oleh He Yating

Komunis Tiongkok memblokir akses Taiwan mendapatkan vaksin. Namun pesawat udara yang mengangkut batch vaksin lolos, setelah mengubah arah penerbangannya guna menghindari gangguan dari komunis Tiongkok.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi terinfeksi virus komunis Tiongkok (COVID-19) di Taiwan terus meningkat pada akhir-akhir ini. Kekurangan vaksin menjadi semakin menonjol. Tetapi pemerintah komunis Tiongkok justru memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan pemerintahan Taiwan dengan memblokir akses mendapatkan vaksin. 

Namun, pada  Jumat 28 Mei, 150.000 dosis vaksin buatan perusahaan Moderna Amerika Serikat (mRNA-1273) mendadak tiba di Taiwan. Kabarnya, pesawat udara yang mengangkut batch vaksin ini sengaja mengubah arah penerbangannya guna menghindari gangguan dari pemerintah komunis Tiongkok.

Menurut laporan media Taiwan, ada 150.000 dosis vaksin Moderna berangkat dari Luksemburg pada 28 Mei dini pagi dan mendarat di Bandara Taoyuan Taiwan pada pukul 16:32 waktu setempat. 

Chen Shih-chung, Menteri Kesehatan Taiwan merangkap komandan Pusat Komando Epidemi Taiwan mengatakan kepada media bahwa kumpulan vaksin ini akan diuji dalam 2 minggu ke depan. Hal tersebut dimaksudkan, agar sesegera mungkin dapat diberikan kepada personel medis lini pertama atau subjek vaksinasi kelas satu lainnya yang diprioritaskan.

Menurut laporan media Taiwan ‘Liberty Times’, agar vaksin dapat tiba dengan selamat di Taiwan, pesawat kargo milik China Airlines terpaksa melakukan perubahan rute penerbangan dengan maksud menghindari zona informasi penerbangan komunis Tiongkok. Karena itu, waktu terbang pesawat ini bertambah sekitar 1 jam 13 menit dibandingkan kondisi normalnya, dan menghabiskan tambahan bahan bakar sebanyak 22.000 pon.

Ada komentator yang mengatakan bahwa Taiwan membeli vaksin mirip dengan film tentang perang spionase dengan komunis Tiongkok. Vaksin tampaknya telah menjadi “bom nuklir ofensif dan defensif politik” antara komunis Tiongkok dengan Taiwan.

Sebelumnya, Chen Shih-chung pernah mengungkapkan kepada media bahwa Taiwan pada beberapa waktu lalu telah bernegosiasi dengan perusahaan bioteknologi Jerman , BioNTech (BN) untuk membeli vaksin BNT yang dikembangkan oleh perusahaan tersebut bersama perusahaan Pfizer Amerika Serikat. 

Sebenarnya kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan, namun karena gangguan pemerintah komunis Tiongkok, tiba-tiba terjadi perubahan pada saat-saat terakhir.

Chen Shih-chung mengungkapkan dalam konferensi pers pada 27 Mei, bahwa sejak bulan Agustus tahun lalu, instansi terkait Taiwan telah melakukan negosiasi pembelian vaksin dengan BioNTech. Tetapi kontrak baru diselesaikan oleh kedua belah pihak pada awal bulan Januari tahun ini. Namun BioNTech tiba-tiba meminta dilakukan diskusi ulang dan menunda penandatanganan kontrak selama 15 pekan dengan alasan bahwa dalam kontrak berbahasa Mandarin, Taiwan menggunakan sebutan “negara”. 

Shih Jin-Chung, seorang ahli kandungan dan ginekolog terkenal dari National Taiwan University Hospital, dalam pesan yang diposting di Facebook pada 27 Mei malam menyebutkan bahwa banyak orang di Taiwan mengkritik pemerintah Taiwan yang mengklaim telah memesan 30 juta dosis vaksin, namun belum 1 juta dosis pun yang tiba di Taiwan. 

Tetapi pada kenyataannya, pemerintah Taiwan telah bekerja dengan profil rendah, tetapi tidak ada pihak dalam negosiasi yang mengungkapkannya kepada media.

Shih Jin-Chung juga menyebutkan bahwa 10 hari sebelumnya, seorang teman asing mengirimkan video konferensi anggota Parlemen Uni Eropa dengan Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu. Keesokan harinya, vaksin AZ langsung lepas landas dari Amsterdam, Belanda, dan tiba di Taiwan 2 hari kemudian.

Media Taiwan ‘Newtalk’ melaporkan pada 28 Mei bahwa pada saat bernegosiasi dengan partai di legislatif Yuan, Chen Shih-chung pernah menyebutkan, ada total 10 juta dosis vaksin yang akan masuk ke Taiwan pada akhir bulan Agustus. Diharapkan setidaknya 60 % warga Taiwan sudah dapat menerima vaksin bertahap.

Data yang dirilis oleh Pusat Komando Epidemi Taiwan, menyebutkan bahwa sejauh ini sudah ada 6.761 orang Taiwan yang dikonfirmasi tertular virus komunis Tiongkok. 59 orang di antaranya telah meninggal dunia. (sin) 

 

Share

Video Popular