saluran pembuangan tanpa perlindungan diri.

Perlu Anda ketahui, bahwa saluran pembuangan terbuka seperti ini adalah tempat pembuangan limbah besar, campuran dari segala jenis limbah, bahkan feses.

Jika Anda memasuki saluran pembuangan bawah tanah yang tertutup, resikonya akan lebih tinggi. Udara di saluran pembuangan tertutup, dan gas beracun memenuhi seluruh saluran pembuangan. Jika peralatan pelindung tidak dilengkapi dengan baik, resikonya setara dengan “kematian”.

Menurut laporan “New India Express”, pada 28 Januari tahun ini , dua “pembersih limbah” meninggal dunia saat memasuki saluran pembuangan. Menurut penelitian pihak berwenang yang dilakukan oleh departemen otoritatif di India sejak 2017, seorang “pembersih limbah” meninggal setiap lima hari di India.

Alasan terbesarnya adalah penyakit yang disebabkan karena alat pelindung di tempat kerja tidak tersedia. Pembersih limbah ini bekerja hanya bertelanjang di selokan karena tidak memiliki pakaian pelindung yang sempurna. Dalam jangka panjang, penyakit kulit t dan penyakit gastrointestinal serta penyakit lainnya juga akan muncul.

Faktanya, India memiliki “robot penggali kotoran” sejak tahun 2018 , namun karena harga robot yang tinggi, masih lebih murah untuk menggunakan tenaga kerja sebagai perbandingan.

Dan banyak pekerja pembersih limbahj tidak ingin pekerjaannya digantikan oleh robot, karena orang-orang yang yang bekerja di sektor ini adalah orang-orang kalangan bawah-miskin. Mereka tidak memiliki pendidikan atau keterampilan lainnya, membersihkan limbah adalah satu satunya hal yang dapat mereka lakukan.

Mungkinkah “pembersih limbah” di India hanya bisa melakukan pekerjaan kotor itu? Meskipun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, mereka dapat melakukan pekerjaan lain yang tidak mermerlukan keahlian. Misalnya, mereka dapat bekerja restoran untuk menyajikan hidangan, membersihkan jalan, atau Anda dapat mendirikan warung pinggir jalan.

Mengapa mereka harus terlibat dalam pekerjaan kotor, melelahkan, tidak menguntungkan, dan mengancam nyawa seperti ini?

Ini semua terkait dengan sistem kasta di India. Sistem kasta di India berasal dari abad ke-15 SM. Sistem kasta dibagi menjadi empat tingkatan. Brahmana sebagian besar adalah guru dan intelektual. Brahmana berada di puncak hierarki dan mengontrol sumber daya terbaik di masyarakat India.

Berikutnya adalah Kshatriya yang terutama para pejuang dan penguasa. Kemudian adalah anggota Vaisha yang sebagian besar adalah petani, pedagang dan pengusaha. Sudra adalah kasta yang paling rendah, yang melakukan semua pekerjaan kasar.

Di bawah masyarakat tersebut adalah Dalit, yang sering dikenal sebagai masyarakat yang “tak tersentuh”.

Dalam lingkungan sosial dengan sistem kasta yang berbeda seperti India, kehidupan seseorang pada dasarnya sudah diatur sejak lahir.

Ada seorang pemuda bernama Suni dalam film dokumenter tahun 2017 “membersihkan kotoran” di India . Ayahnya juga seorang “pembersih kotoran”. Tapi Suni tidak membenci ayahnya.

Dia mengatakan bahwa dia tahu ayahnya terlibat dalam pekerjaan kotor. Dia bangun dan bekerja dalam kegelapan setiap hari dan melakukan pekerjaan kotor, melelahkan dan bergaji rendah, dan bahwa dia tidak akan pernah melihat masa depan untuk sebua kehidupan yang baik.

Jenis kehidupan ini benar-benar membuatnya putus asa. Jika dia tidak membuat dirinya mati rasa terlebih dahulu, dia mungkin tidak akan bisa mempertahankan pekerjaannya itu.

Sebagai keturunan dari “pembersih limbah”, Suni tak ingin mengikuti jalan lama ayahnya. Dia ingin mengubah takdirnya lewat ilmu, maka dia giat belajar. Suni memperoleh total enam gelar dan masuk sekolah pascasarjana. (lidya/yn)

Sumber: homenews11

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular