Erabaru.net. Tahun 2020 adalah tahun yang penuh malapetaka di seluruh dunia, namun ketika berganti tahun, ada yang melihat bulan merah langka pada 1 Januari 2021 di Taiwan selatan.

Sejak dahulu kala, baik di Timur maupun Barat, selalu menghubungkannya dengan hal-hal yang buruk seiring munculnya Bulan Merah atau Blood Moon.

Bahkan di Kitab Wahyu (ayat 16:12) tercatat sepenggal Sabda seperti ini: “…. ketika Dia membuka meterai yang keenam, dan lihatlah gempa besar terjadi, dan matahari menjadi hitam seperti karung yang terbuat dari rambut dan bulan menjadi seperti darah.”

Sabda ini digunakan untuk menggambarkan pertanda buruk dari matahari yang menjadi hitam dan bulan menjadi merah sebelum akhir dunia.

Secara kebetulan, setelah bulan merah pada tanggal 1 Januari 2021, gempa magnitudo 7.1 mengguncang Pulau Sulawesi, Indonesia, disusul dua gempa magnitudo 5 atau lebih di Taiwan pada bulan Februari, kemudian gempa magnitudo 7.2 menghantam di Jepang pada 20 Maret 2021, dan bahkan gunung berapi Fagradalsfjall, Islandia yang tertidur lelap selama 900 tahun kembali meletus pada 19 Maret 2021.

Karena bencana bumi yang silih berganti di seluruh dunia, banyak yang bertanya-tanya mungkinkah semua ini terkait dengan munculnya blood moon, bulan merah?

Menurut ramalan badan meteorologi, bulan merah terbesar tahun ini akan muncul pada 26 Mei 2021. Apakah ini menandakan akan ada bencana yang lebih besar?

Pada kesempatan ini, mata ketiga akan mengupas sejenak gabungan dari fenomena empat bulan merah sekaligus di dunia.

Pukul 6 sore tanggal 15 April 2014 silam, sebuah kapal feri Sewol sedang berlabuh di pelabuhan Incheon, Korea Selatan. Awalnya dijadwalkan Sewol akan berlayar tepat waktu pada pukul 6:30 malam dan tiba di Pulau Jeju keesokan harinya.

Tak disangka, saat kapal hendak berlayar, tiba-tiba muncul kabut tebal. Pusat kendali Pelabuhan Incheon menperingatkan jarak pandang yang rendah, dan meminta semua kapal untuk tidak berlayar.

Sampai pada pukul 8:35 malam, pusat kendali pelayaran akhirnya membatalkan peringatan kabut tebal dan mengizinkan Sewol untuk berlayar seperti biasa pada jam 9 malam.

Pada saat itu, Kapal Sewol mengangkut 476 orang, yang mayoritas adalah murid dan guru dari Danwon High School Kota Ansan yang melakukan perjalanan darmawisata.

Ini perjalanan kelulusan sekolah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Saat kapal hendak berlayar, rombongan siswa pun bersorak riang dan mengunggah banyak foto untuk mengabadikan momen bersejarah itu. Namun, siapa sangka, itu adalah perjalanan yang tak pernah kembali.

Pada pukul 08.40 pagi, para penumpang tengah menikmati sarapan yang disajikan di kafetaria. Pada saat yang bersamaan, kapal melalui memasuki Selat Maenggol yang terkenal memiliki arus bawah laut yang kuat. Tak lama saat memasuki anjungan, kapal dikendalikan oleh third mate yang belum berpengalaman dan harus menghadapi perairan paling menantang. Pada pukul 8.48 kapal tiba-tiba lepas kendali dan berbelok tajam ke kanan.

Karena sudut kemiringan yang tajam, banyak kargo yang diangkut di kapal dibuang ke laut. Menurut cerita korban selamat, banyak yang jatuh tersungkur karena gelombang kejut yang tiba-tiba.

Pukul 08.50, sistem penyiaran di Kapal Sewol memperingatkan para penumpang untuk berpegangan dan diam di tempat.

Saat itu, banyak penumpang yang mengira selama mengikuti instruksi itu, mereka akan selamat dari bencana itu, namun ternyata justru karena peringatan itulah para penumpang kehilangan kesempatan terakhir untuk menyelamatkan diri.

Sampai saat kapten meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri, banyak penumpang masih mengikuti instruksi tersebut, menunggu tim penyelamat, tetapi tak tahunya, yang menunggu mereka adalah perpisahan terakhir dengan dunia.

Ini juga merupakan kecelakaan kapal Korea Selatan terburuk sejak tahun 1970.

Dua hari setelah insiden kapal Sewol, gempa magnitudo 7,2 menghantam Meksiko, dan longsoran besar juga dilaporkan terjadi di puncak Gunung Everest pada hari yang sama. Menurut laporan media, total 16 orang tewas dalam kecelakaan itu.

Di saat orang-orang berangsur-angsur menyadari bahwa bencana baru-baru itu tampaknya terlalu sering terjadi. Beberapa orang kemudian mencermati bencana pertama di bulan April, yakni insiden bulan merah yang terjadi sehari sebelum tenggelamnya kapal feri Sewol. Dan itu bukan fenomena blood moon atau bulan merah biasa, melainkan… Gabungan empat bulan merah.

Terkait bulan merah, orang-orang dahulu kala memiliki pandangan seperti ini.

Munculnya bulan merah, adalah saat munculnya roh jahat, atau dengan kata lain, begitu bulan merah muncul, pasti akan diiringi roh jahat. Orang-orang pada masa itu percaya bahwa matahari melambangkan energi positif, dan bulan melambangkan energi negatif. Ketika bulan yang melambangkan energi negatif dinodai darah (warna merah), itu menandakan akan ada bencana alam atau akibat ulah manusia.

Selain itu, ada juga legenda tentang blood moon di Eropa. Menurut legenda, vampir atau werewolf / manusia serigala akan muncul saat munculnya blood moon atau bulan merah. Bahkan ada yang percaya jika digigit werewolf pada saat munculnya blood moon, maka orang tersebut tidak akan mati melainkan akan menjadi werewolf / manusia serigala berikutnya.

Selain legenda Timur dan Barat, bangsa Maya dan Mesopotamia kuno juga percaya bahwa sebelum munculnya kejahatan di dunia, ia akan menelan bulan terlebih dahulu, yakni bulan akan berubah menjadi merah.

Saat terjadi fenomena ini, suku bangsa Maya akan mulai mengadakan ritual khusus untuk mengusir kejahatan. Singkatnya, orang-orang dahulu kala ini yakin bahwa begitu bulan merah muncul, itu berarti bencana akan segera tiba, dan sebaiknya waspada.

Lalu, apa sebenarnya blood moon atau bulan merah itu?

Menurut para ahli, munculnya blood moon tidak berarti menyiratkan penuh bencana seperti yang dilegendakan, melainkan itu adalah fenomena alam yang normal. Blood Moon atau Bulan Merah adalah istilah untuk menyebut fenomena Gerhana Bulan Total.

Saat terjadi Gerhana Bulan Total, Bulan akan terlihat berwarna merah, seperti warna darah. Ahli mengatakan bahwa blood moon hanya akan muncul saat gerhana bulan total, ketika bumi berada di antara bulan dan matahari.

Saat sinar matahari menembus atmosfer bumi, akan memantulkan sebagian besar cahaya dan hanya cahaya merah yang bisa menembus atmosfer bumi, yang pada akhirnya jatuh ke permukaan bulan, sehingga menimbulkan fenomena blood moon.

Namun, meski para ahli telah menjelaskan bahwa blood moon adalah fenomena astronomi yang normal, banyak orang tetap saja was-was saat munculnya blood moon, dan orang-orang yang mendukung teori dari bencana blood moon ini bahkan mengatakan bahwa yang paling menakutkan bukan hanya satu blood moon, tetapi serangkaian empat bulan merah yang muncul bersamaan.

Kejadian setelah munculnya Blood Moon

Pada tanggal 3 Agustus 1492, penjelajah Kristoforus Kolumbus, di bawah dukungan keluarga kerajaan Spanyol, berangkat dari pelabuhan Palos de la Frontera, pantai selatan Spanyol.

Awalnya, Kolumbus berencana berlayar jauh ke barat menuju India, tapi tak disangka, dalam pelayarannya, Kolumbus tiba di Kepulauan Lucayan, benua Amerika. Di pulau ini, Kolumbus disambut hangat dari penduduk asli pulau tersebut. Pada saat itu, penduduk asli pulau itu tak menyangka, sosok orang yang mereka sambut dengan hangat dan ramah itu adalah sesosok iblis pencabut nyawa.

