Dorothy Li

Meskipun lonjakan belanja online didorong oleh karantina-karantina pandemi, saham-saham pengecer online besar Tiongkok — ​​yang telah melonjak ke rekor tertinggi pada bulan Februari — turun tajam di tengah langkah-langkah pengendalian rezim Tiongkok yang lebih ketat.

Saham perusahaan e-commerce Pinduoduo kini diperdagangkan turun 41,6 persen dari puncaknya pada pertengahan Februari, ditutup pada usd 118,33 pada  17 Mei, yang berarti kapitalisasi pasar menghilang sebesar usd 100,8 miliar.

Pada  10 Mei, Dewan Konsumen Shanghai memanggil perwakilan Pinduoduo untuk rapat dan membahas masalah-masalah seperti kualitas produk dan layanan purna-jual. Saham Pinduoduo yang terdaftar di Nasdaq merosot lebih dari 9 persen sehari kemudian.

Platform e-commerce lainnya, JD.com dan Alibaba Group Holding, juga melihat para investor kecewa dengan prospek-prospek pertumbuhan pihaknya yang buruk karena tindakan keras yang meluas di raksasa-raksasa internet Tiongkok. 

Saham JD.com yang terdaftar di Nasdaq  turun lebih dari 36 persen sejak saham JD.com mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tanggal 17 Februari. Saingannya, saham Alibaba yang terdaftar di NYSE merosot sekitar 32 persen sejak bulan November lalu, menguap lebih dari usd 268,9 miliar.

Saham Alibaba mengalami tren turun sejak Jack Ma, pendiri dan mantan CEO Alibaba, mengkritik para regulator di depan umum. Pada 13 Mei, Alibaba melaporkan  kerugian kuartal pertama sebesar usd 1.170 juta sejak Alibaba go public pada tahun 2014, setelah rezim Tiongkok menampar Alibaba dengan rekor denda antitrust sebesar usd 2,8 miliar pada  10 April.

Salvo peristiwa-peristiwa ini menandai awal kampanye rezim Tiongkok untuk mengekang pengaruh raksasa-raksasa internet yang tumbuh di dalam negeri, seperti Alibaba, yang melayani lebih dari 8 juta pengguna aktif di platform e-commerce-nya.

Platform-platform internet Tiongkok bergerak dalam layanan keuangan, bimbingan belajar, pengiriman makanan, dan ritel semuanya berada di bawah pengawasan baru-baru ini, dengan banyak denda, diperlukan untuk memperbaiki praktik-praktik platform-platform tersebut. Bahkan platform-platform tersebut diminta untuk melakukan restrukturisasi.

Saham di Meituan, platform pengiriman makanan berdasarkan permintaan terbesar di Tiongkok, ditutup pada level terendah dalam 7-bulan pada 14 Mei, karena pengawasan publik meningkat.

Dalam sebuah pertemuan pada  14 Mei, delapan regulator Tiongkok meminta Meituan Chuxing (sebuah unit Meituan), layanan peta Alibaba, AMAP, dan delapan lagi pemimpin transportasi sesuai permintaan, untuk menghentikan praktik-praktik mulai dari praktik kenaikan harga yang sewenang-wenang hingga perlakuan yang tidak adil terhadap para pengemudi.

Sehari sebelum  10 Mei, perwakilan Meituan dipanggil ke sebuah  pertemuan oleh regulator Shanghai. Tidak lama kemudian, saham Meituan yang terdaftar di Hong Kong turun sebanyak 9,8 persen pada hari berikutnya.

Pada 29 April, Meituan dan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya yang menawarkan layanan keuangan, diberitahu untuk mendapatkan izin-izin dan untuk merestrukturisasi sayap-sayap keuangannya sebagai perusahaan-perusahaan induk. 

Sebanyak tiga puluh empat raksasa teknologi, termasuk Meituan dan JD.com, juga telah dipanggil ke sebuah pertemuan pada  13 April oleh para regulator Tiongkok, yang memperingatkan perusahaan-perusahaan tersebut untuk “memperhatikan pelajaran-pelajaran dari kasus Alibaba.” (Vv)

 

Share

Video Popular