oleh Li Yun

Situs resmi Pusat Medis Houston dari Universitas Texas di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa sejumlah pasien yang didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok atau Covid 19 mengalami pembesaran ukuran lidah setelah kondisi mereka membaik. Banyak lidah pasien yang membesar, sehingga tidak dapat berbicara atau makan.

Ilmuwan yang bertanggung jawab atas penelitian dan pengobatan penyakit ini mengatakan bahwa saat ini ada 9 kasus keadaan seperti itu terjadi di Houston, Texas. 8 penderita  di antaranya adalah warga berkulit hitam. Tidak jelas apakah kasus ini terkait dengan ras.

Menurut para ahli, penyakit pembesaran lidah umum terjadi karena peradangan pada lidah. Namun, ini sangat jarang terjadi pada pasien yang sembuh dari COVID-19 dan tampaknya cukup serius.

Ahli  mengatakan bahwa salah satu pasien menggunakan respirator selama infeksi, tetapi setelah sembuh, ia menemukan bahwa lidahnya mulai membengkak, dan membengkak hingga beberapa kali ukuran lidah orang normal. Bahkan jika dokter mengurangi dosis obat baginya pun tidak membaik, akhirnya lidah yang berlebihan harus diangkat melalui operasi bedah.

Lebih jauh para ahli menyatakan bahwa hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari pembesaran lidah pasien. Namun mereka memperkirakan bahwa hal itu mungkin berkaitan dengan respons sistem kekebalan terhadap virus tersebut, sehingga mengakibatkan pembengkakan pada organ tubuh. Sesungguhnya banyak gejala “buntut” mengikuti para pasien yang secara medis dinyatakan sembuh dari infeksi virus komunis Tiongkok. 

Studi epidemi pneumonia komunis Tiongkok yang diterbitkan di Korea Selatan pada bulan September tahun lalu menemukan bahwa ada sekitar 90% dari pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok di negara itu yang secara medis dinyatakan sembuh mengalami paling sedikit 1 gejala “buntut”. Gejala itu termasuk kelelahan, gangguan psikologi atau depresi mental, dan hilangnya indera penciuman atau rasa.

Pada  November tahun yang sama, sebuah survei yang dilakukan oleh Universitas Oxford terhadap sejumlah besar pasien yang dikonfirmasi positif COVID-19 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hampir seperlima dari pasien itu mengalami gangguan mental dalam waktu 3 bulan setelah diagnosis. Pasien yang sudah pulih lebih mudah mengalami kecemasan. Gejala seperti depresi dan insomnia, 2 kali lebih tinggi daripada pasien bukan terinfeksi virus komunis Tiongkok.

Pada 9 Januari tahun ini, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh tim medis daratan Tiongkok  dalam jurnal medis ‘The Lancet’ menunjukkan bahwa, hampir 80% dari 1.733 orang pasien yang dipulangkan dari Rumah Sakit Wuhan Jinyintan pada periode antara 7 Januari hingga 29 Mei mengalami gejala “buntut”.

Gejala itu seperti kelemahan otot, kelelahan fisik, insomnia, kecemasan, depresi, dan fungsi ginjal yang abnormal.

Media Inggris ‘BBC’ juga melaporkan bahwa lebih dari 300 penelitian dari seluruh dunia menemukan bahwa gejala “buntut” yang menyertai pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok adalah kelainan saraf, gejala ringan seperti sakit kepala, kehilangan indera penciuman, kesemutan. Ada juga gejala parah seperti gangguan berkomunikasi (afasia), stroke dan epilepsi. Bahkan merusak ginjal, hati, jantung dan hampir semua organ tubuh.

Laporan itu menyebutkan seorang dokter menerima beberapa pasien ICU di Rumah Sakit Universitas Strasbourg pada awal bulan Maret tahun lalu.

Setelah terinfeksi penyakit, pasien-pasien ini sangat gelisah, tidak hanya mengalami kesulitan bernapas, tetapi banyak juga yang memiliki masalah neurologis, terutama kebingungan dan delirium yakni sulit memusatkan perhatian dan menjadi linglung.  Beberapa pasien mudah tersinggung dan membutuhkan obat penenang. Banyak pasien yang masih sangat muda, bahkan ada pasien yang berusia 18 tahun.

Sejak virus komunis Tiongkok merebak dari Kota Wuhan pada akhir tahun 2019, pemerintah komunis Tiongkok terus menyembunyikan fakta tentang wabah yang terjadi sehingga menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. 

Sejauh ini, lebih dari 160 juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 3,6 juta orang telah meninggal akibat terinfeksi virus komunis Tiongkok. Terlebih lagi, wabah ini masih jauh dari mereda, dan telah bermutasi menjadi berbagai varian virus yang lebih menular dan terus menyebar ke berbagai negara. Hal ini membuat situasi pencegahan dan pengendalian pandemi global ini semakin sulit dan mahal. (sin)

Share

Video Popular