NTDTV.com

Harga bijih besi Australia yang mendapat sanksi dari pemerintah komunis Tiongkok telah naik sejak  Desember tahun lalu. Harga bijih besi global telah mengalami kenaikan sekitar 50%. Analis komoditas berjangka dari Sina Finance percaya bahwa harga bijih besi akan tetap tinggi di tahun 2021 ini.

Pada 18 Mei, Jin Xiandong, direktur Kantor Riset Politik Komisi Pembangunan dan Reformasi Tiongkok mengatakan bahwa pihaknya menyarankan pemerintah untuk meningkatkan eksplorasi dan pengembangan sumber daya bijih besi dalam negeri. Pada saat yang sama, pihaknya juga sedang mendorong perusahaan dalam negeri untuk memperluas jalur impor bijih besi.

Dalam kenyataan, 60% persediaan bijih besi pemerintah komunis Tiongkok didatangkan dari Australia dan 20% diimpor dari Brasil. 

Tahun lalu, rezim Beijing memberlakukan serangkaian hukuman perdagangan terhadap Australia, termasuk membatasi impor bijih besi Australia sebagai “tamparan” gara-gara Australia menyerukan penyelidikan terhadap asal usul penyebaran virus covid 19. Namun malahan komunis Tiongkok sekarang yang kena batunya.

Meski pemerintah mengharapkan Brasil mampu menutupi ketergantungan Tiongkok terhadap bijih besi Australia, namun, karena dampak epidemi, pemrosesan dan ekspor bijih besi Brasil belum pulih.

Pada saat yang sama, permintaan bijih besi dari negara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Jepang meningkat, sehingga Tiongkok terpaksa membeli bijih besi Australia dengan harga tinggi.

Komentator Zhao Pei menilai, situasi ekonomi dunia sebelum epidemi berbeda dengan sekarang. Pada saat itu 20% rantai pasokan digenggam di tangan komunis Tiongkok. Tiongkok membutuhkan banyak baja. Pada saat itu banyak negara juga sedang berada dalam situasi kelebihan produksi baja, dan persediaan bijih besinya juga besar. Dengan demikian komunis Tiongkok merasa bahwa ia memiliki kekuatan untuk menentukan harga. Setelah tahun ini The Fed tidak menaikkan suku bunga, dan inflasi global terjadi, harga besi bijih pun naik. Baru kemudian komunis Tiongkok menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk menetapkan harga bijih besi. 

“Kekuatan itu masih berada di dolar Amerika Serikat, masih digenggam di tangan Amerika Serikat,” kata Zhao Pei.

Baja memiliki berbagai kegunaan, yang melibatkan industri seperti peralatan rumah tangga, mobil, dan perumahan. Sekarang, tindakan rezim Beijing menghukum Australia selain telah menaikkan harga bijih besi Australia, juga menghantam industri terkait dan industri hilir dalam negeri. 

Kenaikan tajam harga bahan baku telah memaksa banyak industri baja dan besi di daratan Tiongkok menghentikan produksi sampai adanya penyesuaian harga di pasar. Sampai ada produsen alat listrik di Guangdong yang mengeluarkan pemberitahuan untuk menangguhkan pesanan.

Zhao Pei mengatakan bahwa ulah keliru komunis Tiongkok itu telah menimbulkan kesulitan bagi rakyat Tiongkok dan perekonomian Tiongkok.

Yu Maochun atau Miles Yu, mantan pejabat senior Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat  mengatakan bahwa para pemimpin komunis Tiongkok tidak pernah membuat keputusan yang tepat.

Miles Yu menilai, para pemimpin komunis Tiongkok sering salah dalam menilai situasi. Di permukaan, tampaknya komunis Tiongkok sangat kuat, tetapi pada kenyataannya banyak hal di dalamnya yang sangat rapuh. 

“Xi Jinping ini adalah pemimpin yang lebih mengandalkan ideologi daripada fakta, Ia melihat masalah dari perspektif teori Marxis-Leninis. Ini sebenarnya sangat merugikan selain dirinya sendiri, tetapi juga rakyat Tiongkok,” kata Miles Yu. (sin)

 

Share

Video Popular