Erabaru.net. Jika Anda mengatakan tidak percaya pada cinta, pasangan Gawie Fagan dan Gwen, yang telah hidup bersama selama 70 tahun ini, akan menunjukkan cinta mereka pada Anda.

Jika Anda mengatakan Anda tidak percaya pada kehidupan, mereka telah membangun membangun rumah dengan dengan pemandangan laut yang indah dengan tangan mereka sendiri, mereka ingin menunjukkan sesuatu yang indah kepada Anda.

Apa yang menurut banyak orang tidak mungkin, namun mereka membuat hal itu menjadi mungkin.

Ketika pasangan ini masih muda memakai semua tabungan mereka dan membeli tanah gersang di Pesisir Atlantik di Camps Bay, Cape Town, Afrika Selatan, meskipun teman-temanya telah melarangnya.

Pasangan lansia, berusia 90, dan telah hidup bersama hampir 70 tahun ini telah tinggal di rumah yang mereka dirikan selama 50 tahun, anak-anak telah beranjak dewasa, dan mereka masih menikmati satu sama lain dan menikmati masa tua mereka.

Mereka adalah keluarga dan kekasih seumur hidup. Pada usia 90 tahun, mereka pulang pergi bekerja bersama-sama dan menikmati kebersamaan setiap hari.

Ide untuk membangun rumah muncul dari Gawie Fagan ketika dia naik pesawat. Rumah impiannya adalah di spesisir Samudra Atlantik, dengan laut tak berujung di depannya dan pegunungan yang megah di belakangnya.

Memikirkan hal ini, dia begitu bersemangat sehingga dia buru-buru mengambil selembar kertas dan menggambarkan “rumah impian” yang ada di dalam pikirannya.

Desain pada karton ini telah dilestarikan, bahkan dia masukkan ke dalam bukunya.

Saat itu, dia telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun dan memiliki empat anak yang manis. Namun pasangan yang hampir berusia 40 tahun itu tidak punya uang dan tidak pernah punya rumah sendiri.

Dalam hatinya dia bersumpah: Memastikan istri dan anak-anak tinggal di rumah mereka sendiri.

Ketika temannya memberi tahu dia bahwa ada tanah kosong yang akan dijual di pesisir Samudra Atlantik, dia memikirkan “rumah impian” yang dia gambar di karton.

Tetapi teman-temannya semua menasihatinya untuk tidak membelinya, karena membeli sebidang tanah ini akan menghabiskan hampir semua tabungannya, dan akan menghabiskan uang untuk membangun rumah nanti.

Dia ragu-ragu, tetapi istrinya, Gwen, berbisik kepadanya,: “Karena ini adalah rumah masa depan, ayo kita bangun perlahan-lahan.”

Mereka lantas memutuskan untuk membeli tanah tersebut, untuk mewujudkan rumah impinya itu dengan tangan mereka sendiri.

Setelah seharian bekerja keras, kedua pasangan itu pulang ke rumah dan memimpin keempat anaknya yang pulang sekolah untuk membangun rumah mreka.

Ketika Gwen mencampur semen, empat anak, satu menambahkan air, satu menyekop pasir, dan dua lainnya memindahkan batu. Putra tertua berusia 12 tahun dan putri bungsu baru berusia 6 tahun.

Meskipun seluruh keluarga bekerja keras setiap hari dan merasa lelah, mereka tetap sangat bahagia berpikir bahwa mereka membangun rumah untuk mereka sendiri.

Meskipun anak-anaknya masih kecil, tapi Fagan membiarkan mereka berpartisipasi di dalamnya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawabnya, sehingga mereka merasa telah berkontribusi pada keluarga dan akan lebih mencintai keluarga di masa depan.

Fagan yang merupakan seorang arsitektur, mendesain atap berbentuk lengkung untuk rumahnya, menyuguhkan pemandangan laut yang indah, dan desain yang unik juga terlihat sangat menawan.

Selama dua tahun terakhir, setiap malam, setiap akhir pekan, mereka bekerja keras, tetapi seluruh keluarga sangat senang ketika melihat rumah itu mulai tampak bentuknya.

Rumah adalah tempat kehidupan, mereka menggunakan cinta untuk mendekorasi rumah dengan nyaman dan indah.

Saat Matahari sedang bersinar, Anda bisa membuka tirai agar semua orang bisa menikmati matahari, menghadap ke laut, dan melihat bunga musim semi bermekaran.

Di malam hari, mereka suka mengobrol di sekitar perapian, mereka juga memberi nama rumah mereka-Die Es yang berarti ‘perapian’.

Istrinya suka berenang, jadi Gawie membuat kolam renang untuknya di halaman belakang dengan sumber air dari laut Atlantik, sehingga dia bisa berenang di dalamnya selama waktu luangnya.

Mereka membuat semua furnitur sendiri di rumah, dan tinggal di dalamnya, penuh dengan cinta dan kenangan.

Kursi anyaman tua di samping tempat tidur diberikan oleh ibu Gwen ketika dia menikah, dan memiliki riwayat 70 tahun.

Pasangan itu suka bersantai di kursi anyaman dengan nyaman, berjemur di bawah sinar Matahari, membaca majalan dan juga koran.

Di ruang tamu yang besar, mereka memajang koleksi di furniturnya dan masing-masing memiliki cerita, tampilan acak dan pencahayaan alami membuat seluruh rumah terlihat hangat dan nyaman.

Gwen yang menyukai bunga dan tanaman juga mendesain sebuah taman kecil juga sekat ruangan yang penuh dengan bunga.

Bersama-sama, mereka menyaksikan bunga-bunga musim semi yang indah seiring usia mereka bertambah, yang begitu indah yang didambakan orang.

Rumah Putih itu menemani pertumbuhan keempat anaknya dan menyaksikan mereka pergi satu per satu. Tetapi pasangan yang berpikiran terbuka itu tidak merasa sedih.

Saat Gwen pergi merawat tanaman indahnya setiap hari, Gawie pasti akan berada di sisinya dan merawat taman bersama. Dua orang lansia, yang total berusia 180 tahun, bisa bermain di taman selama setengah hari seperti anak-anak.

Saat Matahari terbenam, keduanya menikmati pemandangan laut dari jendela setinggi langit-langit, dan berciuman di bawah pijaran cahaya emas.

Gawie tidak bisa menolak ajakan Gwen, dan pergi membantu istrinya membuka jendela sehingga dia juga bisa menikmati Matahari.

Salah satu alasan penting mengapa mereka bisa hidup rukun selama bertahun tahun adalah karena mereka selaras satu sama lain dalam jiwa mereka – mereka belum berhenti bekerja sampai mereka berusia 90 tahun, dan mereka masih pergi bekerja setiap hari.

Pasangan ini telah jatuh cinta selama 70 tahun, mereka memberi tahu kita bagaimana mencintai satu sama lain, dan juga membuat kita percaya bahwa cinta juga bisa menjadi hal seumur hidup! (lidya/yn)

Sumber: funnews61

Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular