oleh Zheng Gusheng

Shi Zhengli, seorang peneliti di Wuhan Institute of Virology (WIV), Tiongkok beserta rekan lainnya selama ini terus berusaha membantu pemerintah komunis Tiongkok memalsukan bukti untuk menutupi kebenaran dengan pernyataan bahwa virus SARS-CoV-2 merupakan virus alami bukan virus buatan laboratorium Wuhan. Baru-baru ini, tiga karya tulis disertasi peneliti WIV yang tidak diterbitkan telah terungkap, namun isinya berbeda dengan pernyataan yang disampaikan Institut tersebut kepada masyarakat.

Pada 13 Mei, akun ilmuwan anonim di Twitter yang kerap membocorkan konten sensasional telah mengungkap 3 karya tulis disertasi peneliti di Wuhan Institute of Virology (WIV) yang belum diterbitkan. Karya ilmiah ini ditulis dalam bahasa Mandarin, termasuk satu disertasi doktor dan dua disertasi magister dengan waktu pembelaan yang masing-masing tercatat pada tahun 2014, 2017 dan 2019.

Pada 14 Mei, media Prancis ‘Le Monde’ menganalisis sejumlah keraguan yang terdapat dalam karya tulis ini. Dengan mengutip analisis yang dibuat seorang ahli, ‘Le Monde’ melaporkan bahwa isi makalah tersebut tampaknya bertentangan dengan beberapa pernyataan yang dibuat oleh WIV sebelumnya. 

Hal ini menimbulkan keraguan terhadap sejumlah data seperti sifat dan jumlah virus korona yang disimpan laboratorium WIV, percobaan yang dilakukan terhadap virus-virus itu, juga tentang keutuhan urutan gen virus yang dirilis, dan lainnya yang sebelumnya hanya diterima begitu saja oleh komunitas ilmiah internasional.

Salah satu kontradiksi melibatkan apa yang disebut urutan virus RaTG13 . Urutan RaTG13 ini adalah ciptaan WIV. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Inggris ‘Nature’ pada  Februari 2020 para peneliti dari Institut tersebut menyatakan bahwa urutan virus RaTG13 tersebut memiliki homologi setinggi 96,2% dengan SARS-CoV-2.

Beberapa minggu setelah makalah diterbitkan, seorang ahli mikrobiologi Italia melaporkan bahwa sebagian kecil dari genom RaTG13 sudah pernah diterbitkan oleh peneliti Wuhan pada tahun 2016, tetapi pada saat itu tidak disebut RaTG13, melainkan Ra4991. 

Pada  Juli 2020, ketika Shi Zhengli menerima wawancara reporter majalah American ‘Science’, juga mengklaim bahwa keduanya adalah virus yang sama, hanya saja RaTG13 baru digunakan untuk menggantikan Ra4991 pada tahun 2020 setelah wabah mendunia.

Namun, para ahli menemukan bahwa Ra4991 yang tertera dalam karya tulis dengan waktu pembelaan pada tahun 2019, tidak persis sama dengan urutan RaTG13 yang diterbitkan pada karya tulis tahun 2020.

Adapun mengapa ada perbedaan antara urutan yang seharusnya sama, WIV tidak bersedia menanggapi pertanyaan dari ‘Le Monde’.

Qin Peng, komentator di Amerika Serikat dalam pesannya di Twitter menyebutkan bahwa RaTG13 ini mungkin sengaja dibuat oleh Shi Zhengli dan rekannya guna menipu dunia.

Sebelumnya, Yan Limeng, seorang ahli virus Tiongkok di pengasingan juga secara blak-blakan menyatakan bahwa rangkaian virus seperti RaTG13, dibuat oleh pihak berwenang komunis Tiongkok untuk menunjukkan bahwa virus korona yang menyebabkan radang paru-paru itu berasal dari alam, alias bukan buatan laboratorium.

‘Le Monde’ mengutip analisa para ahli menunjukkan bahwa kelengkapan dari urutan RaTG13 adalah inti dari banyak masalah. Karena data asli yang dikeluarkan oleh WIV tidak cukup untuk merekonstruksi genom tersebut. 

Komunitas ilmiah telah lama meminta Institut untuk menjelaskan bagaimana mereka memperoleh urutan lengkap RaTG13. Namun, WIV dengan alasan bahwa mereka sudah tidak lagi memiliki sampel biologis yang sesuai, sehingga mustahil untuk melakukan pengurutan ulang.

WIV atau Institut Virologi Wuhan pernah mengklaim bahwa RaTG13 dikumpulkan dari goa kelelawar di sebuah tambang yang ditinggalkan di Mojiang, Yunnan pada musim semi tahun 2012. Sedangkan laporan publik menunjukkan bahwa pada musim semi 2012 itu, ada 6 orang pekerja tambang tersebut terinfeksi penyakit paru-paru dengan gejala yang mirip dengan SARS, dan 3 orang di antaranya meninggal dunia.

Pada  November 2020, di bawah tekanan opini publik, WIV menerbitkan sebuah artikel di majalah ‘Nature’ dengan menyebutkan bahwa mereka telah menerima dan menganalisis 13 sampel darah dari 4 orang pekerja di area pertambangan Mojiang yang sakit pada tahun 2012. Akan tetapi, tidak mendeteksi adanya tanda-tanda mereka terinfeksi oleh virus korona jenis baru yang kemudian dinamakan Covid-19 atau virus komunis Tiongkok.

Namun demikian, dalam pembelaan disertasi magister tahun 2014 justru tertera bahwa WIV saat itu menerima 30 sampel darah, bukan 13 sebagaimana disampaikan dalam majalah ‘Nature’ yang kemudian dilakukan analisa semuanya.

Di antara tiga karya tulis di atas, disertasi doktor tahun 2017 memiliki tingkat teknis tertinggi, ia menjelaskan bagaimana menggunakan teknologi konstruksi virus chimeric untuk mencangkok virus korona yang berbeda guna menguji infektivitas berbagai virus korona pada sel manusia atau hewan.

Sejak lama pemerintah komunis Tiongkok, dituduh menggunakan virus mematikan untuk membuat senjata biologis. Saat ini, kian banyak komunitas internasional yang semakin tidak ragu menganggap bahwa virus komunis Tiongkok yang menjadi wabah dunia ini bocor keluar dari laboratorium P4 WIV. Karena itu seruan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh semakin gencar didengungkan. (sin)

Share

Video Popular