Pada tanggal 15 Maret 1493, Kolumbus kembali ke Spanyol dan melaporkan apa yang telah dilihatnya kepada keluarga kerajaan Spanyol.

Pada bulan September tahun yang sama, Kolumbus kembali berlayar dengan membawa lebih banyak orang dan kapal, tetapi kali ini bukan dengan status seorang tamu yang menerima sambutan hangat penduduk asli pulau itu, tujuannya kali ini adalah membawa kembali sejumlah besar penduduk asli itu untuk menjadi budak mereka.

Dalam prosesnya, suku asli pernah berada di atas angin, tetapi karena sebuah fenomena alam, mereka kehilangan kesempatan untuk mengubah nasib mereka. Menurut buku catatan Kolumbus, dia secara tidak sengaja jatuh ke tangan suku asli selama konflik pada tahun 1493.

Pada saat itu, Kolumbus dengan cerdik memanfaatkan fenomena bulan darah yang kerap muncul pada saat itu dan memberi tahu kepala suku dengan bahasa isyarat bahwa jika dia tidak segera dibebaskan, maka dia akan mengubah bulan menjadi merah.

Benar saja, bulan di langit ketika itu berubah menjadi merah seperti yang dikatakan Kolumbus. Melihat itu, suku asli pulau itu pun sangat ketakutan dan segera membebaskan Kolumbus, tetapi pembebasan ini akhirnya mentakdirkan nasib tragis pada penduduk asli Amerika, sehingga ada yang berpikir bahwa mungkin bulan merah pada saat itu sedang memperingatkan penduduk asli tentang bencana berdarah yang akan segera menimpa mereka.

Bencana bulan merah di era modern

Selain Kolumbus, ada juga catatan gabungan empat bulan merah selama tahun 1967, dan pada tahun itu terjadi Perang Enam Hari yang terkenal di dunia. Menurut statistik, perang yang terjadi secara tiba-tiba itu akhirnya menyebabkan kematian lebih dari 20.000 orang. Puluhan tahun kemudian atau tepatnya pada April 1986 bulan merah kembali muncul.

Dan pada tahun yang sama juga terjadi ledakan di PLTN Chernobyl yang menyebabkan sedikitnya 200.000 orang tewas karena penyakit kanker akibat dampak radiasi pada periode berikutnya. Bahkan SARS yang terjadi pada tahun 2003 juga meletus setelah munculnya 4 bulan merah.

Hal ini lagi-lagi membuat orang-orang merasa yakin bahwa begitu bulan merah muncul, akan selalu terjadi bencana buruk.

Menurut Badan Meteorologi, blood moon akan muncul kembali pada 26 Mei 2021, dan menurut NASA, empat bulan merah berikutnya akan muncul kembali antara 2032 dan 2033, sehingga banyak netizen yang khawatir, mungkinkah itu pertanda akan terjadi bencana yang lebih besar?

Terkait hal ini, seorang netizen mengatakan seperti ini. . .

“Bencana yang terjadi setelah blood moon itu mungkin hanya kebetulan. Bagaimanapun, dunia ini sangat besar dan terjadinya kecelakaan itu juga tak perlu merasa heran.”

“Sepertinya terlalu dipaksakan jika beranggapan akan ada bencana setelah blood moon.”

Sementara itu netizen lainnya mengatakan, tak peduli apakah blood moon itu fenomena alam atau pertanda tibanya bencana, dia hanya tahu bahwa ketika kita melihat kembali sejarah masa lalu karena masalah bulan merah, kita akan dapat menemukan kesalahan yang dilakukan oleh manusia pada saat itu dari bencana tersebut dan intropeksi diri agar jangan sampai terulang kembali.

Meskipun banyak tragedi saat ini, kita masih bisa menemukan sisi kebaikan dan saling membantu antar sesama ketika bencana melanda. Yang tidak baik kita singkirkan, dan yang baik harus selalu diingat, karena hanya dengan demikian, dunia kita akan menjadi lebih baik dan baik lagi. Jadi apakah bulan merah menyiratkan bencana, itu tidak penting lagi. (Johny/ rp)

Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular