Erabaru.net. Seorang koki Australia yang buta akibat kanker telah mewujudkan mimpinya. Dia membuka kafe yang bisa dikunjungi semua orang, termasuk orang cacat. Ini membuktikan bahwa selama orang mengambil keputusan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan.

Craig Shanahan 29 tahun dari Sydney, Australia, menghabiskan satu tahun membangun restorannya bernama “Blind Chef Cafe and Dessert Bar” (Kafe koki buta dan bar makanan penutup” yang akhirnya dibuka tahun ini, pada tanggal 12 April lalu.

“Merupakan hal yang besar untuk membuat kedai kopi seperti sekarang ini,” kata Craig saat konferensi pers. “Ingin memulai bisnis Anda sendiri adalah satu hal, tetapi mengambil tindakan untuk mewujudkannya adalah hal lain.”

Jalan untuk mencapai impian tidak berjalan mulus. Pada usia 2 tahun, Craig didiagnosis menderita tumor ganas di belakang mata kirinya. Menurut laporan “Daily Mail”, pada tahun-tahun berikutnya, dokter Craig mencoba menemukan obatnya, tetapi tidak berhasil. Craig, yang masih anak-anak, kehilangan mata kirinya pada usia 5 tahun.

Setelah itu, Craig memulai perjalanannya menjadi koki magang dan terdaftar di TAFE NSW Nepean, menyelesaikan memasak komersial tingkat kedua dan ketiga.

Setelah lulus, dia bekerja di Bella Vista Hotel dan restoran The Morrison di Sydney CBD dan menjadi koki yang berkualitas.

Namun, tak lama setelah tahun 2014, dia menemui kesulitan lain. Pada usia 23 tahun, Craig menjadi buta karena meningioma dan kemudian, dia harus melepaskan pekerjaan penuh waktunya sebagai koki dan sembuh dari penyakit di bulan-bulan berikutnya, ditemani oleh anjing pemandunya, Rocko.

“Ketika saya buta, saya menemukan diri saya selalu tidak nyaman … Banyak kafe yang sangat kecil, dengan meja dan kursi di mana-mana,” kata Craig dalam sebuah wawancara dengan Western Weekend. “Saya berbicara dengan teman-teman buta lainnya. Semakin banyak Anda berbagi cerita, semakin Anda menyadari bahwa mereka akan merasa tidak nyaman saat pergi keluar. “

Pengalaman dan situasinya saat itu menginspirasinya untuk membuat kafe sendiri yang akan membuat para penyandang disabilitas merasa diterima, dan lahirlah Blind Kitchen Cafe dan Dessert Bar ini.

Craig kemudian kembali ke TAFE dan menyelesaikan kursus manajemen hotel dan diploma lanjutan untuk memulai bisnisnya sendiri.

Namun fakta membuktikan bahwa mempersiapkan membuka restoran saat wabah adalah sangat sulit.


Pada 2019, dia telah menemukan restoran Thailand di High Street, hanya beberapa hari sebelum peminjaman modal bank diselesaikan, epidemi yang disebabkan oleh wabah virus corona pun dimulai.

Karena situasi ini, pinjaman bank Craig ditangguhkan. Tetapi dia harus terus membayar sewa 6.000 dolar Australia (sekitar Rp 66 juta), dia hanya dapat menerima uang tunjangan untuk orang cacat sebesar 945 dollar australia (sekitar Rp 10 juta ) yang merupakan satu-satunya penghasilannya pada saat itu.

Selama masa stres ini, dia menghabiskan 90.000 dolar Australia (sekitar Rp 1 miliar ) untuk membeli restoran dan membayar biaya hukum. Seorang temannya membantunya membuat halaman untuk situs web crowdfunding, GoFundMe. Orang-orang membantu Craig melalui donasi dan layanan gratis.

“Ada banyak perusahaan yang telah memberikan bantuan. Tanpa mereka, semua ini tidak akan terjadi,” Craig mengatakan.

Akhirnya, ketika semuanya mulai kembali normal, Craig membuka pintu kafenya di Penrith High Street. Tunanetra dan penyandang cacat yang menggunakan kursi roda dapat bergerak dengan mudah di ruang yang unik ini.

“Saya tahu tantangan yang mungkin dihadapi beberapa orang penyandang disabilitas, dan bagaimana tantangan ini mempengaruhi kemampuan Anda untuk melakukan hal-hal sederhana, seperti pergi ke rumah untuk minum kopi atau bahkan pergi ke kamar mandi,” kata Craig pada konferensi pers “Saya telah mempersiapkan diri untuk situasi ini, dan dengan tulus berharap semua orang dapat menikmati waktu di ” Blind Chef Cafe and Dessert Bar.

Craig menambahkan bahwa dia berharap restorannya akan menginspirasi orang lain untuk mengejar impian mereka.

“Ini adalah pekerjaanku,” katanya. “Tetapi ini juga cara bagiku untuk melayani masyarakat, menunjukkan bahwa siapa pun dapat melakukan apa yang mereka inginkan.”

Sungguh pria yang penuh inspirasi, dengan keterbatasannya tidak menyerah untuk menggapai impiannya. (lidya/yn)

Sumber: Epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular