oleh Li Ming

Media kiri di Amerika Serikat pernah menuding bahwa kasus virus Komunis Tiongkok atau Covid 19 adalah  teori konspirasi. Belakangan  secara diam-diam mereka merevisi pernyataan mereka  untuk menghilangkan kesan “teori konspirasi”.

Sejak akhir tahun 2019 virus komunis Tiongkok atau COVID-19 menyerang warga di Kota Wuhan, Tiongkok. Rumor bahwa virus mungkin telah bocor dari Laboratorium dalam Institut Virologi Wuhan beredar luas. Tetapi media kiri di Amerika Serikat dengan tegas menyebutnya sebagai informasi yang salah atau teori konspirasi. 

Namun belakangan ini, rumor itu justru yang lebih diakui kebenarannya oleh para ahli dan politisi Amerika Serikat. Media kiri juga secara diam-diam mulai merevisi pernyataan mereka yang keliru di masa lalu untuk menghilangkan kesan “teori konspirasi”.

Blog keuangan Amerika Serikat ‘Zero Hedge’ pada 25 Mei melaporkan bahwa sejak  Maret 2020, media internet sayap kiri Amerika ‘Vox’ yang dengan gencar mengecam dan membantah soal virus komunis Tiongkok  menyebar akibat terjadinya kebocoran di laboratorium virus Wuhan, dan menuding itu sebagai teori konspirasi. 

Tapi sekarang , ‘Vox’ secara diam-diam mulai menghapus dan memodifikasi artikel ini.

Media internet sayap kiri Amerika ‘Vox’ diam-diam mengubah beberapa artikel asli yang menyangkal laboratorium sebagai sumber terjadinya kebocoran virus komunis Tiongkok yang ditemukan orang kemudian diungkapkan. (foto pengguna Tweet @ paulg)

Menurut laporan tersebut, blogger dan pakar investasi Amerika Paul Graham menemukan dan mencatat cara ‘Vox’ secara diam-diam menghapus dan memodifikasi artikel sebelumnya. Misalnya, Vox diam-diam menghapus kalimat, “Virus jelas bukan berasal dari laboratorium Wuhan”, atau mendeskripsikan virus komunis Tiongkok di kota tempat laboratorium Institut Virologi P4 Wuhan berada. Dulu Vox menulis is pure coincidence atau  “suatu kebetulan murni”  sekarang diganti menjadi appears to be pure coincidence atau “tampaknya kebetulan murni”  dan seterusnya.

Baru-baru ini, semakin banyak politisi Gedung Putih dan anggota Kongres telah menyuarakan keraguan mereka bahwa virus yang menyebabkan pandemi COVID-19 mungkin telah bocor dari laboratorium virus Wuhan. 

Pada saat yang sama, beberapa ahli yang dimasa lalu bersikeras mengatakan bahwa virus pneumonia Wuhan terjadi secara alami sekarang juga telah mengubah retorika mereka. Yang paling representatif adalah Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Penyakit Alergi dan Infeksi (NIAID).

Fauci dalam sebuah artikel yang diterbitkan National Geographic Mei 2020 mengklaim bahwa semua bukti dengan kuat menunjukkan virus yang menyebabkan pandemi COVID-19 berasal dari alam. Dia tidak menerima pernyataan bahwa virus tersebut berasal dari kebocoran laboratorium berdasarkan bukti ilmiah yang ada. 

Namun, dalam wawancara video baru-baru ini dengan Katie Sanders, pemimpin redaksi situs pengecekan fakta ‘PolitiFact.com’ Fauci mengubah ucapannya menjadi dia tidak percaya bahwa virus komunis Tiongkok itu berkembang secara alami. 

“Tidak, saya tidak percaya. Saya pikir kita harus terus melakukan penyelidikan terhadap apa yang terjadi di Tiongkok, kita harus mencoba yang terbaik untuk mencari tahu apa yang terjadi,” kata Fauci.

Situs pengecekan fakta ‘PolitiFact.com’ yang berhaluan kiri baru-baru ini juga menghapus sebuah kesimpulan tentang Verifikasi Informasi.

Laporan ‘Zero Hedge’ menunjukkan bahwa dalam setahun terakhir ini, manajemen media sosial di Amerika Serikat telah memutuskan untuk menghilangkan anggapan tentang virus bocor dari laboratorium Wuhan sebagai informasi yang salah dan teori konspirasi. Katanya hal ini dapat menghalangi publik untuk memahami fakta dan kebenaran. 

Namun kini semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa yang dianggap teori konspirasi itu justru yang patut dipercaya dan sangat mungkin itu adalah fakta.

Pada 24 Mei, ‘Wall Street Journal’ yang mengutip laporan intelijen pemerintah Amerika Serikat memberitakan bahwa berdasarkan file rahasia yang belum dipublikasikan sebelumnya, bahwa tiga orang peneliti dari Institut Virologi Wuhan telah dirawat di rumah sakit karena terjadi gejala penyakit yang mirip COVID-19 pada November 2019 silam.

Sebelumnya, pemerintah komunis Tiongkok selalu memberi pernyataan publik bahwa kasus pertama pneumonia Wuhan baru ditemukan pada awal  Desember 2019.

Menurut Wall Street Journal, rincian tentang waktu spesifik ketika ketiga orang peneliti sakit dan kunjungan mereka di rumah sakit yang diungkapkan pihak intelijen telah melebihi penjelasan yang disampaikan oleh Dewan Negara dalam laporan pengarahan yang dikeluarkan beberapa hari menjelang berakhirnya pemerintahan mantan presiden  Amerika Serikat Donald Trump.

Laporan tersebut percaya bahwa pengungkapan konten ini akan menimbulkan lebih banyak seruan untuk melakukan penyelidikan yang lebih komprehensif tentang apakah virus komunis Tiongkok telah bocor dari laboratorium Wuhan. 

Diharapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merupakan badan pembuat keputusan akan membahas tahap investigasi lanjutan untuk mengungkap asal-usul virus komunis Tiongkok ini pada pertemuan berikutnya. (sin)

 

Share

Video Popular